Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Aku belum memaafkanmu


"Karena aku memang ada di dekatmu saat ini." Lirih William sambil melingkarkan kedua tangannya di perut Rania. Tak tinggal diam, tangannya pun mengelus perut buncit istrinya dimana bayinya kini bersemayam.


"Wi-william..." Rania tersentak. Membalikkan tubuhnya menghadap pada wajah yang sudah sangat dirindukannya.


William melebarkan senyumannya. Menatap rindu pada wajah yang acap kali masuk ke dalam mimpinya.


"Kau—" Ucapan Rania melayang begitu saja di udara saat bibirnya sudah terbungkam oleh bibir tebal suaminya.


Ciuman lembut itu pun berlangsung cukup lama karena Rania juga turut membalasnya. Namun ciuman itu pun terhenti pada saat Rania mengingat permasalahan diantara mereka dan Rania langsung menggigit bibir bawah William.


"Apa yang kau lakukan!" Ucap Rania sambil memukul pelan dada bidang suaminya.


"Menciummu." Balas William dengan acuh.


"Kenapa kau menciumku? Aku bahkan belum memaafkanmu!" Cetus Rania sambil menatap William tajam. Kedua bola mata wanita hamil itu kini terlihat mulai mengembun. Walau pun hatinya saat ini sangat begitu senang saat bisa kembali melihat wajah yang sudah lama dirindukannya, namun ketika mengingat masalah berat itu, membuatnya sirna begitu saja.


William menghela nafas panjang. "Apa kau belum mau memaafkanku jika aku sudah menjelaskan kebenarannya padamu?" Tutur William dengan lembut.


"Penjelasan apa yang kau maksud? Apa kau ingin menjelaskan jika saat ini kau sudah ingin bertanggung jawab pada anak itu dan ibunya?" Tanya Rania sambil menahan sesak di dadanya.


"Masuklah lebih dulu. Aku akan menjelaskan padamu saat suasana hatimu sudah mulai tenang tanpa pemikiran buruk tentangku." Ucap William sambil menggenggam tangan istrinya.


"Jangan menyentuhku!" Rania menghempaskan tangan William. Lalu berjalan begitu saja masuk ke dalam rumah.


Apa semua ibu hamil sesensitif itu? Aku bahkan belum menyapa bayiku yang kini sudah semakin membesar di dalam perutnya. Batin William sambil mengusap kasar wajahnya.


Rania Melangkah memasuki ruang tamu dengan jantung yang kini berdebar begitu cepat saat masih merasakan bagaimana hangatnya ciuman yang William berikan.


Seenaknya saja menciumku sedangkan dia belum menjelaskan apa pun. Amuk batin Rania.


"Makanlah lebih dulu." Ucap Rania sambil meletakkan sepiring nasi beserta minuman di hadapan William.


William menarik tipis kedua sudut bibirnya. Walau pun Rania belum memaafkannya karena belum mendengar penjelasannya, namun wanita itu masih melakukan kewajibannya sebagai seorang istri untuk melayaninya.


"Terimakasih." Ucap William dan lebih memilih menuruti perintah istrinya. Karena perutnya memang sudah sangat lapar karena tidak sempat makan lebih dulu dan lebih memilih untuk langsung berangkat menuju kampung halaman istrinya.


Lima belas menit berlalu, akhirnya William pun telah selesai menikmati makanan buatan istrinya yang selalu terasa nikmat di lidahnya.


"Biar aku saja yang membereskannya." Ucap William lalu segera beranjak saat melihat Rania sudah hampir beranjak membereskan piring sisa makanannya.


"Istirahatlah. Aku tahu kau pasti lelah. Biar aku yang membereskannya. Setelah itu kita bisa membahas apa yang ingin kau bicarakan." Perintah Rania lalu mengambil piring dan gelas kotor itu dari tangan William.


William membiarkannya. Dan lebih memilih untuk mengistirahatkan punggungnya sejenak sebelum menyampaikan penjelasan yang sangat panjang pada istrinya.


***


Vote, komen dan likenya dulu baru lanjut lagi ya😌


Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺


- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)