Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Kesedihan Rania


"Di luar negeri?" Gumam Gerry nampak berpikir. "Sepertinya orang yang akan dijodohkan dengan Rania bukan orang sembarangan." Lanjut Gerry kemudian. Bukan tanpa alasan Gerry mengatakan itu. Mendengar jika orang-orang berseragam hitam lengkap dengan senjatanya yang mendatangi Ibu Rania, Gerry dapat menyimpulkan jika orang yang menyuruh mereka bukanlah orang sembarangan. Dan dapat dipastikan jika mereka adalah seorang pengawal.


"Entahlah... Tapi aku yakin ibu Rania tidak memandang dari harta mereka. Namun menjodohkan Rania dengan cucu sahabat Kakeknya adalah salah satu amanat yang diberi Kakek Rania sebelum ajal menjemputnya.


Gerry mengangguk paham. "Jika ada yang bisa aku lakukan untuk membuatmu tidak mengkhawatirkan sahabatmu lagi, katakan saja." Ucap Gerry mengelus kepala Kyara.


Kyara mendongak. Menatap wajah suaminya yang terlihat menatapnya dengan senyuman. "Terimakasih." Ucap Kyara mengelus rahang kokoh suaminya.


Gerry nampak memejamkan mata menikmati sensasi yang diberikan istrinya. "Ayo masuk ke dalam. Cuaca sudah semakin dingin." Ajak Gerry kemudian bangkit. Ia tak ingin berlama-lama di posisi seperti ini dengan istrinya. Bisa-bisa hasratnya akan naik dan tak tertahankan.


Kyara nampak bingung dengan ajakan Gerry. Namun Kyara tetap mengikuti langkah suaminya kembali masuk ke dalam kamar mereka.


*


Semalaman hujan deras mengguyur kota kecil yang menjadi tempat dimana Rania tinggal. Rania membuka gorden jendelanya tanpa membuka pintu jendela. Ternyata hujan deras masih terus berjatuhan membasahi bumi tempat ia berpijak. Dinginnya hujan mulai menusuk ke dalam pori-pori kulitnya. Rania semakin mengeratkan jaket yang melekat di tubuhnya dengan tangannya.


Pandangannya menatap lurus ke depan dengan kosong. Sudah beberapa hari ini ia lewati dengan kesendirian di ruko dua tingkat miliknya. Tiada lagi suara tangisan bayi yang mengisi setiap sudut ruangan rukonya. Tiada lagi canda tawa Kyara yang terdengar di indera pendengarannya. Rania bersedih. Wajah pucatnya berubah sendu saat mengingat betapa indah hari-harinya dulu dengan sahabatnya dan Baby Rey.


"Kya... Aku sangat merindukanmu..." Lirih Rania. Tanpa terasa setetes air mata jatuh membasahi pipi pucatnya. "Apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku bingung... Aku sungguh kehilangan arah tanpa sosok dirimu, Kya." Akhirnya air mata Rania jatuh semakin mengalir deras bersamaan hujan yang semakin deras membasahi bumi.


Hari ini Rania memutuskan untuk libur berjualan dan mengurung diri di dalam kamarnya. Sebelum besok ia harus datang ke rumah ibunya untuk membahas masalah pernikahannya yang akan digelar beberapa bulan lagi.


"Rumah tangga seperti apa yang akan aku jalani esok hari? Apakah aku akan mengikuti jejak Kyara menikah tanpa mencintai satu sama lain? Nasib kita memang sungguh malang, Kya. Namun kau beruntung karena saat ini Pak Gerry benar-benar mencintaimu. Sedangkan aku? Apakah suamiku kelak akan mencintaiku seiring berjalannya rumah tangga kami?" Rania merasa tak yakin dengan dirinya yang serba kekurangan itu.


Siang harinya Rania memilih untuk membersihkan kamarnya dan kamar Kyara dulu untuk menghilangkan kesedihannya tentang Kyara dan masa depannya.


"Baby Rey..." Rania berkaca-kaca saat mainan Baby Rey terjatuh dari atas lemari ke tangannya yang sedang sibuk mengepel lantai kamar Kyara dengan menggunakan tangannya. "Tante Rania sangat merindukanmu.... Huuu..." Rania mulai menangis tersedu-seduh sambil mendekap mainan Baby Rey di dadanya.


***


...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...


Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (On Going)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...


.


.


.