
Brak
Bunyi pintu yang terbuka dengan kasar dari luar membuat Rania yang sedang memainkan ponselnya di atas sofa terlonjak kaget.
Rania mengelus dadanya. "William... Ada apa denganmu..." Ucap Rania sambil beranjak dari duduknya.
William menatap nyalang pada istrinya. Kakinya melangkah dengan cepat ke arah Rania.
"Apa ini?!" Pekiknya menunjukkan beberapa pil di tangannya.
Rania terbelalak. Detak jantungnya berdetak begitu cepat saat melihat pil penunda kehamilan yang baru saja ia beli ada di tangan William.
"Apa ini Rania?!" Pekik William lebih kuat.
"I-itu..." Rania terbata. Tubuhnya mulai bergetar melihat tatapan mengerikan suaminya.
"Apa?!" Bentak William mengguncang dengan kuat kedua bahu Rania.
"Itu pil—"
"Pil penunda kehamilan? Iya?!"
"Willam..." Tubuh Rania semakin bergetar. Matanya mulai mengembun mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya untuk pertama kalinya.
"Apa kau meminum pil itu selama ini sehingga itu penyebabnya kau belum juga hamil sampai saat ini?!" Cecar William di depan wajah Rania. "Jawab Rania... Jawab!"
Dengan lemah Rania mengangguk. "Maafkan aku Will...." Ucap Rania dengan tertunduk.
William melepas cengkramannya di bahu Rania lalu mengusap wajahnya kasar. "Kenapa kau lakukan itu semua Rania? Kenapa?" Geram William merasa begitu kecewa.
Rania terdiam. Lidahnya terasa kelu saat ingin menyebutkan alasan yang mendasarinya melakukan itu semua.
"Jika kau tidak ingin memiliki anak dari aku kau bisa mengatakannya sejak awal. Tidak dengan cara seperti ini!" Bentak William lagi. Hatinya benar-benar hancur. Wanita yang ia harapkan untuk segera mengandung benihnya ternyata melakukan tindakan di luar nalarnya agar tidak mengandung benihnya.
Rania masih terdiam dan terisak. Melihat Rania yang tidak merespon ucapannya membuat William mengerang. "Jika kau memang tidak ingin mempunyai anak dariku tak masalah. Lagi pula aku bisa dengan mudahnya membuat wanita lain mau mengandung benihku." Ancam William.
Deg
Hati Rania begitu sakit saat mendengar perkataan suaminya. Tanpa menunggu lebih lama, William pun segera keluar dari dalam kamar mereka dan menutup pintu dengan kasar.
Brak
"Hiks... Hiks..." Rania semakin terisak memukul dadanya yang kian sesak.
"William..." Ucap Rania dengan terbata. Rania pun segera keluar dari dalam kamarnya untuk menyusul William. Ia harus mengatakan apa yang menjadi penyebab ia melakukan tindakan itu semua.
"Will... William..." Rania segera berlari ke arah suaminya yang hendak membuka pintu apartemen. "William... Dengarkan dulu penjelasanku..." Ucap Rania menahan pergelangan pria itu.
William dengan kasar menyentak tangan Rania membuat wanita itu meringis. "Aku tidak membutuhkan penjelasan darimu lagi." Ucap William dengan dingin. Hatinya benar-benar sakit saat ini mendapatkan penolakan secara tidak langsung dari istrinya. William pun segera keluar dari apartemen tanpa memperdulikan Rania yang terus memanggil namanya.
"William..." Panggil Rania berteriak. Namun William tetap menulikan telingannya. Tubuh Rania luruh begitu saja di atas lantai. Rania menangis sejadi-jadinya menyesali perbuatannya. "Aku hanya takut William... Aku takut..." Ucap Rania dengan sesegukan. "Maaf... Maafkan aku..." Ucapnya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Rania pun kembali masuk ke dalam apartemen dengan masih sesegukan. Ia hanya berharap William segera pulang dan ia akan mengutarakan maksud hatinya. Hingga malam semakin larut, Rania masih tetap terdiam di posisinya menunggu William pulang. Namun hingga pukul dua dini hari yang ditunggunya pun tak kunjung datang. William. Entah kemana perginya suaminya itu. Rania begitu kalut. Hantinya merasa takut jika William benar-benar membuktikan perkataannya untuk bisa membuat wanita lain mengandung anaknya.
***
Buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update:)
Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!
Sambil menunggu cerita ini update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...