
"Aku merasa sejak keluar dari ruko tadi, seperti ada yang mengikutiku." Terang Kyara pada akhirnya saat nafasnya sudah mulai normal.
"Ada yang mengikutimu?" Kedua bola mata Rania membola sempurna. Tangannya menguat memegang pundak Kyara.
"Tapi entahlah... Mungkin hanya firasatku saja." Alibi Kyara seraya terkekeh saat melihat raut wajah Rania mulai berubah panik.
"Kau jangan bercanda, Kya!" Tekan Rania.
"Iya... Aku rasa hanya firasatku saja." Alibi Kyara lagi.
Rania akhirnya menghela nafas lega. "Walau pun begitu, mulai saat ini kau harus pergi denganku jika kemana-mana. Aku takut jika ada orang yang berniat jahan padamu." Titahnya.
"Tidak perlu. Kau terlalu berlebi—"
"Tidak ada tapi-tapian." Putus Rania. Rania pun beranjak dari posisinya.
Kyara hanya bisa menghela nafas pasrah melihat tingkah Rania yang begitu protektif padanya.
*
Waktu pun berjalan begitu cepat. Tidak terasa seminggu lebih sudah Gerry pergi. Dan sampai saat ini ia belum sama sekali menghubungi Kyara dari ponselnya langsung. Kyara hanya mendapatkan kabar Gerry dari pesan singkat yang dikirinkan Asisten Jimmy. Entah apa maksud dan tujuan Gerry tidak ingin mengabarinya langsung.
"Ada apa dengan wajahmu, Kyara?" Tanya Rania yang baru saja menyusul Kyara ke balkon.
"Heh? Kenapa memangnya dengan wajahku?" Heran Kyara. Memiringkan sedikit tubuhnya agar berhadapan dengan Rania.
"Kau terlihat murung."
"Murung? Agh, tidak." Elaknya.
Rania mendengus. "Apa kau merindukan Pak Gerry, hem?" Goda Rania. Rania sedikit banyaknya tahu jika sampai saat Pak Gerry belum juga mengirimkan pesan pada sahabatnya itu.
"Kau ini bicara apa? Sembarangan saja. Untuk apa aku merindukan dia!" Kyara mendengus. Memalingkan wajahnya agar Rania tak melihat kebohongannya.
"Karna kau sudah mencintainya." Goda Rania lagi.
"Rania..." Wajah Kyara sudah memerah dengan bibir mengerucut.
*
"Apa Tuan tidak ingin mengabari Nona Kyara secara langsung?" Ujar Asisten Jimmy saat pertemuan mereka dengan anak dari Tuan Bayu. Saat ini Gerry dan Asisten Jimmy memilih untuk tetap berada di restoran sejenak.
"Untuk saat ini biarlah seperti ini dulu. Aku tidak bisa menahan rasa rinduku padanya dan Rey jika sudah mendengar suaranya. Walau pun hanya mengirimkannya pesan saja, namun aku tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak meneleponnya."
"Tapi Nona Kyara pasti memikirkan tentang anda yang tak kunjung mengabarinya. Apa anda tidak takut Jika Nona Kyara berpikiran buruk tentang anda?" Desak Asisten Jimmy.
"Tak masalah. Dari pada aku harus meninggalkan pekerjaanku di sini saat ini dan nekat pulang menyusulnya. Kau sudah paham bukan maksudku, Jimmy?" Tekan Gerry.
Helaan nafas Asisten Jimmy terdengar kasar. Tangannya terulur mengambil secangkir kopi yang masing tersisa setengahnya. Asisten Jimmy pun kembali mengambil ponselnya yang bergetar. Melihat pesan dari Kyara yang masuk kembali ke poselnya.
Baiklah. Kabarkan saja kepadanya jika aku dan Rey baik-baik saja.
Isi pesan Kyara setelah ia mengirimkan pesan jika Gerry sangat sibuk saat ini dan menanyakan keadaanya dan putranya.
"Keadaan Nona Kyara dan Baby Rey baik-baik saja." Ujar Asisten Jimmy. Meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Pandangannya tertuju pada Gerry yang kini menatap lekat wajah putranya di layar ponselnya.
"Baguslah jika begitu."
"Untuk pertemuan lanjutan dengan Asisten Tuan Rangga aku serahkan kepadamu. Aku tidak mungkin terlalu lama berada di sini sedangkan pikiranku sudah mulai kacau saat ini." Gerry memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
***
Lanjut?
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺