Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Kemanjaan Papa hamil


"Gerry... Apa yang kau lakukan?" Kyara dibuat begitu risih saat baru saja mendaratkan bokongnya di atas sofa dan Gerry tiba-tiba mendekat ke arahnya lalu memeluk erat tubuhnya serta merta.


"Memelukmu." Balas Gerry dengan singkat sambil mempererat pelukannya.


"Gerry, apa kau tidak melihat jika di sini ada Rania dan William?" Kyara benar-benar dibuat begitu malu dengan sikap suaminya itu.


"Biarkan saja. Mereka punya mata yang memang dipergunakan untuk melihat." Balas Gerry dengan cuek.


William yang memperhatikan sikap manja sahabatnya itu hanya bisa dibuat menggeleng tak percaya. "Aku bukan seperti melihat seorang pewaris keluarga Bagaskara saat ini." Cibirnya pada Gerry.


Gerry tak memperdulikan ucapan sahabatnya. Karena saat ini ia hanya sibuk mencium aroma lembut khas vanilla dari tubuh istrinya.


"Sayang... Ayo lepaskan aku. Aku sungguh sesak." Kyara mencoba berkata lembut agar suaminya itu segera melepaskan pelukannya. Dan benar saja, tak lama Gerry pun melepas pelukannya saat mendengar kata sesak dari bibi istrinya.


"Apa anak kita merasa sesak?" Tanya Gerry dengan raut wajah cemas.


Kyara menggeleng. "Aku yang merasa sesak." Ucapnya kemudian.


Gerry menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu kembali duduk di posisinya semula.


"Apa Gerry selalu bersikap seperti ini setiap hari kepadamu, Kyara?" Tanya William dengan nada meledek.


"Ya begitulah." Balas Kyara apa adanya.


William tertawa cukup keras hingga membuat Rania segera mencubit pinggang suaminya merasa tidak enak pada Gerry.


"Kau jangan menertawakan Kak Gerry. Bagaimana jika ngidam Kak Gerry tiba-tiba pindah kepadamu?" Ucap Rania mengingatkan.


"Ihh... Kau ini..." Rania mencoba melepaskan rangkulan suaminya. "Tidak enak dilihat Kyara dan Kak Gerry!" Rania kembali mencubit pinggang suaminya.


Kyara yang memperhatikan interaksi William dan Rania hanya tersenyum lucu. Sedangkan Gerry nampak sudah berwajah masam merasa tak suka karena istrinya tersenyum saat melihat wajah sahabatnya.


"Rania... William... Ayo makan malam dulu." Ajak Kyara setelah seorang pelayan memberitahu jika hidangan makan malam telah tersedia di atas meja makan.


"Ayo makan dulu, Sayang. Anak kita pasti sudah kelaparan di dalam sana." Ajak William sambil mengelus perut istrinya.


Rania mengangguk menyetujui. William pun segera beranjak lalu membantu istrinya untuk berdiri.


"Ayo, sayang." Berbeda halnya dengan William, Kyara justru membantu Gerry untuk berdiri.


"Terimakasih. Harusnya aku yang membantumu berdiri." Gerry mengacak gemas rambut istrinya.


"Tak masalah..." Kyara tersenyum sambil mengelus lengan kekar suaminya.


*


Di depan gerbang mansion Bagaskara. Dua buah mobil nampak bersamaan memasuki gerbang setelah seorang penjaga membuka pintu gerbang secara otomatis. Kedua mobil itu melaju pelan hingga sampai di depan pintu utama. Tak lama, dua orang dokter itu pun nampak keluar dari dalam mobil masing-masing.


Saat sudah keluar dari dalam mobilnya, Hana menundukkan pandangannya saat melihat kini pandangan Dika tengah tertuju ke arahnya. Tanpa memberikan sapaan pada Hana, Dika berjalan begitu saja masuk ke dalam mansion.


Melihat sikap Dika yang selalu dingin kepadanya membuat Hana hanya bisa menghela nafas panjang lu berjalan mengikuti langkah kaki Dika masuk ke dalam mansion.


***