Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Berhentilah bekerja!


"Diamlah. Kau membuat kepalaku bertambah pusing saja!" Gerutu Rania mengalihkan wajahnya ke samping. Sebenarnya hatinya merasa tercubit saat mendengarkan perkataan Sean yang mengingatkannya kepada perkataan menyakitkan yang dikatakan suaminya waktu itu.


Hingga duapuluh menit berlalu, mobil yang dikendari Sean pun telah sampai di depan gedung menjulang tinggi.


"Aku harap kau segera mengakhiri drama konyol ini sebelum Mommymu mengetahui kebenarannya. Aku sungguh tidak ingin membuat orangtuamu terluka atas kepura-puraan ini." Ucap Rania mengingat betapa bahagianya Nyonya Chelsea saat mengetahui putranya sudah memiliki seorang kekasih.


Sean mengangguk. Tangannya terulur mengelus puncak kepala Rania. "Kau tenang saja. Mommyku pasti akan baik-baik saja." Ucapnya dengan senyuman. Karena aku akan menjadikan kepura-puraan ini menjadi sebuah kenyataan. Lanjut batin Sean.


Rania hanya bisa menghela nafas melihat sikap Sean yang seolah tidak mengerti maksud dan tujuan ucapannya. "Baiklah. Terimakasih telah mengantarkanku. Dan tolong singkirkan tanganmu dari kepalaku karena aku sudah bersuami!" Cetus Rania.


Sean terkekeh dan segera melepaskan elusan tangannya dari rambut Rania. Tanpa membuang waktu terlalu lama, Rania pun segera turun dari dalam mobil dan melangkahkan kakinya memasuki gedung apartemen.


Ceklek


Rania menghela nafas lega saat sudah sampai di dalam apartemen tidak melihat keberadaan suaminya di sana.


"Syukurlah... Sepertinya William belum pulang." Gumamnya menghela nafas lega. Namun kelegaannya itu tidak berselang lama karena pada saat lampu apartemen hidup, Rania dapat melihat dengan jelas sosok William sedang duduk di atas sofa dan kini sedang menatapnya tajam.


"Wi-William?" Rania memasang senyum kaku. "Kenapa kau tidak menghidupkan lampunya?" Tanya Rania mencoba menutupi kegugupannya.


"Aku hanya ingin menunggu kau pulang baru menghidupkan lampu. Sepertinya kau terlihat bahagia sekali malam ini." Sindir William beranjak dari sofa yang didudukinya.


"Bahagia? Untuk apa aku bahagia? Apa kau melihat raut kebahagiaan di wajahku? Perasaanku hanya biasa-biasa saja malam ini." Rania memasang wajah santainya. Ia tidak ingin terlihat bersalah di hadapan suaminya walau ia benar-benar bersalah.


William terdiam dan menatap tajam pada Rania.


"Ah... Sepertinya aku cukup lelah, kalau begitu aku ingin ke kamar dulu." Pamit Rania yang sudah merasa takut saat melihat gumpalan tangan William.


"Ada hubungan apa kau dengan anak Tuan Richard?" Tanya William menghentikan langkah Rania yang sudah berlalu di hadapannya.


Rania menghela nafas sebelum membalikkan tubuhnya.


"Dia hanya atasanku di kantor. Maaf atas kejadian yang tak mengenakkan tadi. Tapi sungguh aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya selain atasan dan bawahan." Rania menyematkan senyuman tipisnya. "Agh, lagi pula untuk apa aku menjelaskannya kepadamu? Lagi pula kau tidak pernah peduli tentangku bukan? Dan tenanglah, aku juga masih bisa menjaga diriku sebagai seorang wanita yang sudah bersuami." Lanjutnya kemudian.


"Bukankah kau sudah mendengar dengan jelas jika Tuan Sean adalah atasanku dan aku adalah sekretarisnya yang baru." Balas Rania.


Atasan dan sekretarisnya? Batin William mengulang ucapan Rania.


"Jadi teman yang kau maksud itu adalah Sean anaknya Tuan Richard?" Tanya William mengeluarkan pertanyaan yang ada di benaknya. "Dan kau bekerja sebagai sekretarisnya?" Tanyanya lagi.


"Ya. Dan dulunya Sean adalah temanku."


"Berhentilah bekerja. Karena aku tidak mengizinkanmu bekerja dengannya!" Perintah William. William masih ingat dengan jelas bagaimana wajah Sean yang seolah menunjukkan bendera perang kepadanya. Dan William juga sangat yakin jika Sean sudah mengetahui tentang pernikahannya dan Rania.


***


...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...


Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (On Going)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...