
"Hari ini adalah hari terberat bagi Rania untuk memutuskan pilihannya, namun aku tidak bisa ada di sampingnya." Kyara mendesah setelah membaca pesan singkat yang dikirimkan Rania.
"Ada apa, sayang?" Gerry mendekat pada Kyara yang sedang memainkan ponselnya di atas ranjang dengan wajah sendu.
"Hari ini Ibu Rania akan meminta jawaban dari Rania. Rania pasti sangat berat menerima pernikahan itu." Jelas Kyara.
Gerry mengangguk paham. "Doakan saja yang terbaik untuknya. Apa kau tidak yakin jika sahabatmu itu tidak akan bahagia?" Tanya Gerry.
Kedua bahu Kyara naik ke atas. "Entahlah. Namun aku benar-benar mencemaskannya." Menghembuskan nafasnya dengan bebas di udara.
Gerry mengelus kepala Kyara dengan jemarinya yang masih lembab. "Rania wanita yang baik. Dia pasti akan menemukan kebahagiaannya dengan jalan hidupnya sendiri." Ucap Gerry.
Kyara tersenyum menatap wajah Gerry yang basah oleh tetesan air rambutnya yang masih basah. "Semoga saja." Balasnya penuh harap. "Pakailah pakaianmu. Aku ingin melihat Rey lebih dulu." Ucap Kyara bangkit dari sisi ranjang.
"Apa kau tidak berniat membantuku memakai baju?" Gerry menampilkan senyum smirknya.
Kyara dengan cepat menggeleng. "Tidak untuk sekarang. Aku harus pergi." Kyara buru-buru meninggalkan ranjang sebelum Gerry kembali menggodanya.
Gerry tertawa melihat Kyara yang begitu cemas. "Sepertinya keputusanku benar." Gumam Gerry dengan helaan nafas panjang.
*
Gerry nampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat melihat Kyara kembali memberikan kotak bekal bewarna pink muda itu ke tangannya. Pandangannya beralih pada Asisten Jimmy yang sedang menatap istrinya dengan datar namun penuh penolakan atas niat istri tuannya.
"Sayang..." Ucap Gerry dengan tersenyum kaku.
"Ya? Ada apa?" Tanya Kyara menatap tangan Gerry yang sedikit enggan menerima kotak bekalnya. Mama Riana yang berada tidak terlalu jauh dari mereka pun ikut menoleh pada Gerry.
"Bisakah kau mengganti warna kotak bekal untukku?" Ucap Gerry sedikit takut.
"Kenapa?" Kening Kyara mengkerut. "Ada apa dengan warna kotak bekalnya?" Kyara menarik kembali kotak bekal yang hampir berada di tangan Gerry lalu mengangkatnya di depan wajahnya. "Warna yang manis." Puji Kyara menatap kotak bekal itu.
"Warnanya memang manis, sayang. Tapi tidak manis jika diberikan untukku." Ucap Gerry sedikit ragu.
Kedua bola mata Kyara membola. "Kau tidak menyukai bekal yang aku bawakan?" Ucap Kyara dengan wajah berubah sendu.
"Bu-bukan seperti itu. Hanya saja—"
"Baiklah. Aku tidak akan memberikan bekal lagi untukmu jika kau tidak suka." Lirih Kyara menurunkan kotak bekalnya. Ada perasaan sesak saat mengira suaminya tak menerima bekal darinya.
Kyara menghembuskan nafas lega. Kali ini Kyara yang menggaruk keningnya yang tidak gatal. Ia tidak sampai berpikir jika kotak bekal itu tidak cocok dengan karakter suaminya yang garang.
"Ehm... Baiklah... Aku akan menggantinya besok... Tapi... Bisakah kau tetap membawa kotak bekal yang ini saja hari ini? Akan sedikit memakan waktu untuk memindahkan isinya kotak bekal yang baru." Pinta Kyara dengan mata berkedip-kedip.
Dia imut sekali. Batin Gerry merasa gemas.
"Untuk hari ini biar kotak bekal ini saja. Kau bisa menggantinya besok hari." Mengambil kotak bekal itu dari tangan Kyara. "Jimmy... Bawa kotak bekalnya ke dalam mobil!" Titah Gerry tanpa memperdulikan pelototan dari Asistennya.
Anda benar-benar mengerjai saya, Nona. Teriak batin Asisten Jimmy.
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...
.
.
.