Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Mengurus bayi


"Sekali lagi maafkan aku, Kyara. Aku tau ini semua salahku yang telah berprilaku buruk padamu sejak awal kita menikah."


"Sudahlah, jangan lagi mengungkit masa lalu yang membuat hatiku terluka kembali." Kyara menghela nafasnya sejenak. "Aku rasa pembicaraan kita sudah cukup sampai di sini." Kyara pun berlalu dari hadapan Gerry. Kyara segera menghapus air matanya yang mengalir begitu saja sambil terus berjalan memasuki kamar.


Gerry mengusap kasar wajahnya saat Kyara sudah hilang dari pandangannya. "Bagaimana pun caranya aku akan tetap memperjuangkan agar kau tetap bersamaku, Kyara." Tekadnya.


*


Malam semakin larut, namun Gerry masih betah pada posisinya di balkon kamarnya. Sejak pembicaraannya dengan Kyara tadi, ia sama sekali belum memasuki kamarnya kembali. Gerry lebih memilih menenangkan pikirannya dan berpikir bagaimana caranya agar Kyara tetap berada disisinya.


Sedangkan di dalam kamarnya, Kyara nampak gelisah menunggu Gerry yang tak kunjung masuk. Apa lagi ia mendengar suara gemuruh di luar sana yang menandakan akan turun hujan. Karena Gerry tak kunjung masuk juga, akhirnya Kyara yang sudah lelah menunggu itu pun tertidur.


Pukul 1 dini hari Gerry pun masuk ke dalam kamarnya. Pandangannya tertuju pada Kyara yang sudah terlelap tidur dan Baby Rey yang masih nyaman dalam tidurnya. Setelah memandang cukup lama, Gerry pun memutuskan untuk masuk ke kamar mandi guna mencuci muka dan menggosok gigi sebelum tidur.


"Sebaiknya aku tidur di sofa saja." Gumamnya. Gerry pun berjalan menuju sofa yang cukup besar dan empuk itu kemudian merebahkan tubuhnya di sana. Tak membutuhkan waktu lama akhirnya Gerry pun tertidur karna matanya yang sudah sangat berat sedari tadi.


Oek


Oek


Tangisan bayi yang cukup nyaring membuat Gerry yang belum lama tertidur itu pun kembali terjaga. Gerry mengucek kedua matanya kemudian bangkit dari pembaringan menuju box bayinya.


Baby Rey masih terus menangis. Gerry yang tak kehilangan akal saat mengingat kegiatan Kyara menenangkan bayinya pun membuka popok bayi itu. Mungkin saja popok Baby Rey sudah penuh hingga membuatnya tidak nyaman dalam tidurnya. Dan benar saja, saat dibuka ternyata popok Baby Rey sudah penuh.


Gerry mulai membuka popok Baby Rey dan mengelap bagian tubuh bawah bayinya menggunakan tisu basah. Setelah mengganti popok Baby Rey, Gerry menggendong kembali bayinya karna Baby Rey tetap menangis.


Mendengar suara tangisan bayinya yang cukup keras, akhirnya Kyara terbangun dari tidurnya. Pandangan Kyara menuju pada box bayinya dimana Gerry tengah menggendong Baby Rey. Karna posisi Gerry tegak membelakanginya, Gerry pun tak sadar jika Kyara saat ini sudah berada di belakangnya.


"Kenapa tidak membangunkanku?" Ucap Kyara tiba-tiba.


Gerry sontak berbalik. "Sepertinya Rey ingin menyusu." Ucap Gerry tanpa menjawab pertanyaan Kyara.


"Apa kau mengganti popok Rey?" Tanya Kyara melihat bekas popok Baby Rey masih berada dalam plastik di atas lantai.


Gerry mengangguk membenarkan. Sejenak pandangan Kyara menatap dalam pada kedua bola mata Gerry lalu tangannya terulur mengambil Baby Rey dalam gendongan Gerry.


"Istirahatlah... Aku tahu kau baru tertidur." Ucap Kyara kemudian duduk di atas karpet bulu dengan bersandar pada dinding. Kyara memang tak ingin memanjakan tubuhnya menikmati setiap fasilitas yang diberikan keluarga Bagaskara. Karna ia sadar jika saat kembali ke kota A ia akan terbiasa hidup dengan kesederhanaan sama seperti orang-orang biasa lainnya.


***