Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Kau mengagetkanku


Setelah Kyara menunjukkan letak kamar tidur mereka masing-masing, mereka pun berpisah untuk beristirahat setelah melewati hari yang cukup melelahkan hari ini. Namun berbeda hal dengan Dika yang lebih memilih untuk tetap tinggal di ruang tamu karena ada yal yang harus ia kerjakan lebih dulu di sana.


Saat sudah masuk ke dalam kamar tamu yang Kyara maksud, Hana menjatuhkan tubuh lelahnya di atas ranjang lalu membuang nafas kasar di udara.


"Hari ini sungguh melelahkan." Gumamnya sambil memejamkan mata. "Baiklah ... Sepertinya aku harus mencuci muka lebih dulu baru tidur." Ucapnya kemudian saat merasa ada yang kurang. Hana pun kembali bangkit dari pembaringan lalu berjalan ke arah kamar mandi.


Lima belas menit berada di dalam kamar mandi, Hana sudah kembali keluar dengan wajah yang lebih segar dengan menggunakan pakaian tidurnya.


"Saatnya tidur..." Gumamnya sambil menguap lebar. Hana segera menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk yang ia pastikan sangat nyaman untuk ia tiduri. Tak memakan waktu lama dan akibat tubuh yang sudah lelah dan mengantuk, Hana pun sudah terlelap nyaman dalam tidurnya.


*


Malam semakin larut, jarum jam pun terus berputar hingga naik. Hana yang merasakan kering pada tenggorokannya pun akhirnya terjaga dari tidurnya.


"Aku haus sekali." Gumam Hana sambil mengelus tenggorokannya yang terasa kering. "Huh, kenapa aku tidak membawa air putih saja tadi sebelum masuk ke dalam kamar." Decak Hana dan mau tidak mau ia pun turun dari ranjang lalu keluar dari dalam kamarnya menuju dapur.


Suasana saat Hana masuk ke dalam dapur benar-benar membuat Hana sedikit merinding. Apa lagi lampu dapur yang sudah dimatikan dan ia hanya mengandalkan lampu senter dari ponselnya.


"Dimana letak saklarnya?" Gumam Hana sambil mengarahkan senternya ke arah dinding berharap dapat menemukan letak saklar. "Nah ... itu dia." Gumam Hana merasa senang sambil berjalan ke arah letaknya saklar.


Saat hendak membalikkan tubuhnya setelah menghidupkan lampu dapur Hana hampir saja berteriak dengan keras jika saja saat ini mulutnya tidak disumpal dengan telapak tangan lebar seseorang yang membuatnya begitu terkejut dengan kehadirannya tiba-tiba di dalam dapur.


"Emph..." Hana memberontak berusaha melepaskan telapak tangan orang tersebut dari mulutnya.


"Diam dan aku akan melepaskannya!" Ucap orang itu dengan nada datarnya.


"Kenapa kau tiba-tiba ada di sini?" Tanya Hana pada pria yang saat ini tengah menatapnya dengan dingin. Cukup lama Hana menunggu jawaban dari pria itu. Namun yang ditanya hanya diam sambil terus menatap wajahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Tanpa membalas ucapan Hana, pria itu pun melangkah ke arah lemari pendingin lalu menuangkan minuman dingin ke dalam gelas yang ia pegang.


"Ternyata dia juga ingin minum..." Gumam Hana sangat pelan hingga pria itu dipastikan tak dapat mendengar ucapannya.


Setelah cukup menghabiskan dua gelas air dingin, pria itu yang tak lain adalah Dika pun menutup kembali lemari pendingin. Berjalan ke arah Hana dengan tatapan yang masih tidak bisa Hana terjemahkan.


"Jika kau ingin minum maka cepatlah. Aku akan mematikan lampunya kembali." Ucap pria itu dengan datar namun entah mengapa membuat Hana merasa diberi perhatian kecil.


****


Lanjut lagi ya kalau vote, komen dan likenya banyak☺


Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺


Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)


Serpihan Cinta Nauvara (End)


Oh My Introvert Husband (End)