Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Sesuatu yang janggal


Lamunan Rania terhenti ketika mengingat belum membelikan obat untuk Kyara. Rania menepuk keningnya. "Bagaimana aku bisa lupa!" Gumamnya. Kemudian bangkit dari sisi ranjang. "Tapi bagaimana jika Kyara terbangun dan membutuhkan bantuanku?" Pikirnya ragu. "Huh, sebaiknya nanti saja setelah Kya bangun aku baru membelinya." Putusnya.


Sembari menunggu Kyara bangun dari tidurnya, Rania memilih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Untung saja ia sudah mendapatkan izin untuk pulang lebih awal seperti Kyara oleh Bu Retno. Ya, walau dengan sedikit ancaman Rania lontarkan pada Bu Retno.


Lenguhan keluar dari bibir Kyara membuat Rania yang sedang melihat video di ponselnya terhenti. Ponsel yang semula berada di tangannya Rania letakkan sembarang di atas sofa. Kakinya melangkah lebar menunju ranjang Kyara.


"Kau sudah bangun, Kya?" Tanya Rania.


Bukannya menjawab, Kyara malah turun dari ranjangnya dan berlari ke arah kamar mandi dengan satu tangan memegang mulutnya.


Hoek...


Lagi-lagi tidak ada yang keluar dari mulut Kyara selain cairan kuning yang terasa pahit. Sedari pagi ia memang tidak berselera untuk makan akibat rasa mualnya sehingga tidak ada satupun makanan yang masuk ke dalam perutnya.


Rania dengan setia menijit tengkuk Kyara berharap bisa mengurangi rasa mualnya. Tangannya kemudian beralih memegang pundak Kyara ketika merasa tubuh Kyara yang lemas tak bertenaga.


Kyara memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Kepalanya bertambah pusing efek dari rasa mualnya. Setelah membasuh mulutnya, Rania dengan hati-hati membimbing Kyara kembali menuju ranjang.


"Sebenarnya kau kenapa, Kya?" Raut wajah khawatir tercetak jelas di wajah Rania.


Kyara menggeleng lemah. Ia juga tidak tahu kenapa dirinya merasa lemas dan mual akhir-akhir ini.


Rania nampak berpikir. Tiba-tiba saja ingatannya tertuju pada tetangga sebelah rumahnya yang memiliki penyakit yang sama dengan Kyara.


"Kya..." Panggil Rania. Wajahnya nampak ragu untuk memberikan pertanyaan.


"Ehm... Kapan terakhir kau datang bulan?" Tanyanya hati-hati.


"Entahlah, aku juga lupa. Sepertinya bulan lalu." Jawab Kyara tanpa beban.


"Bukannya bulan ini seharusnya kau sudah datang bulan, Kya? Kita selalu hampir sama setiap datang bulan. Bahkan aku sudah selesai datang bulan sejak satu minggu yang lalu." Tanya Rania kembali memastikan.


Kedua bahu Kyara terangkat. "Seharusnya begitu. Namun hal seperti ini sudah biasa terjadi di saat aku banyak pikiran." Tutur Kyara.


Rania mengangguk mengerti. Namun ia harus tetap memastikannya. "Aku ingin keluar sebentar membelikan obat sakit kepala dan mual agar rasa mualmu sedikit berkurang. Apa kau tak apa aku tinggal sendirian?" Kilah Rania tak ingin menyebutkan apalagi yang ingin ia beli.


"Aku tak apa, Rania. Sepertinya aku juga membutuhkan obat untuk mengurangi rasa mual dan sakit kepalaku ini..." Lirih Kyara.


"Tunggulah sebentar. Aku akan segera kembali." Ucapnya kemudian berlalu dari kamar Kyara setelah Kyara menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Kening Kyara berkerut melihar plastik bewarna putih yang di pegang Rania. Bentuk plastiknya yang transparan membuat Kyara dapat melihat isi dalamnya.


"Kau membeli apa itu, Rania?" Tanya Kyara. "Tespek?" Tanyanya lagi.


Rania mengeluarkan tiga buah tespek dari dalam kantong plastik. "Sepertinya kau membutuhkan ini, Kya..." Menyerahkan kepada Kyara.


"Untuk apa ini untukku, Rania?" Tanya Kyara dengan polosnya. Karena jujur saja ia memang tidak mengerti.


"Jika dugaanku tidak salah, sepertinya kau tengah mengandung, Kya."