
"Gerry... Itu semua tidak benar... Kau sudah salah paham!" Memegang lengan Gerry. Ketty masih berupaya menolak kenyataan yang ada.
Gerry menghempaskan tangan Ketty dengan kasar. Pandangannya tertuju pada Asisten Jimmy. "Bawa dia keluar dari dalam ruanganku!" Titahnya sedikit meninggi.
"Aku tidak mau... Aku tidak mau... Kau sudah salah paham sayang..." Ketty meronta-ronta saat tubuhnya diseret begitu saja oleh Asisten Jimmy.
Gerry menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya setelah Ketty keluar dari dalam ruangannya. Tangannya memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Dadanya masih bergemuruh ketika mengingat kembali penghianatan yang dilakukan mantan kekasihnya itu.
Sedangkan di dalam mobilnya, tangan Ketty nampak terkepal erat. Pancaran amarah terlihat jelas di wajahnya.
"Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, Gerry!" Gumam Ketty memandang bangunan tinggi di depannya. Kemudian melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan Bagaskara.
*
Pagi ini hari Rani nampak lebih cerah dibandingkan hari sebelumnya. Wajar saja, karna saat ini pria yang sudah mengisi hatinya tengah berkunjung kembali ke ruko miliknya. Walau hatinya sedikit teriris karena mengingat jika yang dituju pria itu bukan dirinya melainkan sahabatnya. Namun Rania tetap senang bisa melihat wajah bule itu lagi. Untung saja setiap William berkunjung ke sana tidak bersamaan dengan jadwal berkunjung Gerry.
Rania yang sedang sibuk membereskan meja dan kursi yang sedikit berantakan, seketika menghentikan aktivitasnya ketika mendengar suara kesakitan Kyara yang baru saja turun dari lantai dua.
"Kau kenapa, Kya?" Rania mendekati Kyara yang tengah meringis memegang perutnya di anak tangga terakhir.
"Perutku terasa keram lagi Rania..." Cicit Kyara kembali meringis.
"Ayo duduk dulu." Ajak Rania menuntun Kyara menuju kursi.
"Minum dulu, Kya." Ucap Rania kemudian memberikan segelas air putih pada Kyara.
"Terimakasih..." Ucap Kyara.
"Apa perlu kita ke dokter saja, Kya? Aku takut terjadi apa-apa pada kandunganmu." Cemas Rania.
Kyara menggeleng. "Sepertinya tidak perlu. Nanti juga keramnya hilang sendiri." Yakinnya.
Tak lama William pun masuk ke dalam ruko menenteng dua buah plastik di tangannya. Pria itu baru saja pulang dari minimarket untuk membeli makanan ringan untuk Kyara dan Rania seperti biasanya ia datang ke sana. William pun tergesa-gesa berjalan ke arah Kyara yang nampak meringis.
"Kau kenapa, Ara?" Tanya William dengan raut wajah begitu panik.
"Tak apa... Hanya keram biasa." Balas Kyara mencoba tersenyum.
"Sebaiknya kau kembali saja ke dalam kamar, Kya. Istirahatlah..." Ucap Rania.
"Apa tak apa? Tapi aku ingin membantumu..." Wajah Kyara nampak murung.
"Aku masih bisa sendiri, Kya. Sudahlah jangan keras kepala." Tegasnya.
"Ayo aku bantu masuk ke dalam kamar." Lanjutnya kemudian.
Kyara mengangguk patuh. Mereka pun berpamitan pada William.
"Pak William..." Panggil Rania pada William yang tengah asik memainkan ponselnya.
"Ya? Apa Ara sudah tidur?"
"Belum... Apa Bapak tidak menyusul saja untuk istirahat di atas." Saran Rania.
"Saya di sini saja. Karna Kyara tidak ada, Bagaimana jika saya saja yang membantumu membereskan ini semua."
"Eh... Tidak perlu repot, Pak... Saya bisa melakukannya sendiri. Lagi pula sebentar lagi anggota yang lain akan datang."
"Tidak perlu sungkan begitu. Oh iya, Rania... Kita ini sudah cukup lama saling mengenal. Dan kau masih saja menyebutku dengan sebutan Bapak. Sepertinya akan lebih baik jika kau memanggilku dengan nama saja." Ucap William dengan senyum tipis di bibirnya.
*