
Di tempat berbeda, William yang baru saja kembali dari perusahaan Gerry dikagetkan saat melihat istrinya sudah duduk menunggunya di sofa ruangan kerjanya.
"Sayang... Kau sudah datang?" Tanya William sambil berjalan mendekat ke arah istrinya.
"Ya. Aku sudah menunggumu satu jam yang lalu." Balas Rania dengan jujur.
"Agh, maafkan aku. Aku baru saja kembali dari perusahaan Gerry." Ucap William merasa bersalah telah membuat istrinya menunggu.
"Tak masalah. Ada urusan apa kau mengunjungi Gerry ke perusahaannya?" Tanya Rania.
"Hanya ada sedikit urusan yang perlu aku bahas dengan Gerry." Balas William dengan jujur tanpa menerangkan urusan yang ia maksud.
Rania mengangguk saja dan tak lagi banyak bertanya.
"Duduklah. Aku akan menyiapkan makan siang untukmu. Kau sudah melewatkan jam makan siangmu."
"Terimakasih, sayang." William mengecup singkat kening istrinya lalu duduk di sebelahnya.
"Apa kau sudah makan siang tadi?" Tanya William setelah Rania menyerahkan piring berisi makanan kepadanya.
"Sudah. Aku bahkan menghabiskan dua piring nasi tadi." Balas Rania sedikit malu.
William tersenyum karenanya. "Kau memang harus banyak makan agar bayi kita sehat di dalam sini." Ucapnya mengelus perut istrinya.
Rania tersenyum. "Makanlah." Ucapnya lagi yang diangguki oleh William.
Dan seperti biasanya, William sesekali menyuapi makanan ke mulut Rania yang diterima Rania dengan senang hati.
Lima belas menit berlalu, William pun telah selesai menghabiskan makanan yang dibawakan Rania.
"Makanan buatanmu selalu saja enak." Puji William sambil mengelus perutnya.
"Besok aku akan membuatkan menu yang berbeda untuk makan siangmu. Semoga saja kau menyukainya." Ucap Rania dengan senang.
"Apa pun itu, aku pasti akan menyukainya." Balas William.
Rania melebarkan senyumannya sambil menyusun kembali rantang makanannya.
"William... aku tidak bisa lama berada di sini. Kau ingat bukan jika aku ingin pergi ke mansion Kyara siang ini." Tanya Rania.
"Sepertinya Kyara sudah pulang dari periksa kandungannya." Balasnya kemudian.
"Baiklah. Aku akan menjemputmu sepulang bekerja nanti."
"Ya. Terserah kau saja." Balas Rania.
"Maaf aku tidak bisa mengantarkanmu. Setelah ini masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Sesal William.
"Tak masalah. Aku bisa pergi bersama sopir."
"Kabari aku jika kau sudah sampai." Perintah William yang diangguki oleh Rania.
William pun bangkit dari duduknya dan membantu istrinya untuk berdiri.
"Ayo. Aku akan mengantarkanmu sampai ke lobby."
"Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Kau tetaplau di sini dan lanjutkan pekerjaanmu." Tolak Rania.
"Tapi—"
"Sudahlah. Aku bisa sendiri." Ucap Rania lagi dengan tegas.
Setelah perdebatan kecil mereka selesai, Rania pun keluar dari dalam ruangan suaminya. Saat berada di depan pintu suaminya, tatapan Rania pun tertuju pada Citra yang sedang mengetikkan sesuatu di layar komputernya.
Menyadari Rania sedang menatapnya, Citra pun menghentikan kegiatannya. "Nona Rania... Apa anda sudah ingin pulang?" Tanyanya dengan tersenyum palsu.
"Ya begitulah..." Balas Rania singkat.
"Kalau begitu hati-hatilah di jalan." Citra masih menampilkan senyum palsunya.
*"Terimakasih." Rania kembali menjawab dengan singkat. Apa kau pikir aku tidak tahu kau sedang berpura-pura baik kepadaku. *Ucap Rania dalam hati setelah meninggalkan meja Citra. Awas saja jika kau berani menggoda suamiku lagi! Aku akan selalu mengawasimu. Geram Rania.
Nikmatilah hari-hari terakhirmu menjadi istri presdir. Karena setelah rencanaku berhasil, aku akan menendangmu dari sisi presdir. Cika turut membatin sambil tersenyum menyeringai.
***