Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Hari pertama


"Aku lihat akhir-akhir ini kau tidak lagi sering muntah di pagi hari, Kya?" Tanya Rania mengalihkan pembicaraan mereka dari William.


"Mungkin karna sudah memasuki bulan ke empat sehingga rasa mualku mulai berkurang."


"Baguslah jika begitu. Aku sungguh tidak tega melihatmu muntah-muntah begitu."


"Bilang saja jika kau juga sedikit jijik melihat muntahanku." Cibir Kyara.


"Hahaha... Itu juga salah satu alasannya."


"Kau ini..." Kyara memukul pelan lengan sahabatnya itu.


Rania terkekeh. Obrolan mereka kian berlanjut hingga tak terasa semua sayuran sudah selesai di potong.


"Jika kau lelah istirahatlah. Masih ada mereka yang bisa membantuku." Ucap Rania melihat Kyara yang sudah lama membantunya.


"Tidak masalah. Selagi dia tidak rewel jadi aku bisa membantumu."


"Terserah kau saja. Tapi jika kau sudah lelah bawalah istirahat." Tutur Rania lagi.


Kyara mengangguk saja. Hari ini bayinya tidak begitu rewel di dalam sana sehingga ia bisa sedikit membantu Rania yang hari ini mulai berjualan.


"Jangan rewel ya dek hari ini." Ucap Kyara mengelus perutnya yang sudah membuncit.


Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Karena warung akan buka pukul 3 siang, maka Rania, Kyara beserta tiga orang pegawai yang diutus Ibu Rania dari warung bakso sebelumnya untuk membantu Rania berjualan mulai sibuk membereskan tempat. Seperti menyusun bangku dan mengelap meja.


"Hari ini kau cukup menjaga kasir saja ya, Kya. Jangan ikut-ikutan masuk ke dalam kamar mandi. Akan sangat berbahaya bila kau sampai terjatuh karena lantai licin." Peringat Rania.


"Iya, iya. Kau sudah berkata seperti itu hampir 10 kali hari ini." Cebik Kyara.


Hari pertama berjualan warung bakso itu nampak ramai akan pengunjung yang datang. Maklum saja, karena orang-orang yang datang itu sebagian merupakan langganan di warung bakso milik Ibu Rania yang sudah mengetahui jika Ibu Rania sudah memiliki cabang warung bakso dan juga warung bakso itu lebih dekat dengan rumah mereka. Rania dan Kyara nampak bahagia menjalani profesi baru mereka hari itu. Hingga keramaian warung bakso milik Rania saat ini semakin ramai dari hari ke hari.


***


Seorang pria tua nampak berjalan memasuki perusahaan dengan wajah dinginnya setelah keluar dari dalam mobil BMW yang mengantarkannya ke perusahaan. Di belakangnya nampak wanita dan pria paruh baya yang masih cantik dan tampan di usia mereka yang tak lagi muda.


Para karyawan yang melihat kedatangan mereka nampak membungkuk setelah mengetahui jika tuan besar pemilik perusahaan datang berkunjung ke perusahaan yang saat ini dipegang oleh cucunya.


"Dimana Gerry?" Tanya Kakek Surya saat Asisten Jimmy datang tergopoh-gopoh memasuki ruangan yang dulunya di tempati oleh Kakek Surya.


"Pak Gerry saat ini masih berada di ruang rapat dan akan selesai sebentar lagi, Pak." Jelas Asisten Jimmy.


Kakek Surya hanya mengangguk dan mempersilahkan Asisten Jimmy untuk kembali ke ruangan rapat. Walau pun ia sudah tidak sabar mencecar cucunya itu dengan berbagai umpatan, namun ia masih bersabar untuk menunggu hingga waktu rapat selesai. Walau pun bisa saja ia menyuruh Asisten Jimmya untuk membubarkan rapat itu saat ini juga.


"Pa... Jaga emosi Papa... Ingat Papa belum benar-benar pulih saat ini." Ucap Riana yang merasa takut jika penyakit mertuanya itu akan kambuh.


Kakek Surya hanya diam tanpa menanggapi. Saat ini ia hanya ingin melampiaskan kekesalannya pada cucu satu-satunya itu. Tak lama pintu ruangan terbuka lebar dan menampakkan wajah Gerry yang terkejut di sana. Gerry tidak menyangka jika Kakeknya benar-benar berada di depannya saat ini.


Plak


Satu tamparan keras melayang di wajah Gerry saat pria itu sudah berada dekat dengan Kakek Surya.


***


Like, komen dan votenya, yuk!:)