
"Daddy... Bolehkah aku memelukmu?" Ucap Cilla tiba-tiba saat Calvin hendak pergi meninggalkan mereka. Kedua bola mata Cilla nampak tergenang. Gadis kecil itu nampak menatap penuh harap pada Calvin.
Calvin memutar tubuhnya. Menatap dalam pada kedua bola mata yang nampak tergenang itu dengan perasaan kacau. Setelah memantapkan hatinya Calvin pun berjongkok. Mensesejajarkan tubuhnya dengan tubuh Cilla.
"Kemarilah..." Ucapnya lalu merentangkan kedua tangannya.
"Daddy..." Cilla menangis. Buru-buru kaki mungilnya berlari ke arah Calvin lalu terbenam ke dalam pelukan Calvin.
"Hua... Aku sangat merindukanmu, Daddy..." Ucapnya dengan menangis tersedu-sedu.
Calvin memejamkan kedu kelopak matanya. Menghayati perasaan hangat yang mulai masuk ke dalam relung hatinya saat memeluk Cilla.
"Apa kau benar-benar juga bukan, Daddyku?" Tanya Cilla dengan berderai air mata.
Calvin melerai pelukannya. Mengusap wajah Cilla yang basah oleh air mata.
"Tunggulah sampai esok hari dimana kenyataan akan membuktikan apakah aku adalah Daddymu atau tidak." Ucap Calvin sambil mengelus rambut Cilla. "Maaf. Untuk saat ini aku harus pergi." Calvin segera berdiri. Tanpa mengucap satu kata pun, pria itu pun berjalan meninggalkan Cilla yang semakin menangis kencang karena kepergiannya.
"Hua... Daddy..." Cilla meraung. Memanggil-manggil nama Calvin namun tak menghentikan langkah pria itu.
Bianca segera beranjak dari dari duduknya. Mendekati Cilla yang terus menangis sambil memanggil nama Calvin.
"Cilla... Jangan seperti ini..." Bianca turut menangis. Hatinya benar-benar hancur melihat putrinya yang begitu menghiba berharap kedatangan Daddynya.
"Kenapa Daddy pergi... Apa sebenarnya aku memang tidak memiliki Daddy..." Raung Cilla di dalam pelukan Bianca.
Gerry, Dika, William dan Reno terdiam. Perasaan marah dan bersalah menghimpit dada mereka.
"Bianca... Ayo bawa Cilla pergi dari sini. Besok kita akan kembali lagi." Ucap Dika memegang pundak Bianca yang masih menangis sambil menggendong tubuh Cilla.
Bianca mengangguk. Kemudian memberikan tubuh Cilla pada Dika yang sudah mengulurkan tangannya untuk menggendong Cilla.
Hari itu mereka pun kembali ke hotel masing-masing setelah mengantarkan Bianca pulang untuk menunggu hari esok dimana kebenaran akan terungkap.
*
Keesokan harinya.
Perasaan harap-harap cemas pun mulai memenuhi hati masing-masing pria yang kini menanti kebenaran yang terjadi. Sedangkan Bianca, wanita itu nampak diam dengan pandangan kosong sambil memeluk erat putrinya.
"Jadi bagaimana hasilnya, Dokter?" Tanya Gerry setelah Dokter di depannya sudah selesai membaca hasil dari tes DNA Calvin dan Cilla.
"Menurut hasil tes yang sudah saya dapatkan, di sini tertera hasil partenitas kecocok anantara Tuan Calvin dan Nona kecil Cilla adalah 99.99 persen yang berarti dapat disimpulkan bahwa Tuan Calvin adalah ayah biologis dari Nona kecil Cilla."
Deg
Semua orang nampak tertegun. Walau pun sudah dapat mengetahui pasti hasilnya, namun tetap saja mereka dibuat terkejut setelah mendapatkan bukti dengan benar jika Calvin adalah ayah kandung dari Cilla. Gadis kecil yang benar-benar menggambarkan wajah William dan Calvin.
"Silahkan dibaca." Ucap Dika menyodorkan selembar hasil uji laboratorium itu di depan Calvin.
Calvin menurutinya. Setiap goresan tinta yang tertera di atas kertas itu kini sudah berhasil merubah dunianya.
Aku benar-benar sudah menjadi seorang ayah?
***
...Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺...
- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...