Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Tiada yang lebih penting


Jimmy mendongak menatap pada langit-langit ruangan yang di dominasi warna putih. Sebisa mungkin ia menahan agar air matanya tidak jatuh membasahi pipinya. Namun gagal. Air mata itu tetap mengalir membasahi pipinya. Jimmy menghapus air matanya yang semakin mengalir. Ia tak sungguh tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Untuk pertama kalinya ia melihat Gerry diantara hidup dan mati seperti ini.


Kaki jenjangnya semakin mendekat ke arah ranjang. Walau pun sangat pelan, suara pentofel yang beradu dengan lantai itu berhasil membuat tidur Kyara sedikit terganggu.


"Asisten Jimmy?" Kyara mengucek kedua matanya untuk memastikan penglihatannya adalah benar.


"Maaf sudah mengganggu tidur anda, Nona." Ucapnya begitu sungkan.


"Kau di sini?" Bukannya menjawab, Kyara justru menimpali dengan pertanyaan. "Bukannya kau sedang berada di Amerika?" Tanyanya heran.


"Saya langsung berangkat ke Jakarta saat mengetahui keadaan Tuan Gerry, Nona."


Kyara merasa bersalah. "Apa pekerjaanmu dan Gerry di sana sudah selesai?"


"Semua sudah aman. Tak ada yang lebih penting dari keadaan Tuan Gerry saat ini." Tuturnya datar.


"Maafkan aku... Aku sungg—"


"Ini semua tidak salah anda, Nona. Sudah cukup anda menyalahkan diri anda sendiri."


Kyara tertunduk. Bagaimana pun orang-orang mengucapkan jika ia tidak salah dengan keadaan suaminya saat ini, namun hatinya tidak bisa dibohongi. Karna sampai kapan pun kejadian yang menimpa Gerry akan menjadi rasa bersalah terbesar di hatinya.


"Lebih baik anda tidur di sana." Menunjuk pada sofa bed. Karna Jimmy yakin Kyara akan menolak untuk tidur di kamar yang ada di ruangan itu. "Badan anda akan sakit jika tidur dengan posisi seperti ini." Jelasnya.


"Tak masalah. Aku lebih nyaman di sini." Tolaknya.


Nafas Jimmy terbuang bebas di udara. "Jika anda sudah merasa tidak nyaman. Lebih baik anda segera tidur di sana." Ujar Jimmy lagi.


Kyara mengangguk. Ia sungguh tidak ingin berjauhan dari suaminya saat ini.


"Apa anda sudah makan, Nona?" Tanya Jimmy melihat kotak bekal Kyara yang berada di atas meja sepertinya belum tersentuh.


"Aku belum lapar."


"Jangan menyiksa diri anda, Nona. Baby Rey masih membutuhkan asupan gizi dari anda."


Kyara paham arah tujuan ucapan Jimmy. Lagi pula ia sudah berjanji pada Rania akan memakan bekal yang dibawa Rania saat sampai di rumah sakit. "Baiklah. Apa kau sudah makan, Jimmy?" Tanyanya balik.


Kyara menggangguk. Jimmy pun segera keluar dari dalam ruangan Gerry setelah menatap wajah Gerry barang sejenak.


*


Pagi itu mobil yang dibawa Jimmy memasuki perkarang mansion keluarga Bagaskara. Tak sesuai janjinya pada Kyara, pagi ini Jimmy harus datang ke mansion Bagaskara lebih dulu karena Kakek Surya menyuruhnya untuk datang membahas perkara yang menimpa cucunya.


"Sarapan dulu, Jimmy." Ucap Kakek Surya saat Jimmy sudah berada di dekatnya.


"Maaf, tapi saya sudah sarapan di luar, Tuan." Ucapnya.


Kakek Surya mengangguk paham. "Tunggulah di ruangan kerja saya. Saya dan Johan akan menyusul setelah selesai sarapan." Tutur Kakek Surya.


Asisten Jimmy mengangguk dan segera pergi dari ruangan makan. Hingga tak lama menunggu, akhirnya Kakek Surya masuk ke dalam ruangan kerjanya di susul Papa Johan. Suasana di dalam ruangan itu terasa mencekam saat Kakek Surya memulai pembicaraannya.


***


Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!


Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (On Going)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺