
Tak lama pelayan pun datang menghidangkan minuman pada mereka.
"Terimakasih, Bibi." Ucap Kyara, Dika dan Rania nyaris bersamaan.
"Sama-sama, Nona, Tuan." Balas pelayan dan beranjak dari sana.
"Dia itu siapa, Kya?" Bisik Rania melihat pada Dika yang duduk di seberangnya.
"Dika, sahabat kecil Gerry." Jelas Kyara.
Rania mengangguk paham. "Ternyata teman Pak Gerry tampan-tampan ya, Kya." Seloroh Rania sambil tertawa kecil.
Kyara menggeleng melihat tingkah Rania yang sudah mulai keluar aura kecentilannya.
"Oh iya, Dika. Ini Rania sahabat baik aku. Dan Rania, ini Dika sahabat Gerry." Ucap Kyara.
"Agh, iya. Kita belum berkenalan." Dika beranjak dari sofa yang didudukinya mendekat pada Rania. Rania pun sontak berdiri.
"Dika."
"Rania."
Tak lama ponsel Dika pun berbunyi.
"Kyara. Aku harus segera kembali ke rumah sakit karena ada pasien gawat darurat." Ucap Dika mendekat pada Kyara.
"Apa kau tidak jadi pulang?" Tanya Kyara.
"Sepertinya tidak. Ada pasien yang lebih membutuhkanku saat ini."
Kyara mengangguk paham.
"Aku pergi dulu." Pamitnya pada Kyara dan Rania.
"Hati-hati. Dan terimakasih telah mengantarkanku kemari." Ucap Kyara.
Dika mengangguk. Kemudian berbalik meninggalkan mansion.
*
"Dia tak kalah tampan dari Pak Gerry, ya, Kya." Ucap Rania setelah mereka sudah berada di dalam kamar Rania.
Kyara meletakkan Baby Rey di dalam box bayinya kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping Rania.
"Jangan mulai deh..." Ucap Kyara.
"Apa kau merindukan William, hem?" Tebak Kyara.
"Sedikit." Jawab Rania apa adanya.
"Aku pikir William akan kembali saat mendengar kabar yang menimpa Pak Gerry." Lanjut Rania kemudian.
"Mungkin dia memiliki kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan." Timpal Kyara.
"Mungkin saja."
Kedua sahabat itu pun larut dalam pemikiran mereka masing-masing.
"Apa kondisi Pak Gerry sudah ada perkembangan?" Tanya Rania memecahkan keheningan diantara mereka.
Kyara menggeleng. Kemudian bangkit mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang.
"Entah sampai kapan Gerry akan sadar dari komanya." Lirih Kyara menatap pada box Baby Rey.
"Pak Gerry akan baik-baik saja." Ucap Rania sambil mengelus punggung tangan Kyara.
Kyara mengangguk lemah. "Aku kembali ke kamar dulu. Kau istirahatlah. Aku tahu kau pasti lelah seharian mengurus Rey." Ucap Kyara. Kemudian mengambil Baby Rey dari dalam box bayi.
"Kau juga istirahatlah. Jika kau memerlukan bantuan panggil saja aku." Ucap Rania.
Kyara mengangguk. Dengan hati-hati menggendong Baby Rey yang sudah tertidur pulas dengan mulut terbuka.
"Dia lucu sekali." Rania mengelus pipi bulat Baby Rey.
Kyara tersenyum. "Aku ke kamar dulu." Pamitnya.
"Baiklah." Ucap Rania lalu membenamkan ciuman di pipi Baby Rey.
Kyara menghela nafas berat setelah meletakkan Baby Rey di atas ranjang. Dadanya selalu terasa sakit setiap melihat foto pernikahannya dengan Gerry yang tergantung di dinding kamarnya. Tak ingin larut dalam kesedihan, Kyara pun memilih untuk membersihkan tubuh lebih dulu sebelum tidur.
Tak memakan waktu lama, Kyara pun sudah selesai membersihkan tubuhnya. Kyara pun naik ke atas ranjang dengan hati-hati agar tidak membangunkan bayinya.
"Malam ini anak Mama tidur di sini, ya. Mama ingin memelukmu sepuasnya. Kau pasti merindukan Mama, bukan? Sama seperti Mama yang juga merindukanmu." Kyara mencium kening putranya kemudian ikut tertidur di samping Baby Rey.
***
Masih ada yang kesel sama sikap Gerry dulu gak?