
"Gerry..." Mama Riana mencoba menjangkau tangan putranya yang ingin masuk ke dalam kamarnya.
Langkah Gerry terhenti. Berbalik dan melihat pada Mamanya.
"Apa kau yakin jika akan berangkat malam ini? Kau baru saja sampai dan harus pergi lagi? Apa kau tidak lelah nak?" Mama Riana nampak khawatir. Putranya baru kembali dari luar negeri dan harus melanjutkan perjalanan kembali yang cukup memakan waktu lama.
"Gerry sungguh tak apa, Ma. Mama tenanglah. Aku akan baik-baik saja." Gerry memeluk Mama Riana barang sejenak. "Gerry akan lebih lelah jika tidak segera bertemu dengan anak dan istri Gerry."
Dengan menghela nafas pasrah, Mama Riana pun melepas kepergian Gerry malam itu dengan satu syarat Gerry harus diantarkan oleh sopir. Dan mau tidak mau Gerry pun menyetujuinya.
Deru mesin mobil yang berhenti di depan ruko membuat Kyara yang tengah menyusui Baby Rey tertegun. Tak lama bunyi suara pintu mobil yang terbuka membuat kening Kyara mengkerut. Akibat rasa penasarannya yang tinggi akan siapakah gerangan yang tenga berada di depan ruko, Kyara pun melepaskan bibir mungil Baby Rey dari p*tingnya. Untung saja bayi tampan itu tidak menangis.
"Gerry..." Kedua bola mata Kyara nyaris keluar dari dalam wadahnya saat melihat sosok suaminya tengah menatap ke arah jendela kamarnya.
Tak lama terdengar suara rolling yang dibuka. Kyara dapat memastikan jika Ranialah yang membukanya. Dengan hati-hati, Kyara pun meletakkan Baby Rey yang sudah tertidur di dalam box bayinya. Setelah memastikan Baby Rey sudah terlelap, Kyara pun keluar dari dalam kamarnya.
"Gerry..." Suara Kyara tertahan melihat Gerry yang kini sedang berjalan ke arahnya. Kyara sungguh tidak menyangka jika Gerry benar-benar akan menyusulnya. Padahal pria itu baru saja kembali dari luar negeri hari ini.
Debaran jantung Kyara berdetak tidak karuan saat Gerry semakin dekat ke arahnya. Kyara dapat melihat dengan jelas gurat kelelahan di wajah pria itu. Bagaimana tidak lelah, setelah melakukan perjalanan udara lebih kurang 20 jam, Gerry pun kembali melanjutkan perjalanan darat yang memakan waktu hingga 8 jam lebih.
"Duduklah..." Titah Kyara mengarah pada sofa.
Gerry mengangguk dan segera menjatuhkan tubuh lelahnya di sana.
"Tunggulah sebentar. Aku akan membuatkan minum." Desah Kyara. Ingin sekali Kyara mengomeli suaminya itu karna sudah begitu nekat. Namun melihat wajah Gerry, Kyara sungguh tidak tega melakukannya.
"Dia sungguh gila!" Gerutu Kyara pada Rania saat sedang mengaduk gula di dalam cangkir.
Nafas Kyara terbuang di udara. "Kenapa harus memaksakan hari ini. Sedangkan besok dia masih bisa datang ke sini." Decaknya.
"Sudahlah. Pak Gerry pasti mengkhawatirkan keadaan Rey karna tadi kau sempat meneleponnya bukan?"
Kyara meletakkan teh yang sudah siap dibuatnya ke dalam nampan. "Aku juga tidak tahu jika dia baru sampai jika Mama tidak memberitahuku tadi." Sedikit banyaknya Kyara merasa bersalah pada pria itu. Karna dirinya Gerry mengabaikan tubuh lelahnya.
Rania menepuk pundak Kyara. "Itu bukti cintanya pada kalian. Kau harusnya bersyukur memiliki suami seperti Pak Gerry. Pak Gerry begitu mencintaimu dan Rey. Aku yakin kau dapat merasakannya."
Kyara tersenyum kecil. "Semoga saja." Ucapnya kemudian melangkah meninggalkan dapur.
***
Tambah up lagi gak nih?
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺