Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Tidak rela pergi


"Kau ingin kemana?" Tanya Kyara menanyakan maksud Gerry saat mengatakan pamit pergi.


"Ke hotel tempat biasa aku menginap. Besok pagi aku harus sudah kembali ke kota." Jelas Gerry.


Kyara sejenak menatap wajah Gerry yang nampak lelah. "Istirahatlah di sini saja. Kau bisa berbagi ranjang denganku. Ya walau pun ranjangku tak sebesar ranjangmu di mansion."


"Apa kau yakin?" Tanya Gerry. Karna ia begitu sungkan jika Kyara akan risih dengan kehadirannya.


"Tak masalah. Asisten Jimmy juga bisa menempati kamar tamu. Lagi pula kamar di sini sudah dilengkapi pendingin ruangan semua bukan?" Tanya Kyara mengingat jika Kakek Surya berkata untuk mengizinkan Gerry menyuruh orang melengkapi setiap kamar dengan pendingin ruangan. Apa lagi dengan kehadiran Baby Rey yang juga membutuhkannya.


"Baiklah." Putus Gerry.


"Istirahatlah lebih dulu. Aku ingin ke bawah menghampiri Rania selagi Rey masih tidur."


Gerry mengangguk dan kembali meletakkan tas dan ponselnya di atas nakas.


*


Pukul 6 pagi Gerry sudah nampak siap untuk kembali ke jakarta. Suasana ruko di pagi hari sudah mulai dibisingkan oleh tangisan Baby Rey yang tidak berhenti sedari tadi. Tidak biasanya bayi itu menangis cukup lama seperti saat ini.


"Anak Mama kenapa masih nangis, hem?" Ujar Kyara mengelus pipi Baby Rey.


"Coba aku yang menggendongnya." Tutur Gerry mengulurkan tangannya pada Kyara.


Kyara pun menyerahkan Baby Rey kepada Gerry.


"Kenapa nangis boy?" Ujar Gerry mencium pipi lembut putranya. Rasanya ia sungguh tidak tega harus berangkat di saat putranya masih menangis seperti ini.


Tak lama berada di gendongan Gerry, Baby Rey pun nampak mulai tenang. Baby mungil itu menatap Gerry dengan mata berkedip-kedip.


"Sepertinya Baby Rey tidak rela jika ditinggal Papanya." Celetuk Rania yang memperhatikan kegiatan suami istri itu sedari tadi.


"Jadilah anak yang baik. Jangan merepotkan Mamamu." Bisik Gerry di telinga putranya.


Setelah Baby Rey sudah mulai tenang, Gerry dan Asisten Jimmy pun pamit untuk berangkat. Pandangan Gerry tak henti menatap kebelakang dimana Kyara masih berdiri di pinggir jalan bersama putranya menatap kepergiannya.


"Papa akan selalu berusaha untuk membawamu kembali pulang." Gumam Gerry menatap nanar putranya yang mulai hilang dari pandangannya.


*


"Dalam pernikahan itu tidak akan selalu berjalan mulus. Akan ada hambatan dan ujian yang datang silih berganti. Jika di awal pernikahanmu berjalan tidak baik, tapi ingatlah saat ini suamimu sudah membayar segala kesalahannya walau belum keseluruhan. Kita sebagai istri memang boleh egois dengan keinginan kita sendiri. Namun tidak sebagai seorang ibu. Ada kebahagian seorang anak yang harus kita perjuangkan. Jangan sampai karna keegoisan kita, mempertaruhkan kebahagiaan seorang anak. Jika masih bisa diselesaikan dan diperbaiki, lantas mengapa harus memilih perpisahan sebagai solusi." Pesan Ibu Rania.


Kehadiran Ibu Rania siang hari di kediaman mereka membuat suasana cukup ramai dengan celotehan Ibu Rania kepada anaknya. Namun kehebohan itu mulai menyurut saat Ibu Rania mulai bertanya tentang nasib pernikahan sahabat anaknya saat ini. Sedikit banyaknya Ibu Rania cukup paham permasalahan yang tengah dihadapi sahabat putrinya itu.


"Kya akan memikirkannya kembali, Bu." Ucap Kyara pada akhirnya. Ia sudah mulai paham arah pembicaraan mereka saat ini.


Namun jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam Kyara masih menyimpan rasa ketakutan sendiri akan nasib pernikahannya jika dilanjutkan. Apalagi mengingat Gerry yang dulu sangat mencintai kekasihnya. Bukannya tidak mungkin jika mereka kembali bersama. Dan pimikiran buruk lainnya yang ada di otaknya membuat Kyara semakin meragu. Apalgi Kyara juga belum mengetahui secara pasti apa yang menjadi penyebab perpisahan Gerry dengan kekasihnya itu.


**


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺