
William mengelus rambut Rania yang terasa lembab setelah percintaan mereka yang berlangsung cukup lama. Matanya tak henti menatap pada wajah cantik istrinya yang tengah terlelap di dalam pelukannya. Senyuman pun terbit di bibir William saat mengingat istrinya masih bisa menjaga kesuciannya untuk dirinya.
"Terimakasih telah menjaganya untukku." Gumam William menanamkan ciuman cukup lama di kening istrinya.
Senyuman yang menghiasi wajah William perlahan menyurut ketika mengingat ucapan Rania tadi di dalam mobil. "Aku harap yang kau lihat tadi bukan dia." Harap William dengan cemas.
Setelah larut dalam pemikirannya, William pun ikut menyusul Rania terbang ke alam mimpinya sambil mendekap erat tubuh kekasih hatinya.
Pagi pun mulai menyambut. William lebih dulu terjaga dari istrinya saat matahari sudah naik ke permukaan. William menatap lama wajah polos Rania yang masih nyaman terlelap di pelukannya.
"Apa kau begitu lelahnya sehingga belum bangun sampai jam segini?" Gumam William sambil menyibakkan beberapa helaian rambut yang menutupi wajah istrinya.
Setelah puas memandang wajah istrinya, William pun bangkit untuk membersihkan tubuhnya. "Dia manis sekali." Gumam William menanamkan ciuman singkat di bibir istrinya. Kemudian menutupi tubuh istrinya yang terbuka dengan selimut.
Rania mengerjapkan kedua matanya menyesuaikan sinar matahari yang mulai menyapu permukaan wajahnya.
"Sudah jam berapa ini?" Suaranya terdengar serak. Pandangannya pun tertuju pada jam yang menggantung di dinding kamar hotel. "Sudah jam sembilan?" Ucapnya dengan begitu terkejut. "Bagaimana aku bisa bangun jam segini?" Tanyanya pada diri sendiri.
Tak lama suara teriakan pun mulai memenuhi setiap sudut kamar hotel.
"Kenapa aku bisa telanjang?" Tanyanya sambil membekap mulutnya dengan kedua tangannya.
Memory tentang malam panasnya bersama William pun mulai berputar di pikirannya. Rania semakin membekap mulutnya erat dengan wajah yang mulai memerah.
"A-aku dan Wil-william..." Rania menggelengkan kepalanya saat menyadari sesuatu.
Ceklek
Pintu kamar mandi pun terbuka dan menampilkan sosok suaminya di sana.
"Kau sudah bangun?" Tanya William sambil menggosokkan selembar handuk kecil di rambutnya yang basah.
Rania mengangguk pelan dengan wajah tertunduk. "Kenapa kau tidak membangunkanku?" Tanyanya pelan.
"Aku hanya tidak tega membangunkanmu." Ucap William mendekatkan tubuhnya pada Rania.
"Jangan mendekat...!!" Seru Rania dengan jantung yang mulai berdetak kencang saat William berjalan ke arahnya.
"Ada apa?" William nampak bingung.
"Baiklah..." Ucap William tak ingin Rania kembali berteriak. William pun memilih memundurkan langkahnya.
Pandangan Rania pun terjatuh pada dada bidang William yang terekspos yang terlihat beberapa bekas merah di sana.
Kenapa dadanya seperti bekas kecupan? A-apa itu bekas kecupanku tadi malam? Wajah Rania semakin memerah saat mengingat dirinya yang tak kalah agresif dari William. Ini semua karena pemikiran kotorku hingga membuat aku terbuai akan permainannya. Rania sangat merutuki pemikirannya yang kotor.
"Berbaliklah... Aku ingin ke kamar mandi..." Pinta Rania semakin mencengkram erat selimut yang menutupi tubuh polosnya.
William mendesahkan nafasnya di udara. Kemudian menuruti perintah istrinya. Namun tubuhnya kembali berbalik saat mendengar teriakan istrinya.
"Kenapa sakit sekali..." Ucap Rania dengan merintih. Tubuh Rania pun terduduk begitu saja di atas lantai.
"Rania..." William mendekat. Menatap iba pada wajah istrinya yang kesakitan.
"Jangan mendekat..." Titah Rania. Namun untuk kali ini William tidak akan mendengarkannya.
***
^^^Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!^^^
^^^Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.^^^
^^^- Serpihan Cinta Nauvara (End)^^^
^^^- Oh My Introvert Husband (On Going)^^^
^^^Jangan lupa beri dukungan dengan cara^^^
^^^Like^^^
^^^Komen^^^
^^^Vote^^^
^^^Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...^^^