
Berbeda dengan Kyara yang tengah bahagia atas pengakuan Gerry tentang dirinya. Di sebuah rumah yang tidak terlalu besar yang berada di kota A, Rania nampak menundukkan wajah saat sang ibu menanyakan tentang kesiapannya untuk menerima pernikahannya.
"Jadi bagaimana Rania? Apa kau siap menerima perjodohan ini?" Tanya Ibu Mela menatap sendu pada anaknya.
Rania mengangkat kepalanya yang tertunduk. Dengan menghembuskan nafas pelan Rania pun menatap pada wajah ibunya. "Rania akan menerimanya, Bu." Jawab Rania dengan menyematkan senyum paksanya.
Ibu Mela tersenyum. Walau ia tahu cukup berat bagi Rania menerima perjodohan itu mengingat Rania sendiri belum tahu seperti apa wajah calon suaminya.
"Dua minggu lagi keluarga Kakek Hendro akan datang ke rumah kita untuk melamarmu."
"Baiklah. Ibu atur saja bagaimana bagusnya. Rania ikut saja." Tutur Rania.
Ibu Mela mentap sendu putrinya. Tiada lagi tampang garang di wajahnya. Ibu Mela benar-benar merasa bersalah pada anaknya saat ini.
Setelah melakukan perbincangan yang cukup serius itu, Rania pun pamit undur diri untuk masuk ke dalam kamarnya. Bibi yang melihat kakaknya bangkit pun ikut berdiri.
"Aku juga ingin ke kamar. Tubuhku rasanya sungguh lelah karena belum menyentuh kasur sejak sampai tadi." Ucap Bibi pada ibunya.
Ibu Mela mengangguk. Membiarkan Bibi mengikuti langkah kaki kakaknya menuju kamar.
Malam hari pun tiba. Setelah melakukan makan malam bersama di ruang keluarga, Bibi pun mengajak Rania untuk berjalan-jalan dengan alasan sudah sangat rindu bisa jalan-jalan bersama dengan kakaknya setelah Rania memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya.
"Kita ingin kemana, Bibi?" Tanya Rania sedikit keras agar adiknya yang sedang menyetir motor dapat mendengar suaranya.
"Ke warung seblak langganan Kakak dulu saja. Aku sungguh rindu makan seblak di sana."
"Kita baru saja selesai makan, Bibi!" Seru Rania menepuk pundak adiknya.
"Tak masalah. Lagi pula lambungku masih sanggup menampung satu mangkok seblak lagi. Kakak seperti orang yang memiliki lambung kecil saja!" Cibir Bibi menatap Rania dari spion motornya.
"Terserah kau saja!" Menepuk kembali pundak adiknya.
*
"Apa Kakak yakin akan menerima perjodohan itu. Aku tahu Kakak pasti sangat berat menerimanya bukan?" Tanya Bibi saat mereka sudah selesai menikmati satu mangkok seblak.
"Kakak..." Panggil Bibi karena ia tahu kakaknya tengah berbohong.
"Sudahlah... Kau hanya perlu mendoakan yang terbaik untuk kakakmu ini."
Bibi mendengus. "Tapi aku juga sungguh kasihan dengan lelaki yang akan menjadi suami kakak kelak." Ucap Bibi menggantung.
Kening Rania nampak mengkerut. "Kenapa kau kasihan padanya?" Tanya Rania tak mengerti.
Bibi menghembuskan nafas panjang. "Laki-laki sial mana yang akan menjadi suami dari Kakakku yang super galak dan cerewet ini. Aku harap dia bisa menulikan telinganya saat mendengar suara cempreng kakak nanti." Wajah Bibi nampak penuh keprihatinan.
Rania sontak memukul tangan Bibi yang berasa di atas meja. "Kau ini... Siapa yang galak? Dan siapa yang cerewet, huh?" Rania menatap tajam pada Bibi. "Kakak hanya cerewet dan galak hanya kepadamu saja. Agar kau kelak menjadi laki-laki yang hebat dan bisa menjadi suami yang baik untuk keluargamu. Jika Kakak tidak galak kepadamu, kau pasti akan dengan senang hati pergi pagi pulang pagi. Bukan untuk bekerja, tapi untuk keluyuran yang tidak penting!" Seru Rania.
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...