
"Aku pulang saja!" Ketty bangkit dari sofa. Matanya masih menatap sinis pada Asisten Jimmy.
"Baiklah. Sopir kantor akan mengantarkanmu pulang." Ucap Gerry mengelus puncak kepala Ketty.
"Tidak perlu. Aku tadi membawa mobil." Ucapnya kemudian.
Gerry dan Ketty pun keluar dari dalam ruangan sambil bergandengan. Sedangkan Asisten Jimmy akan menyusul karena harus mempersiapkan apa saja yang akan mereka bawa. Beberapa karyawan yang lewat berpapasan dengan mereka nampak bertanya-tanya siapakah wanita yang kini sedang bergelayut manja di lengan Gery.
Ketty memasang wajah angkuhnya menatap pada karyawan kekasihnya itu. Ia seolah mempertunjukkan jika dirinya-lah wanita yang akan menjadi pendamping Gerry kelak.
"Angkuh sekali ya, dia..." Ucap Karyawan berbisik-bisik setelah Ketty dan Gerry hilang dari balik lift.
"Benar... Sungguh angkuh sekali dia..."
Melihat Sekretaris Sinta menatap pada mereka, mereka pun segera mendekat ke arah meja Sekretaris Sinta untuk memberikan hasil laporan mereka.
Di dalam lift kedua insan yang belum selesai saling melepas rindu itu nampak kembali memangut satu sama lain. Tangan Gerry kini merangkul posesif pinggang kekasihnya hingga tidak ada jarak antara mereka. Kegiatan panas mereka harus terhenti ketika merasa pintu lift sudah terbuka.
Pandangan Gerry kini beralih pada wanita yang berada tak jauh dari lift tengah tertunduk dengan sapu berada di tangannya. Gerry memang tidak menyadari jika pintu lift sudah terbuka saat ia masih memangut mesra kekasihnya.
Ketty yang melihat Gerry masih berdiam di posisinya pun menarik tangan pria itu keluar dari dalam lift.
Kyara memandang nanar tubuh suaminya yang mulai menjauh dari pandangannya. Cengkraman tangannya makin erat pada sapu di tangannya. Hatinya sungguh sakit ketika melihat langsung suaminya tengah berciuman mesra dengan kekasihnya. Ya, Kyara memang sudah mengetahui desas-desus kedatangan kekasih Gerry di perusahaan dari obrolan para karyawan di lantai 10.
Tanpa terasa satu tetes air mata berhasil lolos di pelupuk matanya. Jika kekasih Gerry sudah kembali, berarti statusnya tidak lama lagi akan berubah. Gerry sudah pasti akan menceraikannya. Tapi... Bukankah jadwal kepulangan kekasih suaminya itu masih 3 minggu lagi?
"Agh, iya.."
"Kau kenapa?" Tanya Rania sambil mengikuti arah pandangan Kyara.
"Kau sudah melihat kekasih suamimu itu?" Tanya Rania menatap geram pada Gerry.
Kyara mengangguk. " Sudahlah... Aku tak apa... Ayo kembali bekerja..." Serunya kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
Rania menghela nafasnya melihat Kyara yang selalu berpura-pura menutupi kesedihannya.
***
Sore itu Kyara pulang lebih awal dari biasanya. Karena besok adalah tanggal merah, jadi selurug karyawan perusahaan diperbolehkan untuk pulang lebih awal.
Kyara memasuki apartemen dengan langkah gontai. Akibat mengandung ia memang mudah lelah akhir-akhir ini. Padahal pekerjaannya juga tidak terlalu berat karena jika ada kesempatan Rania selalu membantunya tanpa sepengetahuan OB yang lain. Lelah di tubuhnya semakin bertambah akibat pemikirannya tentang suaminya.
Kyara memasuki kamar dan tak lupa menguncinya. Belakangan ini Kyara memang memasang mode waspada takut-takut kejadian yang lalu terulang kembali. Kyara memilih membersihkan tubuhnya terlebih dulu sebelum istirahat.
Satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya mulai terlepas. Kyara membasahi tubuhnya di bawah guyuran air shower. Berharap penat di tubuhnya akan segera hilang. Setelah membersihkan diri, Kyara pun memutuskan untuk tidur tanpa makan terlebih dahulu. Selain untuk mengistirahatkan tubuh, ia juga berharap setelah bangun tidur nanti pikirannya yang penuh dengan suaminya menghilang.
*