Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Mengkhawatirkan Rania


"Lalu kenapa kau bersedih, hem? Bukankah umur Rania saat ini sudah layak untuk menikah?" Gerry menggenggam tangan istrinya.


"Rania pasti tertekan saat ini. Apalagi aku tahu jika Rania sudah mencintai pria lain." Kepala Kyara tertunduk. Kyara dapat melihat jika sampai saat ini Rania masih mencintai sahabat baik suaminya. Apalagi setiap mereka bercerita tentang William, Rania selalu terlihat antusias.


"Siapa?" Kening Gerry berkerut.


Helaan nafas Kyara terdengar melambat. "Aku belum bisa menceritakannya kepadamu." Ucap Kyara. Karena ia tidak ingin melanggar janji antara dirinya dan Rania.


Gerry mengelus kepala Kyara. "Tak masalah. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuknya saat ini?"


Kedua bahu Kyara terangkat ke atas. Pandangannya tertuju pada langit yang nampak terang disinari bintang-bintang dan bulan. "Seandainya aku bisa melakukan satu cara untuk menghentikan perjodohan itu, aku akan melakukannya. Tapi Rania menolak keras agar aku membantunya. Ia hanya ingin menyelesaikan permasalahannya sendiri." Kyara berkaca-kaca.


"Aku hanya takut Rania mendapatkan suami yang tidak mencintainya." Lanjut Kyara dengan lirih.


Gerry terbungkam. Ia kini paham arah pembicaraan istrinya. "Maaf... Maafkan aku jika di awal pernikahan kita terlalu banyak luka yang aku torehkan di hatimu." Ucap Gerry sendu.


Kyara berpaling dari fokusnya melihat langit. Tatapannya kini terpenuhi oleh wajah suami tampannya. "Aku sudah melupakannya. Aku hanya tidak ingin Rania mengalami seperti yang aku alami. Jika dulu di saat posisi terburuk menghampiriku, Rania selalu menjadi tameng agara aku selalu kuat. Tapi kini... Jika Rania yang mengalami seperti aku, aku tak bisa menolongnya karena jarak begitu jauh memisahkan kami." Kyara memeluk suaminya dari samping. Menumpahkan segala ketakutannya di dada bidang suaminya.


Air mata Kyara mulai mengalir membasahi kaos yang Gerry kenakan. Namun Gerry membiarkannya. "Aku tahu luka di hatimu oleh sikapku dulu belum pulih. Itulah yang menjadikan alasan kau begitu takut saat ini." Gerry mengelus punggung Kyara yang mulai bergetar.


"Maaf..." Lirih Kyara. Sejujurnya rasa sakit di hatinya belum seluruhnya pulih. Kyara masih menyimpan rasa ketakutannya sendiri hingga saat ini. Namun dengan perubahan Gerry saat ini, Kyara berusaha untuk melupakan masa lalunya yang buruk.


"Kapan pernikahan mereka akan berlangsung?" Tanya Gerry saat Kyara sudah sedikit tenang.


"Dua minggu lagi. Dan sampai saat ini Rania belum mengetahui seperti apa calon suaminya itu."


"Apa tidak ada cara yang bisa menghentikan perjodohan itu?" Tanya Gerry berniat menolong istrinya.


Kepala Kyara menggeleng lemah. "Sayangnya tidak ada. Karena Rania tidak mungkin menolak wasiat dari kakeknya. Lagi pula keluarga Rania banyak berhutang budi pada sahabat Kakeknya itu. Termasuk warung bakso yang saat ini dikelola ibu Rania, tak lepas dari bantuan sahabat Kakek Rania."


"Apa Rania benar-benar tidak ingin menolak?" Gerry menatap pandangan Kyara yang nampak kosong. Pikiran wanitanya itu benar-benar terisi oleh sahabatnya saat ini


"Tidak... Rania begitu sungkan untuk menolaknya. Lagi pula Rania tidak ingin melihat ibunya bersedih. Rania juga ingin mengabulkan permintaan ibunya yang memintanya untuk menikah. Namun Rania dan Ibunya tidak menyangka jika jalan seperti ini yang akan menjadi cara agar Rania menikah." Kyara ingat perkataan Rania beberapa hari yang lalu. Sahabatnya itu mengatakan jika sewaktu sore tiba-tiba ada orang-orang berseragam hitam mendatangi ibunya dan menyodorkan surat yang berisi perjanjian Kakek Rania dan sahabatnya di masa lalu.


Kyara menggeleng. "Sayangnya belum. Karena saat ini sahabat dari Kakek Rania dan cucunya masih berada di luar negeri."


***


Babak baru akan segera dimulai ya gaes... Tapi aku akan tetap menyelingi dengan cerita Kyara dan Gerry.


***


...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...


Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (On Going)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...


.


.


.