
"Rania... hentikan atau dia bisa mati!" Titah William sambil berupaya melepaskan tangan Rania dari leher Citra.
"Biarkan saja. Dia sudah berani ingin merebutmu dariku berarti dia sudah siap melayang dari bumi ini!" Amuk Rania sambil mengetatkan tangannya di leher Citra.
Citra pun turut berupaya agar Rania melepaskan cekalannya namun tak bisa. Entah mengapa tenaga Rania tiba-tiba saja berubah drastis menjadi kuat melawan perebut suaminya saat ini.
"Nona Rania..." Steve yang baru saja masuk ke dalam ruangan dibuat terkejut melihat aksi Rania.
"Steve cepat lepaskan Rania dari Citra!" Titah William dengan wajah merah padam.
Steve dengan cepat berusaha melepaskan tangan Rania dari leher Citra.
"Uhuk..." Citra terbatu-batuk saat Rania sudah melepaskan cekalan tangannya.
"Kau jangan ikut campur Steve! Apa kau juga ingin aku cekik?!" Sembur Rania sambil berkacak pinggang.
Glek
Steve meneguk salivanya susah payah. Merasa takut dengan amukan Rania saat ini.
"Saya bisa melaporkan tindakan anda ke polisi Nona Rania!" Maki Citra pada Rania.
"Heh, ya? Kau ingin melaporkanku? Laporkan saja! Tapi sebelum itu aku akan benar-benar membunuhmu!" Bentak Rania. Rania pun kembali memajukan tubuhnya tapi Steve dengan cepat menghadangnya.
"Bawa Citra pergi dari sini Steve!" Titah William dengan cepat sebelum kemarahan Rania kembali meledak.
"Baik Tuan." Balas Steve dengan patuh. Steve pun segera menyeret tubuh Citra keluar dari dalam ruangan.
"Lepaskan aku! Lepaskan! Aku tidak bersalah!" Citra berupaya melepas tangan Steve yang begitu kuat mencekal lengannya.
"Kembalikan dia Steve! Aku belum selesai menghajarnya!" Pekik Rania dengan nafas naik turun.
"Aku akan membalas perbuatanmu!" Citra pun turut memekik sebelum keluar dari dalam ruangan William.
"Hiks... Dasar wanita penggoda! Berani-beraninya dia ingin merebut William dari diriku!" Setelah Citra lenyap dari pandangannya, Rania pun tiba-tiba menangis dengan kencang.
"Lepaskan aku! Lepaskan!" Rania memberontak. "Aku tidak sudi dipeluk olehmu! Tubuhmu masih terbekas oleh tangan wanita itu!" Pekik Rania.
Telinga William berdengung mendengar suara istrinya yang kuat. "Sayang..." tubuh William terlihat semakit menggeliat tak karuan. "Tolong aku..." ucap William dengan memohon.
Dengan air mata yang masih mengalir, Rania menatap pada suaminya yang kini terlihat bagai orang kesetanan. "Ada apa denganmu?" Rania tiba-tiba panik.
"Obat yang diberikan wanita itu sudah berefek di tubuhku. Tolong bantu aku atau aku bisa gila karena ini!" William tak memberikan kesempatan pada istrinya dan langsung menyambar bibir Rania begitu saja.
"Will—" Rania begitu terkejut. Namun melihat reaksi suaminya saat ini ia dapat menebak jika obat yang diberikan Citra pada suaminya sudah bekerja dengan baik.
"Tolong..." ucap William sambil menyatukan keningnya dan Rania.
"Ayo!" Ucap Rania lalu menarik tangan William menuju kamar pribadinya. "Aku akan membantumu karena aku tidak ingin memiliki suami gila jika aku tidak melakukannya!" Ucap Rania begitu panik. Rania pun berjalan sedikit lamban sambil menarik tangan William. Melihat itu William yang sudah merasa tak sabar langsung saja membopong tubuh istrinya ke dalam gendongannya.
"Aaa... kenapa kau menggendongku!" Pekik Rania.
"Karena kau terlalu lama!" Balas William lalu melangkah lebar menuju kamar pribadinya.
Rania yang sudah dapat membayangkan apa yang terjadi selanjutnya hanya bisa meneguk salivanya susah payah.
Semoga bayiku tidak kenapa-napa. Batinnya penuh harap.
***
Lanjut lagi?
Komen
Vote
Dan likenya dulu yuk🤗