Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Kau semakin manis


Satu minggu pun telah berlalu dari kegelisahan William yang dengan harap-harap cemas akan kedatangan Bianca ke negara asalnya. Namun yang dicemaskannya itu tak kunjung terjadi hingga sampai saat ini. Karena Bianca tak pernah menunjukkan batang hidungnya kepadanya.


Dan satu minggu ini pula William berusaha lebih mendekatkan dirinya dengan Rania sesuai saran dari pada sahabatnya. Seperti pagi ini William nampak lebih dulu bangun dari Rania yang masih terlelap dalam tidur nyamannya di dalam pelukannya. Satu minggu ini William memang mulai menunjukkan jati dirinya sebagai seorang suami yang menyayangi istrinya.


Setiap malam William selalu meminta agar Rania tertidur di dalam pelukannya. Alhasil wanita yang baru berusia duapuluh satu tahun sering terlambat bangun karena terlalu nyaman tertidur di dalam pelukannya.


William memang tidak langsung menuruti saran para sahabatnya yang menyuruhnya agar bisa dengan cepat menghamili istrinya. Bukan tanpa alasan. William hanya ingin Rania menyerahkan dirinya dengan ikhlas tanpa paksaan darinya. William tidak ingin Rania trauma akan paksaan darinya seperti Kyara dulu. Dan untuk mewujudkan itu semua, William mulai memberikan bentuk kasih sayang kepada istri kecilnya itu.


"Apa kau masih terlalu nyaman tidur di dalam pelukanku, hem?" Tanya William pada Rania yang masih memejamkan matanya. Sebelah tangannya yang bebas ia gunakan untuk mengelus rambut istrinya.


Lima belas menit berlalu, William masih tetap menunggu Rania terjaga dari tidurnya. Hingga akhirnya kedua kelopak mata itu nampak mulai terbuka.


"William...." Ucap Rania dengan wajah terkejut saat melihat wajah suaminya yang begitu dekat dengannya. "Kenapa kau memelukku!" Ucap Rania lagi segera melepaskan tangan William yang masih berada di pinggangnya.


"Kenapa aku memelukmu?" William tertawa mengulangi pertanyaan istrinya. "Bukankah setiap malam aku selalu memelukmu?" Tanya William kembali pada Rania.


Rania membulatkan matanya. Seketika wajahnya memerah mengingat jika akhir-akhir ini ia memang selalu terjaga di dalam pelukan suaminya.


"Apa kau sudah mengingatnya?" Goda William saat melihat rona merah menyembul di kedua pipi istrinya.


"Aku tidak mengingat apa-apa!" Kilah Rania segera bangkit dari tidurnya. "Aku ingin membuat sarapan lebih dulu!" Ucap Rania saat melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi.


"Dia semakin manis saja..." Gumam William menggelengkan kepala melihat tingkah istri kecilnya.


*


"Pagi ini aku akan mengantarkanmu pergi bekerja." Ucap William setelah menyeruput teh hangat buatan Rania.


"Tidak perlu. Aku bisa menggunakan bus seperti biasanya." Tolak Rania.


"Tidak ada kata penolakan. Aku tidak ingin kau selalu berdesak-desakkan masuk ke dalam bus lagi." Ucap William. Karena sudah hampir satu minggu ini ia selalu memperhatikan Rania yang selalu hampir kesulitan jika ingin masuk ke dalam bus.


"Kenapa kau suka memaksaku akhir-akhir ini." Protes Rania dengan bibir mengerucut.


Slerp


Rona merah lagi-lagi menghiasi wajah manis Rania.


Kenapa sikapnya semakin hari semakin berubah menjadi manis? Kalau begini aku bisa jatuh cinta terlalu dalam padanya. Batin Rania menatap wajah pria bule di depannya.


Ingatlah Rania. Kau tidak boleh jatuh cinta kepadanya. Batin Rania lagi merasa miris saat mengingat perkataan suaminya.


"Ayo berangkat. Steve sudah menunggu kita di bawah." Ajak William setelah Rania turun dari kamar untuk mengambil tas kerjanya.


Dan mau tidak mau Rania pun menuruti perintah suaminya untuk berangkat bekerja dengannya.


***


^^^Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!^^^


^^^Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.^^^


^^^- Serpihan Cinta Nauvara (End)^^^


^^^- Oh My Introvert Husband (On Going)^^^


^^^Jangan lupa beri dukungan dengan cara^^^


^^^Like^^^


^^^Komen^^^


^^^Vote^^^


^^^Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...^^^