
"Steve... Sudah aku katakan tahan batukmu jika aku sedang bermesraan dengan istriku!" Amuk William menatap sebal pada Steve karena lagi-lagi asistennya itu mengacaukan acara mesra-mesraannya.
"Saya tidak bisa menahannya, Tuan." Balas Steve dengan datar.
"Kau..." Geram William menatap sengit pada Steve.
"Will... Sudahlah... Kau seperti anak kecil saja." Ucap Rania merasa jengah dengan tingkah suaminya. "Tegakkan badanmu. Aku sudah risih dengan rambutmu ini." Titah Rania.
William bersungut. Namun tetap menegakkan kembali badannya. Mobil pun terus melaju membelah keramaian di sore hari.
"Will... Aku ingin itu!" Tunjuk Rania pada penjual bakso di pinggir jalan.
"Kau ingin apa?" Tanya William sambil mengarahkan pandangannya ke arah yang Rania tunjuk.
"Itu... Aku ingin bakso gerobak..." Ucap Rania lagi saat mobil sudah dekat dengan penjual bakso.
Mendengar permintaan Rania, Steve pun segera menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kau ingin bakso itu?" Tanya William memastikan kembali.
"Ya. Entah mengapa aku sangat ingin memakan bakso itu." Rania meneguk salivanya susah payah saat membayangkan nikmatnya bakso itu saat masuk ke mulutnya.
William nampak ragu. "Bukankah kau bisa membuatnya sendiri? Bahkan kau memiliki warung bakso." Ucap William.
Rania seketika menatap William tajam. "Tapi aku ingin bakso yang itu... Jika kau tidak ingin membelikanku. Aku bisa membelinya sendiri." Ucap Rania merasa sebal.
William menghela nafas panjang. "Baiklah. Aku akan membelikanmu." Ucap William dengan pasrah. Dia itu garang sekali. Batin William lalu segera keluar dari dalam mobil.
Saat sudah berada di dekat gerobak bakso, William dikejutkan saat melihat Gerry dan Kyara yang sedang memakan satu mangkok bakso di sana.
"Gerry... Kyara..." Ucap William yang membuat Gerry dan Kyara mengalihkan pandangan ke sumber suara.
"William..." Ucap Kyara dan Gerry bersamaan yang sama terkejutnya melihat keberadaan William di sana.
"Sedang apa kalian di sini?" Tanya William dengan bodoh.
"Tentu saja makan bakso. Kau tidak melihat mangkok bakso di depan kami saat ini?" Cetus Gerry.
William menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia sungguh tidak menyangka jika seorang Gerry mau makan makanan di pinggir jalan seperti saat ini mengingat pria itu sudah sejak kecil terbiasa dengan makanan yang sudah ditentukan kadar gizi dan kesehatannya bagi tubuh Gerry.
"Tidak bisa. Rania sedang menungguku di dalam mobil." Balas William.
"Lalu untuk apa kau datang kemari?" Tanya Gerry merasa heran.
"Tentu saja untuk membeli bakso."
"Rania ingin makan bakso?" Tebak Kyara yang diangguki oleh William.
William pun segera memesan satu porsi bakso dengan ukuran jumbo untuk istrinya.
"Apa Rania sedang ngidam?" Tanya Kyara saat William kembali menghampiri meja mereka.
"Sepertinya begitu." Ucap William tersenyum senang. Karena ia dapat mewujudkan keinginan ngidam istrinya.
"Sayang... Apa kau juga sedang ngidam saat ini?" Tanya Gerry menatap Kyara dengan penuh harap.
Kyara sontak menggeleng. "Tentu saja tidak." Balas Kyara merasa aneh dengan pertanyaan suaminya.
"Tapi kenapa tiba-tiba kau ingin makan bakso dan aku harus ikut makan bersamamu?" Tanya Gerry dengan kening mengkerut.
"Ya. Karena aku ingin kau ikut membaur untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi kalangan sederhana seperti diriku." Balas Kyara apa adanya. Karena suaminya itu selama ini selalu saja membatasi makanan apa yang ingin ia makan.
Wajah Gerry seketika lesu. "Aku kira kau sedang ngidam. Dan saat ini bibit yang aku taburkan setiap malam sedang berkembang di dalam rahimmu." Jelas Gerry dengan tak bersemangat.
***
Vote, komen dan likenya dulu baru lanjut lagi ya😌
Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)