
Kedatangan Rania dan Kyara kembali ke rukonya malam itu mengagetkan dua anggota lamanya yang sudah lama tidak melihat kedatangan Rania.
"Mbak Rania lagi hamil?" Tanya Surti yang kini menjadi tangan kanan Rania selama Rania tidak berada di sana.
Rania tersenyum. "Iya. Baru jalan tiga bulan." Balas Rania sambil mengelus perutnya yang membuncit.
Surti nampak mengembangkan senyumannya. "Wah, selamat ya, Mbak." Ucapnya tulus.
"Terimakasih, ya." Balas Rania tersenyum.
Mereka pun melakukan perbincangan sejenak di lantai bawah sebelum akhirnya Rania berpamitan untuk naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.
"Untuk malam ini kita tidur di sini saja. Kita bisa pergi ke rumah Ibu besok pagi." Ucap William saat mereka sudah masuk ke dalam kamar Rania.
Rania menatap datar pria yang kini sudah begitu dalam menorehkan luka di hatinya. "Terserah kau saja." Ucapnya menurut. Lagi pula jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Dan Rania yakin jika saat ini Ibu dan ayahnya masih sibuk di warung baksonya untuk tutup.
"Jika kau tidak ingin, aku bisa tidur di luar malam ini." Ucap William saat Rania sudah keluar dari dalam kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya.
"Kau bisa berbagi ranjang denganku seperti biasanya. Anggap saja ini sebagai balas budiku karena kau telah memberi tumpangan padaku selama lima bulan terakhir ini." Ucap Rania yang masih sensitif.
William mengetatkan rahangnya. Namun ia lebih memilih diam dari pada membalas perkataan istrinya yang sedang hamil dan sensitif itu. Rasanya William sangat ingin marah mendengar kata tumpangan dari Rania. Namun rasanya percuma saja untuk mengucapkan kemarahannya yang akan berakibat buruk untuk emosi Rania yang sedang tidak stabil saat ini.
Di kamar yang berbeda, Kyara dan Gerry terlihat begitu kesulitan untuk menidurkan Baby Rey yang merengek sejak tadi namun tidak mau saat ditidurkan.
"Duh... Anak Mama kenapa ini?" Tanya Kyara pada bayinya sambil menepuk bokong Baby Rey.
"Capek kali ya, jadi nangis terus." Timpal Gerry mengelus rambut tebal putranya.
"Capek gimana sih, orang dia kebanyakan tidur gitu tadi di dalam mobil." Balas Kyara merasa bingung.
"Pa..." Baby Rey tiba-tiba saja mengulurkan tangannya pada Gerry.
"Coba biar aku tidurkan." Tawar Gerry sambil mengambil alih Baby Rey dalam gendongan Kyara.
Tak lama berada di dalam gendongan Gerry, Baby Rey pun sudah nampak mulai tenang dan menguap.
"Mau tidur itu..." Ucap Kyara tersenyum senang melihat mata putranya yang sudah layu.
"Hushtt..." Gerry menempelkan telunjuknya di bibir agar Kyara tidak melanjutkan berbicara.
"Huh... Akhirnya tidur juga." Ucap Kyara menghela nafas lega saat melihat Baby Rey sudah terlelap dalam gendongan Gerry. "Kenapa kalau di dalam gendonganmu dia cepat sekali tidur." Ucap Kyara mengelus kepala putranya yang sudah ditidurkan di atas ranjang.
"Karena dia begitu menyayangiku sebagai papanya." Balas Gerry dengan santai.
"Jadi menurutmu dia tidak menyayangiku begitu?" Kyara melebarkan kedua matanya pada Gerry.
"Bukan begitu..." Balas Gerry tersenyum kaku.
"Kau ini..." Dengus Kyara merasa sebal pada suaminya.
"Sudahlah... Jangan galak-galak begitu. Kau terlihat begitu menyeramkan." Cibir Gerry namun masih terlihat takut dengan pelototan mata istrinya. Semenjak aku begitu mencintainya, kenapa dia jadi sering marah dan garang kepadaku? Batin Gerry berteriak sebal pada istrinya.
***
Nanti aku lanjut lagi. Tapi mohon dukungannya ya untuk karya aku dengan cara like, vote dan komennya.☺