
Kedatangan Rania kembali pagi itu ke perusahaan Wilson disambut gembira oleh Deby yang sudah lebih dulu sampai di perusahaan.
"Rania... Kau sudah kembali..." Deby beranjak dari kursi kerjanya lalu mendekati Rania. "Ah... Aku sangat merindukanmu..." Ucapnya lalu memeluk tubuh Rania barang sejenak.
"Aku juga sangat merindukanmu." Balas Rania seraya tersenyum.
"Wah... Perutmu terlihat semakin membesar." Ucap Deby sambil mengelus perut Rania.
"Ya... Usianya sudah jalan empat bulan." Balas Rania tersenyum.
"Ehem..." Deheman dari pria yang kini sudah berada di belakang Rania memutuskan acara melepas rindu di antara mereka.
"Tuan Sean..." Ucap Rania dengan formal pada Sean.
"Aku senang kau sudah kembali ke perusahaan ini lagi. Maka dari itu semangatku untuk bekerja sudah bangkit kembali." Seloroh Sean sambil menatap rindu pada Rania.
"Ish... Kau ini bicara apa? Ingatlah sebentar lagi kau akan menikah." Ucap Rania merasa malas.
Sean tertawa. "Ya. Maka dari itu aku ingin melepas rindu dengan melihat wajahmu lebih lama sebelum wajah baru istriku yang memenuhi penglihatanku esok hari." Selorohnya lagi.
"Kau ini... Apa kau tidak lihat perutku ini sudah semakin membesar namun kau tetap saja masih menggodaku." Sungut Rania.
Sean tertawa. "Kau terlalu serius, Rania. Aku kan cuma bercanda." Balasnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Tuan... Ini berkas yang anda minta." Ucap Felix yang baru saja keluar dari dalam ruangannya.
"Hai Felix... Sudah lama aku tidak melihat wajah menyebalkanmu." Cibir Rania pada Felix.
Felix mendengus. "Nona pengacau sudah kembali?" Ucapnya sedikit menyindir.
"Kau bilang aku apa?" Rania melebarkan kedua matanya.
"Rania... Tahan emosimu. Ingat saat ini kau tengah hamil. Apa kau mau jika wajah anakmu nanti akan mirip dengan Felix karena kau masih saja terus bertengkar dengannya." Pesan Deby menenangkan Rania.
"Sudahlah. Aku tidak ingin berdebat denganmu lagi." Ucap Rania sambil bergedik membayangkan jika wajah anaknya akan sekaku wajah Felix. Lebih baik wajah anakku mirip dengan wajah William yang bule dan rupawan. Ucap Rania dalam hati sambil membayangkan wajah suaminya.
Akhirnya pembicaraan mereka pun terhenti karena jam kerja sudah dimulai. Rania menghela nafas lega karena pada akhirnya ia dapat melanjutkan pekerjaannya dan terus belajar menjadi seorang sekretaris yang sebebarnya. Bukan hanya menjadi sumber energi untuk Sean.
Sedangkan di dalam ruangan Sean, pria tampan itu nampak memandang kosong pada pemandangan Ibu Kota dari balik jendela ruangannya. "Apa aku sanggup menjalani pernikahan tanpa cinta ini?" Gumamnya memijit pelipisnya yang terasa sakit. Namun saat mengingat tujuannya untuk menikah membuat Sean sedikit meragu. Apa lagi saat ia mengingat pesan Rania satu bulan yang lalu sebelum Rania memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya.
Tring
Suara ponselnya yang berdering cukup keras menghentikan lamunan Sean. "Keyla?" Gumam Sean saat melihat nama di layar ponselnya.
"Ada apa?" Tanya Sean tanpa basa basi setelah panggilan tersambung.
Apa kau ada waktu senggang siang ini? Aku ingin mengajakmu untuk memilih cincin pernikahan kita di mall X nanti siang.
Sean nampak menghela nafasnya. "Baiklah. Aku akan menjemputmu nanti siang." Ucap William dengan malas.
Baiklah. Aku akan menunggumu di rumah. Terimakasih atas waktunya.
Sean mengangguk tanpa bersuara. Rasanya ia sungguh malas untuk bepergian bersama Keyla. Wanita yang telah ditetapkan Mommynya untuk menjadi istrinya.
***
Vote, komen dan likenya dulu baru lanjut lagi ya😌
Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)