
"Minum?" Sebelah alis tebal William terangkat.
"Kenapa kau meminum alkohol?" Tanya Rania lagi memperjelas ucapannya.
Dengan perlahan William menurunkan cekalan tangan Rania hingga terlepas. "Aku memang sudah biasa meminum alkohol." Jawabnya apa adanya.
"Tapi itu tidak baik untuk kesehatanmu." Terang Rania.
"Aku hanya meminumnya jika diperlukan. Sudahlah. Kau tidak perlu berlebihan mengkhawatirkanku seperti itu." William menyematkan senyuman tipis di bibirnya. Namun William tidak sadar jika perkataannya itu membuat hati istrinya semakin terluka.
"Baiklah. Terserah kau saja." Ucap Rania dengan wajah di tekuk.
William mengangguk dan segera berlalu dari hadapan istrinya.
Kenapa perkataanmu selalu menyakitiku? Batin Rania merasa miris.
*
Rania menatap nanar pada suaminya yang kini tengah menyantap sarapan paginya. Wajah William terlihat lebih dingin dari pada tadi malam saat mereka berdebat.
"Aku sudah selesai." Ucap William menghapus noda yang melekat di sudut bibirnya dengan tisu.
"Apa kau ingin langsung pergi bekerja?" Tanya Rania sebelum William beranjak dari kursi yang didudukinya.
"Ya. Aku harus berangkat karena Steve sudah menungguku di loby." Jawab William.
"Ohh..." Rania hanya bisa mengangguk dan kembali melanjutkan suapan nasinya.
"Kau akan berangkat dengan siapa pagi ini?" Tanya William.
"Aku akan pergi bekerja menunggunakan bus."
"Aku kira kau akan pergi bersama bosmu itu." Cetus William yang mengetahui jika Sean juga memiliki salah satu unit apartemen di gedung ini.
"Kau tidak perlu berpikiran terlalu jauh denganku. Sesuai janjiku, aku akan selalu menjaga martabatku sebagai seorang istri. Dan kau tidak perlu khawatir akan hal itu." Seru Rania.
William menarik sudut bibirnya ke samping. "Terserah kau saja." Ucapnya kemudian beranjak dari kursi.
Rania ikut beranjak. "William..." Panggilnya pada pria yang kini sudah menyambar tas kerjanya di atas sofa.
William membalikkan tubuhnya. "Ada apa?" Tanyanya bingung.
Rania mengulurkan tangannya. "Aku hanya ingin melepas kepergianmu bekerja." Jelas Rania dengan tangan yang masih menggantung di udara.
William menarik tangan Rania kemudian membawanya ke dekat dadanya. "Kau ingin aku menyalamimu?" Tanyanya dengan menahan tangan Rania.
Detak jantung Rania semakin kencang karena saat ini ia dapat merasakan detak jantung William yang juga berdetak tak kalah kencang darinya.
William menjauhkan tangan Rania dari dadanya kemudian mengulurkan tangan kanannya untuk Rania cium.
"Hati-hatilah di jalan. Semoga pekerjaanmu hari ini berjalan dengan baik." Ucap Rania setelah mengecup singkat tangan William.
William sontak menarik pinggang Rania mendekat ke arahnya.
Cup
Rania tersentak.
Satu kecupan singkat berhasil terbenam di kening Rania. "Kau juga berhati-hatilah bekerja. Aku harap kau bisa menepati janjimu dengan baik." Ucap William penuh permintaan.
"Aku akan melakukannya." Ucap Rania dengan yakin. Namun berbeda dengan jantungnya yang terasa ingin keluar saat ini.
William tersenyum tipis kemudian berlalu dari hadapan Rania setelah membelai lembut rambut istrinya.
"Apa itu tadi? William mencium keningku?" Gumam Rania memegang keningnya yang masih basah oleh ciuman William.
Di luar apartemen William terus berjalan menuju arah pintu lift dengan senyuman tipis yang tersemat di sudut bibirnya.
Ting
Pintu lift pun terbuka dan menampilkan sosok Steve yang berada di dalam kotak besi itu.
"Mari masuk, Tuan." Ucap Steve tergesa-gesa.
William menurutinya.
"Ada apa dengan wajahmu, Steve?" Tanya William saat pintu lift sudah tertutup kembali. "Kenapa kau sampai menyusulku ke atas?" Lanjutnya kemudian.
"Ada hal penting yang ingin segera saya sampaikan dengan Tuan." Ucapnya tak yakin.
"Apa itu?"
"Nona Bianca sedang berada di negara ini." Ucap Steve yang berhasil membuat William melebarkan kedua bola matanya.
***
Buat yang masih ngeluh kalau aku up per babnya dikit, aku minta maaf karena tidak bisa mewujudkan hal yang kalian harapkan. Karena sejak awal aku sudah bilang kalau aku hanya bisa menulis 500an kata per babnya. Dan juga aku udah mengusahakan untuk bisa up lebih dari satu kali. Kalau kalian bisa jumlahin dari tiga bab yang aku update perharinya, jumlah katanya sudah bisa mencapai 2000an kata. Lagi pula aku juga mau bilang, kalau berpikir buat mengarang cerita itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan kalian tidak tahu kan aku sampai sakit kepala jika saat memang buntu banget mau lanjutin ceritanya. Jadi aku harap kalian dapat mamaklumi kemanpuanku yang hanya bisa nulis 500 kata perbabny. Dan juga jangan lupakan kalau aku udah usahakan untuk up 1-3 bab perharinya.
Terimaksih atas pengertiannya🤧😩😊