Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Perhatian Kyara


"Terserah kau saja!" Sahut Gerry acuh. Rasa tidak suka kembali menjalar di tubuhnya ketika mendengar Kyara akan dijadikan calon istri sahabatnya.


"Kau ini..." Dengus William mendengar jawaban Gerry.


Gerry melampiaskan kekesalannya dengan meminum beberapa gelas anggur. Berulang kali William dan Reno mencegahnya mengingat tubuh Gerry begitu buruk dalam hal meminum anggur tetapi Gerry tetap tak menghiraukannya. Melihat Gerry yang sudah mabuk berat, membuat William dan Reno memutuskan membawa Gerry pulang ke apartemennya.


"Kalian pulang saja! Aku bisa sendiri!" Usir Gerry ketika sudah sampai di depan apartemennya.


"Baiklah kami akan pulang. Tidurlah, keadaanmu sungguh buruk!" Cecar Reno melihat Gerry yang sudah sempoyongan dan meracau tidak jelas.


"Berisik!" Umpat Gerry.


William dan Reno menggelengkan kepala melihat tingkah Gerry. Mereka pun memutuskan untuk pulang setelah melihat Gerry sudah masuk ke dalam apartemennya.


Gerry memasuki apartemen ketika jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Sesekali Gerry menabrak dinding apartemen karena pandangannya begitu kabur. Merasa tubuhnya tidak lagi bisa berjalan dengan benar, akhirnya Gerry menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.


*


Kyara nampak menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir ketika melihat Gerry yang sedang terlelap diatas sofa. "Kenapa Pak Gerry tidur di sofa?" Kening Kyara mengkerut. Berjalan pelan mendekat ke arah Gerry. Sejenak Kyara memperhatikan wajah Gerry yang nampak damai dalam tidurnya. Melihat posisi Gerry yang pasti tidak nyaman dengan sepatu yang masih melekat di kakinya, Kyara berinisiatif melepasnya. Untung saja kegiatannya tidak mengganggu tidur Gerry yang begitu lelap.


"Sepertinya Pak Gerry kedinginan. Sebaiknya aku ambilkan selimut untuk menyelimutinya." Gumam Kyara. Beranjak menuju kamar untuk mengambil selimut di dalam kamar Gerry.


Jam sudah menunjukkan pukul 07.15 WIB. Tapi Gerry belum menunjukkan tanda akan bangun dari tidurnya. Pria itu terlihat masih nyaman bergulung di dalam selimut. Melihat persediaan bahan-bahan di dalam kulkas mulai habis, Kyara memutuskan untuk membeli bahan-bahan masakan di supermarket sembari menunggu Gerry bangun dari tidurnya. Untung saja uang tabungannya masih cukup sehingga ia tidak perlu berpikir untuk meminta uang pada Gerry di saat kondisi seperti sekarang.


Pukul 8 Gerry terbangun dari tidurnya. Pandangannya mengedar, menyadari kini ia tertidur di ruang tamu bukan di kamarnya.


"Agh, sakit sekali..." Gumam Gerry memegang kepalanya yang terasa berat. Menyingkap selimut yang masih membalut tubuhnya. Ingatannya kembali berputar pada kejadian tadi malam. Setelah menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, Gerry sudah tidak mengingat apa-apa lagi. Melihat selimut yang sudah terjatuh di atas lantai, keningnya nampak berkerut. "Siapa yang menyelimutiku?" Gumamnya heran. "Pasti wanita itu..." Lanjutnya ketika menyadari sesuatu.


Kakinya kini melangkah ke arah dapur ketika merasa tenggorokannya terasa kering. Gerry sejenak menghentikan langkahnya melihat satu piring nasi goreng di atas meja makan. Perutnya yang terasa lapar membuat Gerry memutuskan untuk duduk di kursi meja makan. Menyambar terlebih dahulu satu gelas air yang sudah tersedia di samping piring nasi goreng. Gerry tahu jika Kyara-lah yang menyiapkan makanan untuknya. Gerry menyantap nasi goreng buatan Kyara dengan lahap. Walau pun nasi goreng buatan Kyara sudah dingin tetapi tetap terasa enak di lidahnya.


*


*


*


Lanjut? Happy reading!:)


Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉