
Cahaya mentari pagi yang semakin naik menerpa wajah Gerry yang masih lelap dalam tidurnya. Tubuh Gerry menggeliat meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Pandangan Gerry menyapu ke seluruh kamar mencari keberadaan istrinya dan bayinya.
Melihat tidak ada tanda-tanda keberadaan Kyara dan Baby Rey, Gerry pun memutuskan untuk membersihkan tubuhnya lebih dulu. Kedua sudut bibir Gerry nampak tertarik saat melihat pakaian gantinya sudah disiapkan oleh Kyara seperti biasanya. Rasa lelah yang mendera terbayar sudah saat melihat lagi wajah istri dan anaknya. Gerry melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan senyuman yang tidak menyurut dari wajahnya.
Gerry telah siap dengan setelan celana jeans bewarna hitam dipadukan dengan kaos polos bewarna putih. Hari ini ia berencana akan membawa Kyara jalan-jalan sekalian membeli perlengkapan Baby Rey yang sudah habis.
"Kyara..." Suara Gerry mengalun memanggil Kyara yang tengah menjemur Baby Rey di balkon.
Kyara menoleh. "Kau sudah bangun?" Tanyanya.
Gerry mengangguk. "Bahkan sudah mandi." Tambahnya.
Kyara tersenyum tipis. Sejenak Kyara menatap dalam pada penampilan Gerry yang sederhana namun terkesan elegan di tubuh gagahnya.
Gerry mendudukkan tubuhnya di samping Kyara. Mengelus puncak kepala Baby Rey yang sedang tertidur.
"Dia lucu sekali..." Ucap Gerry.
"Rey memang lucu dan tampan." Tambah Kyara.
Gerry mengangguk menyetujui.
"Semoga kelak Rey akan menjadi anak yang tangguh dan bisa selalu menjagamu." Ucap Gerry tiba-tiba.
"Apa maksudmu?" Kening Kyara mengkerut.
"Jika Rey sudah besar nanti dan aku sudah tidak ada, aku harap Rey bisa menjadi sosok pengganti diriku yang bisa menjagamu. Rey pasti akan sangat beruntung memiliki ibu sepertimu."
"Kau ini bicara apa?" Kyara merasa tak suka saat Gerry berbicara kematian seperti itu. Jantungnya bahkan berdetak dengan cepat saat ini.
"Umur itu tidak ada yang tahu. Aku hanya berandai saja. Namun aku selalu berharap agar bisa selalu menjagamu dan Rey sampai aku tua nanti." Tatapan Gerry jauh memandang dengan pandangan kosong.
"Sayangilah Rey setulus hatimu. Walau sampai saat ini kau belum bisa menerima hatiku, namun aku sudah sangat beruntung bisa memiliki istri sepertimu." Lanjutnya kemudian.
"Agh, ya. Aku sampai lupa. Bukankah kau ingin berbelanja keperluan Rey hari ini? Aku akan menemanimu sekalian kita bisa jalan-jalan." Ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah." Balas Kyara. Lagi pula sudah sangat sering Gerry mengajaknya untuk berjalan-jalan, namu Kyara selalu menolaknya. Untung saja hari ini warung Rania tutup sehingga ia bisa menitipkan Rey sejenak.
"Apa kau sudah siap?" Kepala Gerry nampak menyembul dari balik pintu. Pria itu tengah menggendong Baby Rey yang sedang memainkan bebek mainan di tangan mungilnya.
"Tunggu sebentar." Kyara buru-buru menyambar tas selempang di atas ranjang.
"Anak Papa baik-baik ya sama Tante Rania..." Gerry membenamkan ciuman cukup lama di kedua pipi putranya.
"Rania. Tolong jaga Rey dengan baik jika kami tidak ada." Ucap Gerry dengan tatapan penuh arti pada Rania.
"Maksud Bapak? Saya pasti akan menjaga Rey dengan baik." Balasnya begitu bingung.
"Terimakasih. Saya dan Kyara pergi dulu." Pamitnya. Pandangan Gerry menatap lama pada Baby Rey yang masih asik pada mainannya. Entah mengapa Gerry merasa begitu berat meninggalkan putranya. Padahal ialah yang paling bersemangat untuk mengajak Kyara pergi dengannya.
***
Lanjut?
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺