Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Permintaan dengan sedikit ancaman


"Kau ini bodoh atau bagaimana? Dia sudah lancang memegang tubuhmu berarti dia membuat sebuah kesalahan dan kau bahkan bisa memecatnya begitu saja!" Ucap Gerry tak habis pikir dengan pemikiran sahabatnya.


"Aku mungkin bisa saja memecatnya dengan alasan yang kau maksud. Namun aku bukanlah orang yang begitu tega memecatnya begitu saja sedangkan aku tahu ada keluarga yang membutuhkan tulang punggungnya untuk menghidupi mereka." Ucap William menjelaskan alasan yang sebenarnya.


Gerry dibuat terdiam. "Jadi Citra adalah tulang punggung keluarganya?" Tanya Gerry yang diangguki oleh William. "Jika kau memindahkannya di luar kota, itu sama saja kau juga menambah beban hidupnya." Cecar Gerry.


"Apa maksudmu?" Tanya William merasa bingung.


"Jika dia tinggal di luar kota, maka biaya hidupnya akan semakin bertambah karena dia harus memenuhi kebutuhannya sendiri dan kebutuhan keluarganya. Aku rasa kau sudah paham maksud ucapanku." Ucap Gerry.


William dibuat terdiam dan berpikir. "Lalu bagaimana? Jika dia masih berada di perusahaanku, akan menjadi bumerang untuk pernikahanku. Dan juga ... untuk bayi kami." William merasa bingung dan kembali berpikir. Sedetik kemudian senyuman pun terbit di bibir tebalnya. "Aku mempunyai solusi untuk itu. Aku hanya perlu menambah gajinya. Maka dari itu kehidupan dirinya dan keluarganya akan terpenuhi." Cetus William.


"Idemu boleh juga. Tapi kau harus memikirkan cara untuk memindahkannya dengan cara baik-baik." Saran Gerry.


"Ya. Aku akan melakukannya."


"Jadi kapan kau akan memindahkan sekretarismu itu?" Tanya Gerry.


"Secepatnya. Dalam waktu satu bulan ini aku akan memindahkan ke perusahaan cabangmu."


"Lalu bagaimana jika aku sebagai pemiliknya tidak memberikan izin atas idemu itu?" Suara Gerry terdengar meledek.


Mendengar itu William pun menatap tajam pada sahabatnya. "Tak masalah. Aku hanya tinggal membongkar rahasiamu yang masih mengunjungi Ketty secara diam-diam di negara S pada Kyara." Balas William sedikit mengancam.


"Kau..." Gerry melototkan kedua matanya. "Kau tahu betul alasanku mengunjunginya karena apa!" Hardik Gerry merasa terancam.


"Aku tahu. Tapi tidak dengan Kyara." William kembali meledek Gerry.


"Sudahlah. Aku akan mengizinkanmu memindahkan sekretarismu itu ke perusahaan cabang Bagaskara." Putus Gerry sedikit merasa takut.


William tersenyum penuh kemenangan.


"Aku rasa kau sudah selesai membahas permasalahanmu. Sekarang pergilah. Karena aku ingin pulang ke mansion untuk menjemput Kyara memeriksa kandungannya." Usir Gerry secara halus.


"Baiklah. Terimakasih atas kebaikanmu." William menepuk bahu Gerry.


"Kalau begitu aku pamit dulu." Ucap William.


"Ya. Dan harus kau ingat, sekali lagi kau menyakiti Rania, aku tidak akan segan-segan menghajarmu. Maka dari itu selesaikan permasalahnmu segera!" Titah Gerry dengan serius yang diangguki paham oleh William.


Setelah kepergian William dari dalam ruangannya, Gerry pun segera menyambar jas kerjanya.


"Kyara sayangku... Aku akan pulang menjemputmu..." Ucap Gerry mengirimkan pesan audio pada Kyara.


Gerry pun segera melangkah meninggalkan ruangannya untuk menjemput istri tercintanya di rumah.


Sedangkan di kediaman Bagaskra, Kyara dibuat menggeleng dengan tingkah suaminya yang semakin lucu dari hari ke hari.


"Dengarlah suara Papa, Rey... sangat lucu bukan?" Tanya Kyara pada Rey yang sedang sibuk bermain roggy kesayangannya.


"Papah..." Suara Rey terdengar riang saat menyebutkan nama papanya.


"Iya... Papa ini..." Kyra kembali memutar audio yang dikirimkan Gerry kepadanya.


"Papah..." Rey berusaha mengambil ponsel di tangan Kyara saat mendengar kembali suara Papanya.


"Tidak boleh bermain ponsel. Tunggu Papa pulang saja ya." Kyara mengecup pipi gembul putranya lalu menggendongnya.


*


Lanjut lagi ya kalau vote, komen dan likenya banyak☺


Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺


Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)


Serpihan Cinta Nauvara (End)


Oh My Introvert Husband (End)