
"Sudahlah, Rania. Tidak perlu memikirkannya. Kau harus terbiasa dengan sikap William yang seperti ini." Rania menghembuskan nafas pelan di udara. "Lebih baik aku segera bersiap untuk berangkat bekerja." Rania seketika melebarkan senyumannya dan kemudian buru-buru melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Apakah benar ini aku?" Gumam Rania menatap pantulan tubuhnya di depan cermin. baju kemeja bewarna putih dan juga rok selutut yang membungkus tubuhnya membuat Rania terlihat lebih anggun dibandingkan hari-hari sebelumnya saat ia masih menjadi OB.
"Baiklah Rania... Kau harus semangat buat hari pertamamu bekerja." Rania mengepalkan tangannya di udara. Rania pun dengan buru-buru memakai sepatu kemudian tasnya saat melihat jam sudah hampir menunjukkan pukul tujuh.
Nafas Rania terdengar naik turun setelah sampai di halte bus yang tidak terlalu jauh dari gedung apartemen. Hari ini Rania memang memilih menaiki bus sebagai alat transportasinya menuju perusahaan. Tak lama menunggu bus yang dinanti pun akhirnya tiba. Setelah berdesak-desakkan dengan penumpang lainnya yang juga ingin masuk, Rania pun akhirnya bisa masuk ke dalam bus walau harus berdiri karena tempat duduk di dalam bus sudah penuh.
Tak masalah jika berdiri. Se**mangat, Rania. Batin Rania menjerit.
*
"Felix..." Suara cempreng Rania terdengar memekakkan telinga saat melihat seseorang yang sangat ia kenali berjalan melewatinya.
Pria yang ia sebutkan namanya itu pun berbalik. "Nona Rania." Sahut Felix dengan datar. Felix pun menatap penampilan Rania dari atas sampai bawah. "Ternyata anda bisa sedikit anggun juga jika memakai pakaian seperti ini." Ucap Felix.
"Kau itu mau memujiku atau menghinaku?!" Amuk Rania berkacak pinggang.
"Tidak kedua-duanya, Nona." Balas Felix dengan santai.
"Kau..." Geram Rania menggertakkan giginya.
"Rania..." Suara bariton yang berasal dari belakangnya membuat Rania membalik.
"Sean..." Ucap Rania melebarkan senyumannya. Rania memperhatikan dengan seksama penampilan Sean yang terlihat begitu gagah dengan jas yang membalut tubuh kekarnya. "Kau terlihat begitu tampan pagi ini!" Puji Rania dengan mata berkedip-kedip.
Sean tertawa. "Sejak dulu aku memang sudah tampan. Kau saja yang tidak pernah menyadarinya." Seloroh Sean.
"Cih. Menyesal aku memujimu." Sungut Rania.
"Felix. Antarkan Rania menuju ruang kerjanya. Aku akan menyusul sebentar lagi." Perintah Sean pada Felix.
Felix mendesahkan nafas di udara. "Baiklah, Tuan." Menatap pada Rania. "Mari Nona, ikut saya." Ajak Felix pada Rania.
Rania menatap Felix sebal namun tetap mengikuti langkah pria itu.
"Apa? Jadi aku hanya ditugaskan menjadi sekretaris ke dua yang bertugas mendampingi presdir saat ia melakukan pekerjaan di luar kantor ataupun luar kota?" Rania menatap tak percaya pada Felix dan sekretaris Deby yang sedang menjelaskan pekerjaan wanita itu. "Kenapa pekerjaanku begitu mudah sekali." Gumam Rania pada dirinya sendiri.
Sekretaris Deby tertawa kecil. "Itu karena presdir Sean hanya ingin berdekatan dengan anda Nona Rania." Balasnya.
"Kenapa tidak denganmu saja?" Gerutu Rania menatap sebal sekretaris Deby yang tengah menertawakannya.
"Karena saya sudah memiliki suami dan dua orang anak. Mana mungkin Tuan Sean ingin mengajak saya. Tuan Sean juga berkata tidak ingin membuat suami saya cemburu."
"Dia itu ada-ada saja." Ucap Rania merasa sebal.
"Tapi anda tenang saja Nona Rania. Karena nantinya anda juga akan ikut membantu saya memeriksa beberapa dokumen jika diperlukan."
"Baiklah. Lalu apa tugas saya hari ini?" Tanya Rania mendaratkan tubuhnya di samping sekretaris Deby.
"Hari ini anda hanya perlu memperlajari tugas-tugas sebagai seorang sekretaris Tuan Sean dan apa saja yang dibutuhkan oleh Tuan Sean. Dan juga nanti malam anda memiliki tugas untuk mendampingi Tuan Sean di acara makan malam bersama rekan-rekan bisnis orangtuanya di kediaman orangtua Tuan Sean." Tutur Deby.
***
Mana nih vote, like dan komennya? Kok gak kelihatan🤧😩