Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Rasa aneh


"Gerry, kau mau kemana?" Tanya Reno melihat Gerry menuju mobilnya setelah berganti pakaian.


Setelah selesai bermain basket, Gerry memang memutuskan untuk pulang. Entah kenapa ia sangat ingin cepat sampai di apartemen memastikan Kyara sudah kembali ke apartemennya.


"Pulang." Jawab Gerry singkat.


"Hey, Gerry... Ayolah... Kita masih memiliki banyak waktu untuk berkumpul di cafe terlebih dahulu." Reno mencegat tangan Gerry yang ingin membuka pintu mobil.


"Sudahlah, biarkan saja dia pulang." Ucap William memutuskan cekalan tangan Reno pada Gerry.


Gerry tak lagi menghiraukan panggilan Reno yang melarangnya untuk pulang.


"Kau ini bagaimana, Will? Bukankah setelah ini kita mau nongkrong di cafe dulu. Sekarang kau malah membiarkannya pergi!" Maki Reno pada William.


"Biarkan saja dia pulang. Apa kau tidak melihat sedari tadi Gerry tidak fokus pada permainannya? Seperti ada hal yang mengganggu pikirannya. Mungkin ada masalah yang harus dia selesaikan." Jelas William melihat Reno yang masih menahan kekesalannya.


"Masalah apa yang ia hadapi? Bukankah tadi dia hanya tidur dan tidak melakukan apa-apa di apartemen. Huh, menyebalkan sekali!" Gerutu Reno. Tetapi mendengar penjelasan William Reno sedikit membenarkannya. Gerry memang tidak fokus dalam permainan mereka tadi. Bahkan teman-teman mereka banyak yang kecewa melihat permainan Gerry yang buruk. Tidak seperti biasanya.


"Sudahlah, kita masih bisa mengajaknya esok hari. Biarkan saja dia untuk hari ini." Saran William.


"Baiklah, ayo kita pergi. Anak-anak yang lain sudah menunggu." Ajak Reno dan diangguki kepala oleh William.


*


Gerry melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Kelihaiannya dalam mengemudi tidak diragukan lagi. Dengan lihai mobilnya menyalip banyaknya kendaraan yang menghalangi jalannya. Tujuannya hanya satu. Ia ingin cepat sampai di apartemen saat ini juga!


Langkah kaki jenjangnya melebar ketika sudah memasuki apartemen. Pandangannya mengedar mencari sosok yang sudah berhasil mengganggu pikirannya. Melihat tidak adanya keberadaan Kyara di lantai satu, Gerry pun melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai dua.


Pintu yang dibuka secara paksa membuat Kyara yang sedang berganti pakaian terlonjak kaget. Ia memang baru sampai di apartemen setelah lama bersantai di taman menunggu kepulangan teman Gerry. Kyara memang tidak tahu jika Gerry dan teman-temannya sudah sejak lama meninggalkan apartemen. Kyara hanya takut jika keberadaannya diketahui oleh teman-teman suaminya itu


"Ba-bapak..." Cicit Kyara melihat Gerry-lah pelaku yang membuka paksa pintu kamarnya. Reflek tangannya menutupi dadanya dengan baju yang masih ia pegang.


"Kemana saja kau dari tadi, huh?" Ucap Gerry. Satu tangannya kini mencengkram dagu Kyara. Walau pun sudah tahu jawabannya, tetapi rasanya Gerry tidak cukup puas jika tidak langsung mendengar dari mulut Kyara


"Sa-saya hanya membeli bahan-bahan masakan yang sudah habis di pusat perbelanjaan di lantai bawah." Jawab Kyara dengan terbata. Kyara meringis merasa cengkraman Gerry semakin kuat di dagunya.


"Dan baru kembali? Apa yang kau beli hingga selama itu, huh?" Pekik Gerry. "Apa kau membeli semua barang ya ada di sana?!" Pekiknya lagi.


Kyara memejamkan kedua matanya. Ia sungguh takut dengan ekspresi Gerry saat ini. Dengan wajah merah padam menahan amarah. "Ma-mafkan, saya Pak—" Ucapan Kyara terhenti ketika Gerry sudah berhasil membenamkan ciuman di bibirnya.


Gerry tidak lagi ingin mendengar ucapan Kyara yang ia sudah tahu apa jawabannya. Menggiring tubuh Kyara ke atas ranjang tanpa melepas pangutannya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah melepas rasa aneh di dalam hatinya dengan melampiaskan pada tubuh istrinya.


*


*


*


*


*


Lanjut? Happy reading!:)


Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉


Jangan lupa mampir ke karya ku yang lain yang berjudul "OH MY INTROVERT HUSBAND"


Terimakasih tersayang💗