Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Dia menghilang


"Rania... Ayo makan malam dulu..." Ucap william tiba-tiba sehingga menghentikan aktivitas Rania.


"Agh, iya...." Ucap Rania lalu buru-buru mematikan layar ponselnya.


"Kau terlihat serius sekali memainkan ponselmu." Ucap William mendatangi Rania ke sisi ranjang.


Rania tersenyum kaku lalu segera turun dari ranjang. "Tidak juga. Ayo keluar!" Ajaknya tak ingin memperpanjang pertanyaan William.


"Kau memesan makanan sebanyak ini?" Tanya Rania merasa terkejut melihat banyaknya makanan di atas meja saat ini.


"Ya. Aku ingin kau dan Baby makan dengan lahap malam ini. Dan semua makanan ini aku pesan dari restoran yang sudah terjamin kadar gizi dan kesehatannya untuk ibu hamil sepertimu."


"Tapi aku tidak mungkin menghabiskan makanan sebanyak ini." Ucap Rania tak percaya dengan kelakuan suaminya.


"Makan saja sebanyak yang membuatmu kenyang." Ucap William dengan santai.


Rania mendengus sebal. "Terserahmu saja." Balasnya tak ingin berdebat.


"Ayo duduk dulu." Perintah William karena sejak tadi Rania masih tegak di samping kursinya.


Rania menurutinya.


"Kau ingin makan yang mana?" Tanya William yang sudah memegang piring di tangannya.


"Terserahmu saja. Aku menyukai semuanya. Namun jangan terlalu banyak atau aku akan muntah."


"Baiklah." William pun terlihat bersemangat mengambilkan lauk pauk untuk istri tercintanya.


"Biarkan aku yang mengambilkan makanan untukmu." Ucap Rania saat William sudah selesai mengambilkan makanan untuknya.


"Tapi..." Ucapan William melayang begitu saja di udara karena Rania sudah mulai mengambilkan makanan untuknya.


Dua puluh menit berlalu, akhirnya William dan Rania pun sudah selesai menyantap makanannya masing-masing.


"Jangan lupa minum susu hamilmu." Pesan William sambil mengarahkan pandangan pada susu hamil Rania.


"Iya, iya." Balas Rania kemudian meneguknya.


*


"Kemana perginya Bianca. Kenapa dia selalu menghilang seolah-olah mengetahui jika saat ini aku sedang mengincarnya!" Decak William menyandarkan punggung ya di kursi kebesarannya.


Dan hari itu dengan pencarian yang tidak membuahkan hasil, William pun telah kembali ke tanah air karena merasa tidak tenang meninggalkan istrinya yang tengah hamil muda itu terlalu lama.


"William... Kau sudah pulang?" Rania yang baru saja pulang dari bekerja itu nampak terkejut dengan kehadiran Willian di apartemen mereka. "Bukankah seharusnya kau pulang dua hari lagi?" Tanya Rania lagi setelah berada di dekat sofa.


"Kenapa kau baru pulang?" Tanya William tanpa menjawab pertanyaan Rania. Memperhatikan jam yang sudah menunjukkan pukul enam sore di jam dindingnya.


"Aku baru saja pulang dari menemani Deby membeli susu untuk anaknya di supermarket." Balas Rania. Lalu menjatuhkan bokongnya di sofa di samping William. "Will.. Kau belum menjawab pertanyaanku." Tuntut Rania.


"Apa kau tidak suka jika aku pulang lebih awal?" Tanya William merasa sebal.


"Bukan begitu."


"Aku pulang karena aku mengkhawatirkanmu dan baby..." William membungkukkan tubuhnya ke perut Rania.


"Daddy sangat merindukanmu dan Mommy..." Bisik William di perut Rania yang sudah terlihat membuncit.


***


...Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya... Dan buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update. Dan kalian juga bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya....


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...