Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Tugasmu bertambah


"Terimakasih, Hana." Balas Rania setelah pelukan mereka terlepas.


"Apa kau baru mengetahui jika kau akan menjadi seorang Ibu?" Tanya Hana yang diangguki oleh Rania. "Sudah ku duga..." Lanjutnya kemudian kembali memeluk tubuh Rania.


"Ya... Aku bahkan tidak tahu jika dia sudah ada hampir empat minggu di rahimku." Balasnya begitu terharu.


Hana tersenyum. "Sekali lagi selamat!" Ucapnya kemudian memeluk kembali tubuh Rania.


"Aku harap kau akan segera menikah dan segera menyusulku menjadi seorang Ibu." Ucap Rania yang membuat Hana seketika bungkam.


Melihat Hana yang terdiam membuat Rania merasa bersalah. "Hana—"


"Ya... Semoga saja!" Ucap Hana kembali tersenyum ceria. "Oh iya, Rania. Aku harus masuk ke dalam dulu karena dokter obgyn sudah menungguku di dalam ruangannya." Pamit Hana.


"Baiklah... Bagaimana kalau minggu besok kau datang ke mansion Kyara. Karena aku juga ingin ke sana mengunjungi Baby Rey di sana." Ajak Rania.


Hana tersenyum. "Baiklah. Kalau begitu sampai jumpa!" Seru Hana kemudian berlalu dari hadapan Rania.


"Aku merasa tidak enak kepada Hana. Sepertinya Hana merasa tidak nyaman akan ucapanku." Lirih Rania merasa bersalah akan ucapannya.


"Sudahlah... Sepertinya Hana baik-baik saja." Ucap William menenagkan istrinya yang terlihat bersalah.


Dari tempatnya berdiri, Dika terdiam menatap punggung Hana hingga benar-benar lenyap dari pandangannya.


"Dika..." Tegur William menepuk pundak Dika yang masih terdiam.


"Ya?" Balasnya setelah mengumpulkan kesadarannya.


"Apa kau masih mau berdiri di sini sambil menatap pintu itu?" Cibir William.


Dika mendengus. "Diamlah. Aku pergi dulu." Pamitnya begitu tidak ramah.


William melipat bibirnya. "Jika masih cinta katakan saja." Bisiknya di telinga Dika.


"Kau..." Geram Dika dengan wajah merah padam.


Tak ingin larut dalam candaan William, Dika pun buru-buru berlalu dari sana setelah berpamitan pada Rania.


"Kau membisikkan apa kepada Dika? Sepertinya dia sangat kesal?" Tanya Rania yang sempat memperhatikan wajah Dika.


"Kau ini..." Geram Rania karena rasa penasarannya tidak terbayarkan. "Biarkan aku jalan sendiri!" Titah Rania merasa diperlakukan seperti anak kecil.


William menghela nafasnya lalu melepaskan rangkulannya di bahu Rania.


"Apa kau ingin memakan sesuatu saat ini?" Tanya William saat mobilnya sudah melaju di jalan raya.


Rania menggeleng. "Aku hanya ingin tidur." Ucapnya lalu menjatuhkan kepalanya di pundak William. William mengelus sayang kepala istrinya. "Bukankah dari yang aku lihat jika wanita hamil itu suka menginginkan sesuatu." Ucap William sambil menatap wajah istrinya yang masih nampak pucat.


"Saat ini aku tidak menginginkan apa-apa. Tapi tidak tahu jika nanti." Balas Rania. Kedua kelopak matanya pun mulai tertutup.


Melihat tingkah istrinya membuat William gemas dan menggeleng. "Yang kau inginkan saat ini hanyalah tidur bukan?" Tanya William yang diangguki lemah oleh Rania.


"Baiklah... Tidurlah... Aku akan membangunkanmu jika sudah sampai nanti." Ucap William yang tak lagi ditanggapi oleh Rania.


"Selamat atas kehamilan istri anda, Tuan." Ucap Steve dengan pelan saat mobil berhenti saat lampu merah.


"Terimakasih, Steve. Tugasmu akan bertambah saat ini. Kau mengerti bukan?" Tanya William tanpa menjelaskan maksud dan tujuannya.


"Saya mengerti, Tuan." Balas Steve yang sudah paham arah pembicaraan Tuannya.


***


Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya... Dan buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update. Dan kalian juga bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...