Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Seno?


"Aku baik-baik saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Rania dengan kening mengkerut.


"Aku merasa kau tidak sedang baik-baik saja saat ini." Kyara menatap intens wajah Rania.


Rania tertawa. "Ayolah, Kya... Aku oke. Kau tenang saja." Menepuk pelan bahu Kyara dua kali. "Kemarikan Rey! Aku sungguh merindukannya." Rania pun mengambil alih Baby Rey dalam gendongan Kyara.


Kau pasti sedang tidak baik-baik saja, Rania. Batin Kyara mengikuti langkah Rania memasuki mansion.


"Rey sudah lancar berlari ya, Kya." Tutur Rania saat melihat Baby mulai berlari mengejar mainannya yang menggelinding.


"Benar... Namun masih suka terjatuh karena pandangannya hanya fokus ke satu objek saja." Ucap Kyara.


Rania tersenyum. "Kenapa tidak ada satu pun dari tubuhnya yang mirip denganmu ya, Kya." Ucap Rania saat melihat melihat wajah dan tubuh Baby Rey yang lebih mirip dengan ayahnya.


"Aku juga sebal. Padahal aku yang mengandung, aku yang muntah, aku yang pegal. Lahir-lahir malah mirip Papanya." Dengus Kyara.


"Itu karena waktu saat kau mengandungnya kau terlalu sering memikirkan ayahnya. Sehingga gen Baby Rey lebih dominan mengikuti Pak Gerry." Cibir Rania.


"Kau benar. Seberapa kuat pun aku untuk tidak memikirkannya, namun aku selalu gagal. Karena pemikiranku hanya terpusat padanya." Balas Kyara dengan tersenyum.


Rania ikut tersenyum. "Apa belum ada tanda-tanda kehadiran adik Baby Rey di dalam sini?" Rania mengelus perut Kyara.


"Belum... Aku dan Gerry memang sudah bersepakat untuk menundanya. Karena Aku dan Gerry ingin fokus memberi kasih sayang penuh pada Rey sampai Rey sudah berumur tiga tahun. Apalagi Gerry sangat merasa bersalah karena melewatkan waktu merawat Baby Rey selama tujuh bulan karena koma." Jelas Kyara.


Tangisan Baby Rey akibat terjatuh saat mengejar bolanya menghentikan perbincangan Rania dan Kyara.


"Maa..." Tangis Baby Rey mengulurkan kedua tangannya pada Kyara.


Kyara pun mengambil Baby Rey kemudian menggendongnya. "Sakit ya..." Ucap Kyara meniup telapak tangan Baby Rey.


"Jagoan Tante gak boleh nangis..." Rania mendekat pada Kyara dan juga Baby Rey kemudian mengelus kepala Baby Rey.


Seharian itu Rania habiskan untuk bermain bersama Baby Rey dan bercerita dengan Kyara di taman belakang. Segala resah di dalam dada Rania hilang begitu saja saat bertemu dengan sahabat dan keponakannya yang lucu itu. Dan Rania juga sedikit lega, karena Kyara tidak ada menyinggung tentang rumah tangga yang sedang ia jalani.


Hingga petang pun mulai menyambut, Rania pun berpamitan kepada Kyara untuk kembali pulang ke apartemennya. Rania pun kembali pulang ke apartemennya dengan diantarkan sopir pribadi keluarga Bagaskara.


"Kyara sungguh beruntung memiliki suami sebaik Pak Gerry." Guman Rania mengingat cerita Kyara bagaimana cara Gerry mencintai istrinya.


"Seno..." Ucap Rania menelisik penampilan Seno dari atas sampai bawah. Walau pun pria itu sudah mengganti gaya rambutnya dan gaya berpakaiannya, namun Rania masih sangat mengingat jelas siapakah pria itu.


"Rania..." Pria yang Rania sebutkan namanya itu tak kalah terkejut melihat keberadaan Rania di situ.


"Kau sedang apa di sini?" Tanya Rania masih dengan tatapan terkejut.


"A-aku..." Seno nampak ragu saat mengatakannya.


"Apa Nona mengenali Tuan muda kami?" Tanya salah seorang pria yang berada di samping Seno.


"Tentu saja, dia adalah Seno rekan kerja sesama OBku dulu." Ucap Rania tanpa beban.


"Sepertinya anda salah orang, Nona... Karena Tuan muda kami bernama Sean bukan Seno!" Tekan pria itu dengan tajam.


***


...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...


Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (On Going)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...