Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Mudah lelah


"Ehem." Deheman seorang pria yang baru saja masuk ke dalam pantry menghentikan percakapan mereka.


"Apa kalian tidak memiliki pekerjaan lain selain bergosip?" Ucap pria itu saat sudah berada dekat dengan mereka.


Rania bersungut. "Ada. Dan bergosip adalah salah satu pekerjaan kami." Ucapnya dengan sinis.


Felix berdecak. "Pekerjaan yang tidak bermanfaat sama sekali." Balasnya tak kalah sinis.


"Kau—"


"Rania... Sudahlah... Ayo kita kembali bekerja." Ajak Deby menarik pergelangan tangan Rania sebelum rekan kerjanya itu mengamuk.


"Kenapa kau menarikku!" Decak Rania saat sudah berada di luar ruangan.


"Kau itu selalu saja berdebat dengan Asisten Felix." Ucap Deby yang masih merasa takut pada Felix dibandingkan Rania.


"Karena dia selalu mencari gara-gara denganku." Balas Rania dengan wajah masam.


"Huh..." Deby menghela nafas panjang. "Ayo kembali bekerja." Ajaknya tak ingin memperpanjang pembicaraan mereka.


*


"Kenapa rasanya lelah sekali hari ini..." Keluh Rania saat sudah selesai merapikan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang. "Tidak biasanya aku merasa lelah seperti ini." Lanjutnya lagi.


"Rania... Are you okay?" Tanya Deby yang melihat wajah Rania semakin pucat.


"Ya. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah." Balasnya tersenyum.


"Ya sudah. Ayo kita pulang. Sepertinya keadaanmu belum benar-benar pulih." Ucap Deby merasa cemas.


"Aku tak apa... Ya sudah, ayo pulang." Ucap Rania kemudian bangkit dari kursi kerjanya.


Di depan gerbang perusahaan, Rania dapat melihat mobil milik William sudah terparkir di sana. Dengan langkah lunglai, Rania pun berjalan keluar dari perkarangan perusahaan Wilson menuju mobil suaminya.


"Apa kau sudah lama menunggu?" Tanya Rania saat sudah masuk ke dalam mobil.


"Tidak. Aku baru saja sampai." Balas William.


"Hari ini sungguh melelahkan." Keluh Rania menyandarkan kepalanya di bahu William.


William sedikit tertegun. Tidak biasanya istrinya itu bersikap manja seperti itu walau dalam keadaan kelelahan sekalipun.


Dengan kedua mata yang sudah tertutup Rania pun menggeleng. "Pekerjaanku tidak terlalu banyak. Namun tubuhku seperti orang yang sudah bekerja berat seharian saja." Balasnya dengan suara yang semakin tidak jelas.


"Jalan, Steve." Titah William yang diangguki cepat oleh Steve.


Mobil pun mulai berjalan meninggalkan perusahaan Wilson dan memecahkan keramaian di sore hari bersama para pekerja lainnya yang baru saja pulang setelah seharian berkutat dengan pekerjaan masing-masing.


"Rania..." William yang hendak mengajak bicara istrinya itu seketika menghentikan niatnya saat mendengar dengkuran halus yang keluar dari bibir istrinya.


"Dia sudah tidur..." Gumam William dengan tersenyum tipis menatap kedua mata istrinya yang tertutup rapat. "Kenapa akhir-akhir ini kau terlihat mudah sekali mengantuk, hem?" Tanya William walau ia tahu Rania tak akan menjawab pertanyaannya. William pun dengan hati-hati merebahkan kepala Rania di pahanya agar istrinya itu lebih nyaman dalam tidurnya.


Hingga tiga puluh lima menit berlalu setelah melewati kemacetan yang cukup padat, akhirnya mobil William pun telah sampai di apartemen.


"Apa anda tidak ingin membangunkan Nona Rania, Tuan?" Tanya Steve setelah cukup lama menunggu William turun dari dalam mobil karena pria itu masih terdiam menatap wajah istrinya yang tengah terlelap.


"Tidak. Aku tidak akan membangunkannya." Ucap William dengan tegas. Apalagi melihat wajah cantik istrinya yang tertidur sangat pulas itu membuatnya tidak tega untuk mengusiknya.


***


Buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update:)


Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!


Sambil menunggu cerita ini update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...