Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Tidak berbeda


Nafas Gerry kian memberat mengingat setiap perlakuan dan sifat buruknya pada Kyara. Perasaan bersalah menyeruak dalam dadanya yang terasa sesak. Gerry menatap wajah Kyara yang masih terlelap bagaikan bayi. Tangannya terulur menyibak beberapa helai rambut menutupi wajah wanita itu. Kemudian Gerry mulai menyelimuti Kyara. Setelah merasa Kyara nyaman dalam tidurnya, Gerry pun keluar dari dalam kamar Kyara setelah sejenak mengecup singkat kening istrinya.


"Maaf sudah lama menunggu." Ucap Rania pada Gerry dan Asisten Jimmy yang kini tengah duduk di sofa minimalis di ruang tengah.


"Besok saya akan mengutus orang untuk mengganti semua perabotan yang ada di sini." Ucap Gerry tiba-tiba.


"Kenapa harus diganti?" Tanya Rania dengan kening mengkerut. "Apa Bapak tidak melihar jika barang di sini masih baru dan layak pakai?" Lanjutnya.


"Saya tahu. Tetapi saya hanya ingin memberi kenyaman dengan peralatan yang kalian gunakan." Jelas Gerry.


Rania nampak memijit pelipisnya. Kenapa Kakek dan Cucu sama saja? Batin Rania merasa heran. Karena Kakek Surya juga sempat menawarkan untuk mengganti perabotan di rumah mereka tempo hari.


"Sebaiknya Bapak batalkan niat Bapak itu."


"Apa kau tidak mengerti niat baik saya?" Suara Gerry terdengar mulai meninggi.


"Dan apa Bapak tidak memikirkan bagaimana respon Kyara nantinya yang menganggap Bapak seolah merendahkan hasil kerjanya? Apa Bapak tau jika semua perabotan di sini kami beli dengan tabungan kami bersama?" Tekan Rania.


Gerry mendecakkan lidah. Akhirnya ia paham ujung maksud Rania.


"Saya rasa Bapak sudah mengerti."


"Besok pagi saya akan kembali lagi." Ucap Gerry beranjak dari sofa yang terasa keras baginya.


Asisten Jimmy pun ikut beranjak.


"Kabari saya jika ada sesuatu pada Kyara." Pesan Gerry.


Rania mengangguk. Kemudian mengantarkan kepergian Gerry dan Asisten Jimmy dari rumahnya.


Keesokan harinya Kyara nampak menggeliat dari tidurnya. Perlahan kedua kelopak matanya terbuka sempurna.


"Euh..." Lenguh Kyara meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


"Kenapa kau berjalan buru-buru seperti itu?" Tanya Rania yang nampak terkejut dengan kehadiran Kyara secara tiba-tiba.


"Karna aku bangun kesiangan!" Ucap Kyara seadanya.


"Astaga, Kyaa..." Rania menepuk keningnya.


"Kau terlalu berlebihan. Jika kau masih mengantuk, lanjutkan saja tidurmu. Lagi pula kau baru saja keluar dari rumah sakit tadi malam." Tuturnya kemudian.


"Huh... Aku sudah tak apa... Aku ingin membantumu."


"Terserahlah... Melarang pun tak berguna untuk manusia batu sepertinu." Ucap Rania.


Kyara terkekeh. Kemudian mulai membantu pekerjaan Rania. Hari ini kebetulan mereka memang tidak berjualan. Jadi Rania dan Kyara hanya mempersiapkan bahan-bahan masakan saja untuk pagi ini.


"Rania..." Panggil Kyara saat sedang mebcuci peralatan yang kotor.


"Ya? Ada apa, Kya?" Rania sejenak melirik ke arah Kyara kemudian melanjutkan mengaduk masakannya.


"Hem... Aku baru ingat jika tadi malam sepertinya aku ketiduran di mobil."


"Lalu?" Tanya Rania pura-pura dalam perahu.


"Siapa yang membawaku naik ke atas kamar. Tidak mungkin jika aku berjalan sendiri sambil tidur." Ucapnya ragu.


"Memang kau berjalan sendiri." Seloroh Rania.


"Hish... Kau ini... Aku itu serius, Rania..." Cebiknya.


"Haha..." Rania tertawa melihat reaksi Kyara yang begitu lucu di matanya. "Sebenarnya malam tadi Pak Gerry yang menggendongmu masuk ke dalam kamar." Ucap Rania jujur.