Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Menjaganya dengan baik


"Jika kau benar-benar mencintainya, aku ikhlaskan istriku untuk kau jaga dan kau miliki nantinya. Tapi jika kau sudah mendapatkan hatinya, aku harap kau bisa menjaganya dengan baik. Begitu pula dengan anak kami." Gerry menghela nafasnya yang kian memberat. Dadanya terasa sesak. Ujung matanya pun sudah nampak basah.


"Apa maksudmu?" Ucap William merasa aneh dengan ucapan Gerry.


"Kau pasti akan mengerti. Masuklah ke dalam jika kau ingin menemuinya. Untuk saat ini aku memang belum bisa berada jauh darinya. Aku masih ingin berdekatan dengan anak kami. Aku ingin menebus setiap perlakuan buruk dan dosa-dosaku. Kau juga pasti akan mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang ayah." Tutur Gerry dengan pandangan ia jatuhkan pada satu arah.


"Aku pergi dulu. Jika ada masalah kau bisa menghubungiku nantinya." Gerry pun beranjak dari duduknya.


"Kau mau kemana?" William mencekal lengan Gerry.


"Aku hanya ingin membeli makanan." Balas Gerry.


William pun mengangguk. Gerry memberikan tepukan pada bahu William sebelum benar-benar pergi dari sana.


"Aku tahu kau sudah menyadari perasaanmu saat ini Gerry. Jika kau sudah mencintai Kyara. Aku bisa melihat cinta yang begitu tulus darimu untuknya. Dan aku tidak pernah melihat wajah bodohmu itu saat panik bahkan saat kau masih dengan Ketty." William memijit pangkal hidungnya yang terasa berdemyut.


*


"Kau selalu saja berakhir di rumah sakit." Gumam Rania mendekat pada ranjang Kyara.


Merasa ada yang mendekat ke arahnya, Kyara pun membuka kedua matanya.


"Rania...." Panggil Kyara dengan lirih.


"Ada apa? Apa kau menginginkan sesuatu." Tanya Rania.


"Aku haus..." Cicitnya. Rania pun dengan sigap mengambilkan segelas minuman dan membantu Kyara untuk minum.


"Pak Gerry sedang pergi sebentar. Ada apa kau mencarinya?" Tanya Rania.


"Aku hanya ingin berterimakasih padanya." Lirih Kyara.


"Untuk?" Kening Rania mengkerut.


"Karena ia sudah membawaku ke rumah sakit." Jawab Kyara.


"Itu sudah kewajibannya sebagai suamimu yang harus siaga. Jadi kau tidak perlu berterimakasih untuk itu."


"Apa perutmu masih sakit?" Tanya Kyara kemudian.


"Tidak... Perutku sudah baik-baik saja." Kyara mengelus perutnya yang membuncit.


"Baguslah jika begitu..." Ucap Rania.


Tak lama William pun masuk ke dalam ruangan Kyara. Mereka pun terlibat perbincangan ringan hingga William pun harus pamit untuk kembali ke Ibu kota malam ini. Dan selama tiga hari ini Kyara pun harus di rawat inap di rumah sakit sampai keadaanya benar-benar pulih. Kakek Surya, Papa Johan dan Mama Riana yang mengetahui keadaan Kyara pun hari ini datang untuk menjemput Kyara pulang dari rumah sakit. Sedangkan Gerry, pria itu lebih memilih mengerjakan pekerjaannya di ruang rawat Kyara walau Kyara sudah menyuruhnya untuk istirahat di rumah mereka atau di hotel saja.


"Apa tidak lebih baik jika kau ikut kami saja agar ada yang bisa memantau keadaanmu sampai kau melahirkan, Kya?" Saran Mama Riana. Bukannya bermaksud merendehkan Rania tidak bisa menjaga Kyara. Hanya saja Mama Riana paham akan kesibukan Rania yang juga memiliki tanggung jawab.


"Tak apa... Aku di sini saja, Mah. Aku akan berusaha lebih hati-hati dan menjaganya untuk ke depannya sampai aku melahirkan nanti." Balas Kyara mengelus perut buncitnya.


Saat ini mereka sudah berada di ruko Rania karena saat Kakek Surya sudah tiba di rumah sakit, mereka pun membawa Kyara untuk langsung pulang.