Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Masalah


Gerry terlihat sedang sibuk menandatangani dan memeriksa setumpuk dokumen di hadapannya. Sesekali tangannya memijit pelipisnya yang terasa berdenyut ketika melihat beberapa data tidak sesuai keinginannya.


"Jimmy." Panggilnya pada Asisten Jimmy yang dengan setia tegak di samping bosnya.


"Iya, Pak." Sahutnya.


"Kembalikan laporan kunjungan ke perusahaan Aditama dari tim HUMAS sekarang. Suruh mereka untuk memeriksanya kembali karna laporan mereka sungguh berantakan!" Makinya menaruh kasar laporan ke sudut meja kerjanya. "Saya sudah menandai apa saja yang harus mereka perbaiki. Dan jangan berikan lagi kepada saya laporan sampah seperti itu!" Lanjutnya berang.


"Baik, Pak!" Asisten Jimmy segera melakukan titah Bosnya. Entah kenapa sejak pagi Bosnya itu selalu marah akan kesahalan sekecil apa pun.


Pikiran Jimmy kini tertuju pada kejadian tadi pagi dimana Gerry yang nampak terkejut jika bukan Kyara-lah yang mengantarkan kopi ke ruangannya. Melainkan Bobby—OB yang sudah hampir dua bulan cuti karena sakit.


Deringan telepon memekakkan telinga membuat Gerry menghentikan kegiatannya. Kening Gerry berkerut dalam ketika nama William tertera di layar ponselnya. Melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, harusnya William baru saja sampai di kota S.


Ada apa kau menghubungiku? Bukannya kau baru sampai di kota S? Cecar Gerry merasa terganggu.


Sepertinya kau harus segera berangkat menyusulku sekarang juga! Karena baru saja pihak proyek memberitahuku jika proses pembangunan jembatan tidak sesuai dengan rencana bahkan jembatan yang baru jadi setengahnya hampir roboh karena bahan-bahan yang digunakan tidak sesuai semestinya. Sepertinya ada beberapa oknum yang menyalahgunakan anggaran dari proyek ini. Geram William di seberang telepon. Bagaimana tidak, ia yang baru saja sampai di kota S langsung mendapatkan laporan yang tidak mengenakkan. Untung saja pada saat kejadian para karyawan belum ada yang bekerja. Lanjutnya.


Wajah Gerry merah padam dengan tangan terkepal. Ia sungguh tidak suka dipermainkan seperti ini. Lihat saja nanti apa yang akan ia lakukan pada orang yang berani-beraninya berbuat curang padanya.


Si4l! Umpatnya.


*


Gerry nampak berjalan tergesa-gesa melewati lobby menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan lobby. Aura kemarahan terlihat jelas di raut wajah tampannya yang membuat orang-orang yang berada disekitarnya bergedik. Tujuannya saat ini adalah segera berangkat menuju bandara untuk terbang ke kota S menggunakan pesawat pribadi keluarganya yang sebelumnya sudah diinformasikan oleh Asisten Jimm pada Pilot untuk bersiap-siap.


Kyara dan Rania yang baru saja sampai di perusahaan setelah menikmati makan siang di seberang perusahaan pun menghentikan langkah kaki. Kaki mereka mengayun menjauh dari Gerry yang terlihat dalam keadaan mood buruk namun tak memudarkan ketampanannya.


"Suamimu, Kya!" gumam Rania yang sedikit banyaknya masih mengagumi paras dari wajah Gerry.


"Heh... pelankan suaramu, Rania. Orang-orang bisa saja mendengarnya!" Peringat Kyara.


"Huh, mulutku ini!" Rania menepuk bibirnya dua kali dengan tangan.


"Sudahlah, ayo kembali bekerja!" Ajak Kyara menyeret tangan Rani menuju lift. Di dalam hatinya Kyara juga bertanya-tanya apa yang membuat raut wajah suaminya seperti itu.


Pesawat keluarga Bagaskara nampak mengudara. Gerry duduk di salah satu kursi dengan Asisten Jimmya di sampingnya. "Kau sudah menyuruh orang-orangku untuk menyelidiki masalah ini?" Tanyanya pada Asisten Jimmy. Walau pun Gerry tahu tanpa di perintahkan pun Asisten Jimmy langsung mengerti untuk melakukannya.


"Sudah, Pak." Jawab Asisten Jimmy.


*