
"Gerry..." Kyara mendekat pada ranjang suaminya. Air matanya terus mengalir melihat dengan nyata wajah suaminya yang masih pucat. Kyara melepaskan pengait gendongan Baby Rey dan melepaskan gedongan itu dari tubuhnya.
Kyara membalikkan tubuh Baby Rey yang menghadap kearahnya ke arah Gerry. Pandangan Baby Rey tertuju pada Gerry. Menatap wajah Gerry dengan kening mengkerut.
"Pa... Pa.. Pa.." Celoteh Baby Rey. Kedua tangan mungilnya berusaha menjangkau wajah Gerry. Kyata berkaca-kaca. Baby Rey selalu berceloteh memanggil Papanya jika Kyara menunjukkan foto Gerry di hadapannya setiap harinya.
"Iya... Ini Papa, Sayang..." Lirih Kyara mengelus kepala putranya. Kyara mendudukkan tubuhnya di samping ranjang sambil memangku Baby Rey.
"Gerry... Aku datang kembali... Tapi kali ini aku datang tidak sendiri... Aku datang bersama anak kita. Gerry... Lihatlah Rey... Dia sudah semakin tubuh. Apa kau tidak ingin melihat pertumbuhannya. Apa kau masih ingin tetap tidur tanpa menghiraukan anak kita yang membutuhkan kasih sayangmu?"
"Kau pernah bertanya bukan waktu itu. Apakah aku sudah mencintaimu? Jika aku bisa berkata jujur waktu itu, aku sudah mencintaimu sejak kau sah menjadi suamiku. Apa kau tahu, Gerry... Sedalam apa pun luka yang kau berikan ternyata tak pernah merubah rasa cintaku padamu. Aku hanya termakan ego tidak ingin mengakuinya kepadamu. Aku hanya dibutakan oleh rasa sakitku tanpa menghiraukan kau juga terluka oleh sikapku."
"Sekarang aku sungguh menyesal, Gerry... Aku menyesal hingga saat kau mengorbankan tubuhmu demi nyawaku tapi aku belum membalas perkataan cintamu... Maafkan aku. Gerry... Maafkan egoku yang terlalu tinggi. Maafkan aku yang hanya bisa mempersulit jalan hidupmu."
"Tapi sungguh... Aku sungguh mencintaimu, suamiku..." Kyara terisak dalam tangisannya.
"Bukankah kau juga pernah berkata ingin membesarkan Rey bersama-sama denganku? Lantas bagaimana bisa aku membesarkan Rey bersamamu jika kau belum juga ingin membuka mata? Ku mohon, Gerry... Ku mohon bukalah kedua matamu... Lihatlah saat ini Rey sangat merindukan dirimu..."
Kyara menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat putranya. Baby Rey pun ikut turut menangis melihat ibunya menangis.
"Ku mohon jangan tinggalkan aku dan Rey... Ku mohon berikan aku kesempatan untuk bisa menjadi istri yang baik untukmu... Ku mohon... Bagaimana aku bisa hidup sendiri tanpa dirimu... Sedangkan kau sudah membuat hati dan tubuhku selalu bergantung padamu..."
"Pa... Pa..." Baby Rey masih berupaya menjangkau wajah Gerry dengan tangan mungilnya.
"Bukankah Rey sangat merindukan papa?" Kyara membalikkan tubuh putranya yang masih menangis ke arahnya. "Saat ini Papa sudah berada di hadapan Rey... Mama mohon bangunkan Papa... Bangunkan Papa... Bilang pada Papa kalau kita sangat membutuhkan dirinya saat ini..." Pinta Kyara menghiba-hiba pada putranya.
Kyara meletakkan Baby Rey di samping Gerry.
"Bangunkan Papa..." Ucapkan Kyara lagi.
"Paa.. Paa.." Baby Rey menepuk-nepuk wajah Gerry sambil memanggil-manggil papanya. Tangisan Baby Rey pun akhirnya semakin kencang sebab Gerry tak jua membuka kedua matanya.
Kyara semakin tak bisa menahan bendungan air matanya saat melihat air mata mengalir di kedua sudut mata Gerry.
"Ayo bangunkan Papa, Rey..." Kyara mengelus kepala putranya yang masih menepuk wajah Gerry.
Mama Riana, Papa Johan dan Dokter Dika yang berada di ambang pintu turut meneteskan air mata melihat kondisi Kyara yang sangat menyedihkan.
Cukup lama Baby Rey dan Kyara menangis. Namun yang diharapkan Kyara tak kunjung terwujud.
"Apa kau memang tak ingin membuka matamu, Gerry?" Kyara menghapus air mata yang membasahi wajahnya dengan kasar. "Baiklah. Jika kau memang ingin terus seperti ini, aku akan membawa Rey pergi jauh dari hidupmu hingga pada saat kau membuka mata, kau tak akan pernah lagi melihat Rey di dalam hidupmu." Ancam Kyara. Kyara pun hendak mengangkat tubuh Baby Rey yang masih berada di samping tubuh Gerry. Namun pergerakannya itu terhenti tatkala sebuah tangan mencekal sebelah tangannya.
***
Lanjut lagi gak?
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺