Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Memanfaatkan kesempatan


"Berikan aku waktu untuk berpikir. Berikan aku waktu untuk memahami keadaan ini. Ini semua sangat sulit bagiku. Dan jujur saja aku masih sangat takut apabila pernikahan ini terus berlanjut." Lirih Kyara menatap sendu pada Gerry.


"Aku akan mencoba untuk memberimu satu kesempatan. Namun jangan paksakan jika hatiku tak kunjung membaik setelahnya." Lanjut Kyara kemudian.


Gerry berdiri kemudian membantu Kyara untuk bangkit dari duduknya. Tanpa aba-aba Gerry memeluk tubuh Kyara begitu eratnya membuat tubuh Kyara menegang. Walau tak mendapatkan balasan dari Kyara, namun tanpa penolakan wanita itu sudah cukup baginya.


"Terimakasih. Aku akan memanfaat kesempatan darimu. Terimakasih..." Gerry tak henti-hentinya mengucap syukur. Satu kecupan pun mendarat di dahi Kyara. Kyara membiarkan saja apa yang dilakukan pria itu. Lagi pula Gerry masih suaminya. Dan Kyara tak mungkin menolak suaminya itu.


Makan malam pun berlangsung dengan suasana haru di dalam hati Gerry begitu pun Kyara. Hingga akhirnya mereka memilih untuk pulang sebab Rania sudah menghubungi Kyara jika Baby Rey terus menangis walau sudah diberi susu. Untung saja jarak kafe ke ruko berjarak tidak terlalu jauh sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk sampai di ruko.


"Anak Mama kenapa nangis?" Kyara segera mengambil alih Baby Rey yang masih menangis di tangan Rania setelah mencuci tangannya terlebih dahulu.


"Kangen sepertinya sama Mamanya." Ucap Rania mengelus kepala Rey yang kini sudah mulai tenang di gendongan Kyara.


Kyara tersenyum. "Aku ke kamar dulu ya, Ran. Terimakasih sudah menjaga Rey." Ucap Kyara yang diangguki Rania.


Kyara pun segera membawa Baby Rey ke dalam kamarnya diikuti Gerry. Dengan sedikit menahan rasa malunya, Kyara mulai membuka beberapa kancing bajunya untuk menyusui Baby Rey.


"Kau masih malu saja. Padahal aku sudah sering melihatnya." Ucap Gerry yang merasa gemas dengan tingkah Kyara.


Mata Kyara melotot ke arah Gerry. Gerry yang ditatap seperti itu seketika tersenyum kikuk. Akhirnya Kyara pun mulai menyusui Baby Rey. Gerry tak henti menyurutkan senyuman saat melihat bayinya yang nampak begitu rakus saat menyusu. Semakin hari wajah Baby Rey semakin mirip dengannya. Membuat Gerry semakin bangga dengan hasil karyanya.Tak lama Gerry pun memutuskan untuk mengganti pakaian lebih dulu ke dalam kamar mandi.


"Rey sudah tidur?" Tanya Gerry saat baru keluar dari dalam kamar mandi dengan pakaian santainya.


"Iya... Dia baru saja tidur." Ucap Kyara sedikit pelan. Kyara kemudian meletakkan Baby Rey ke dalam box bayinya.


Pukul setengah dua belas malam akhirnya Gerry kembali masuk ke dalam kamar setelah melakukan pembicaraan cukup serius dengan Asisten Jimmy di balkon. Tak lupa Gerry juga ikut membantu Rania saat ingin menutup rukonya. Pandangan Gerry kini tertuju pada Kyara yang nampak sudah bergulung di bawah selimut.


Kedua sudut Gerry tertarik membentuk senyuman. Dengan langkah pelan Gerry berjalan menuju box Baby Rey untuk memastikan putranya masih terlelap dalam tidurnya. Kemudia Gerry pun mendekat ke arah ranjang. Dengan hati-hati Gerry ikut merebahkan tubuhnya di samping Kyara.


"Selamat tidur. Semoga mimpimu selalu seindah wajahmu." Gumam Gerry kemudian membenamkan ciuman cukup lama di kening wanita itu.


***


Menurut kalian cerita aku ini bagaimana?


*


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺