
"Lepaskan! Aku tidak ingin disentuh oleh pria pendusta seperti dirimu." Ucap Kyara dengan nada dingin.
Pria pendusta... Batin Gerry mengulang perkataan istrinya.
"Sayang..." Rengek Gerry saat Kyara sudah keluar begitu saja tanpa menunggu penjelasan darinya.
Ini semua gara-gara Dika! Amuk batin Gerry sambil mengikuti langkah kaki istrinya keluar.
"Dimana Rey?" Tanya Kyara saat tidak melihat keberadaan putranya di dalam kamar.
"Rey aku titipkan pada pelayan." Jawab Gerry sambil mendekat ke arah istrinya.
"Kenapa kau menitipkan Rey pada pelayan?" Tanya Kyara dengan menatap Gerry tajam.
"Karena aku ingin menyelesaikan permasalahan kita dulu." Ucap Gerry berusaha untuk tetap tenang.
Kyara mendengus. Lalu menjatuhkan bokongnya di sisi ranjang.
"Maafkan aku..." Ucap Gerry yang merasa sedikit bersalah karena telah membohongi istrinya.
"Kau tahu tindakanmu itu sungguh membuatku kesal?" Cetus Kyara.
"Aku tahu. Dan aku sadar aku salah." Balas Gerry sedikit mengalah. Yang benar saja, Presdir dari perusahaan terkenal di negaranya itu harus menjatuhkan harga dirinya demi istri tercintanya agar tidak merajuk.
"Jika kau sadar perbuatanmu itu salah, lantas mengapa kau melakukannya!" Cecar Kyara.
"Aku hanya ingin kau segera hamil lagi, Sayang..." Cicit Gerry mengungkapkan keinginannya.
"Tapi tidak dengan cara seperti ini, Gerry. Kau bisa membicarakannya baik-baik padaku seperti kemarin. Pasti aku akan memberikannya untukmu. Tapi tidak dengan membohongiku seperti ini!" Balas Kyara lalu membuang nafas kasar di udara.
"Sayang... Jangan marah-marah begini... Ingat saat ini kau sedang hamil... Baby di dalam perutmu bisa terkejut mendengar suaramu yang meninggi itu." Balas Gerry sambil mengelus perut istrinya. Berharap anaknya yang katanya sempat terkejut itu kembali tenang di dalam sana.
"Jika kau tidak ingin anak kita terkejut dengan ucapanku, maka rubahlah sikapmu yang suka berbohong itu! Jika kau menginginkan sesuatu, kau bisa membicarakannya baik-baik denganku tanpa harus bertingkah seperti ini." Ucap Kyara dengan menatap Gerry tajam. Wanita yang berhati lemah-lembut itu sekarang sudah terlihat menjadi wanita garang. Dan Gerry benar-benar takut saat melihatnya.
"Baiklah, aku akan merubabah sikap burukku untukmu... Maafkan aku... Aku hanya ingin bayi lagi darimu..." Gerry menjatuhkan kepalanya di paha Kyara. Merengek seperti bayi yang sangat takut ditinggalkan oleh ibunya.
Kyara menghela nafas panjang. Suaminya ini benar-benar menguji emosi Ibu hamilnya. "Menyingkirlah. Aku ingin mengambil Rey." Ucap Kyara berusaha menjauhkan wajah suaminya dari pahanya.
Gerry tak membiarkan istrinya lepas begitu saja. Kedua tangannya kini memeluk istrinya dengan posesif. "Kau boleh mengambil Rey jika kau sudah memaafkan aku..." Pintanya sambil terus mengetatkan pelukannya.
"Aku sudah memaafkanmu. Jadi sekarang lepaskan aku!" Titah Kyara karena saat ini pahanya terasa geli sebab Gerry menggosokkan wajahnya di atas pahanya.
"Terimakasih, Sayang... Terimakasih..." Ucap Gerry begitu senang. Gerry pun segera bangkit dari posisi jongkoknya lalu membantu Kyara untuk bangkit.
Huh akhirnya... Ternyata begitu mudah membuat Kyara luluh dengan hanya memelas padanya. Batin Gerry berteriak senang. Namun kesenangan Gerry seakan sirna begitu saja saat mendengarkan ucapan terakhir istrinya di ambang pintu.
"Tapi kau jangan senang dulu. Karena setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya. Aku memang sudah memaafkanmu. Tapi sebagai hukumannya. Maka aku tidak ingin disentuh olehmu selama satu bulan ke depan!" Ucap Kyara lalu segera menutup pintu kamarnya dan meninggalkan Gerry yang terduduk lemas mendengar hukumannya.
***
Komen, vote dan like dulu baru lanjut deh😌
Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)