
Pukul dua dini hari, Gerry dan Kyara yang sedang terlelap di dalam tidurnya dikejutkan oleh suara pintu yang diketuk berulang kali dari luar.
"Gerry..." Ucap Kyara mengguncang tubuh suaminya agar membuka mata.
"Ada apa?" Ucap Gerry belum dalam keadaan sadar sepenuhnya.
"Itu ada yang mengetuk pintu..." Ucap Kyara sedikit takut.
Tok
Tok
Tok
Gerry pun segera turun dari ranjang. Dan berjalan ke arah pintu.
"Jimmy." Ucap Gerry sedikit terkejut saat melihat asistennya. "Ada apa?" Tanyanya begitu bingung. Tidak biasanya asistennya itu mau mengganggu acara tidurnya malam-malam seperti ini.
"Maaf mengganggu tidur anda, Tuan." Ucap Asisten Jimmy begitu sungkan.
"Ada apa ini, Jimmy?" Tanya Gerry lagi.
"Barusan Steve menghubungi saya jika Tuan William membuat keributan di bar tempat biasa Tuan dan Tuan William berkumpul."
"Apa?!" Pekik Gerry begitu terkejut.
Mendengar teriakan suaminya, Kyara pun turut turun dari ranjang.
"Steve sudah kewalahan menenangkan Tuan William yang terus mengamuk di dalam bar, Tuan. Dan orang-orang di sana tidak ada yang berani menghentikannya karena takut Tuan William akan berbuat lebih jauh lagi." Terang Jimmy.
"William... Ada apa dengannya?" Tanya Gerry begitu bingung. "Siapkan mobil. Kita akan berangkat ke sana sekarang juga." Titah Gerry.
Asisten Jimmy mengangguk dan segera pergi dari depan kamar Gerry.
"Ada apa, Gerry? Tanya Kyara yang sudah berada di belakang suaminya.
"Tidak ada apa-apa, sayang..." Mengelus kepala istrinya. Gerry tak ingin Kyara ikut khawatir jika mendengar kabar WilliM. "Kyara... Ada urusan yang harus aku tangani sekarang juga. Kau tak apa kan tidur sendiri malam ini?" Tanya Gerry dengan lembut.
"Urusan apa? Kenapa malam-malam begini?" Tanya Kyara heran.
"Aku tidak bisa menjelaskannya kepadamu sekarang, sayang. Tapi aku janji akan mengatakannya nanti. Dan aku harus berangkat sekarang." Pamit Gerry.
Kyara mengangguk paham. "Aku akan menyiapkan sebentar pakaian ganti untukmu." Ucapnya kemudian masuk ke dalam kamarnya diikuti Gerry.
*
Gerry memasuki bar dengan langkah tergesa-gesa diikuti Asisten Jimmy di belakangnya. Dari jarak yang tidak terlalu jauh Gerry dapat melihat jika kini William tengah mengamuk membanting apa saja yang ada di depannya.
Bruk
Tak lama tubuh William pun ambruk dan hampir jatuh ke lantai jika Steve tidak cepat menangkapnya.
"Tuan William sudah sangat mabuk, Tuan." Ucap Steve yang terlihat kesusahan menahan berat badan William.
Gerry pun turut membantu Steve. "Ayo bawa dia ke dalam mobil saya sekarang." Titah Gerry yang diangguki Steve dan Jimmy.
"Bereskan kekacauan yang terjadi." Titah Asisten Jimmy pada anak buahnya yang turut ikut dengan mereka.
"Baik, Tuan."
"Tubuhmu ini berat sekali." Keluh Gerry memapah tubuh William masuk ke dalam mobilnya. Dan akhirnya Gerry dapat menghela nafas lega saat tubuh William sudah masuk ke dalam mobilnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada William, Steve?" Tanya Gerry. Karena tidak biasanya sahabatnya itu terlihat sangat kacau seperti ini.
"Dari yang saya lihat, sepertinya Tuan William sedang ada masalah dengan Nona Rania, Tuan." Balas Steve.
"Masalah dengan Rania?" Kening Gerry mengkerut. "Bukankah kemarin mereka terlihat baik-baik saja."
"Saya juga tidak tahu pasti, Tuan. Namun wajah Tuan William terlihat sangat marah saat keluar dari apartemennya." Jelas Steve saat ia bertemu dengan William di lobby apartemen.
***
Buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update:)
Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!
Sambil menunggu cerita ini update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...