
"Bagaimana bisa? Kau jangan mengada-ngada!" William mengguncang kedua bahu Rania. Ia sangat berharap Rania hanya salah berbicara saja.
Melihat reaksi William yang begitu tidak terima membuat Rania mau tidak mau menceritakan awal mula terjadinya pernikahan di antara Kyara dan William. Bahkan Rania juga menceritakan secara keseluruhan apa saja yang dialami sahabatnya itu selama menikah dengan Gerry.
Sesekali Rania menyeka air matanya yang terus mengalir mengingat setiap kata yang Kyara ceritakan padanya. Tidak ada cerita yang Rania lebih-lebihkan atau dikurangkan. Rania sudah tidak peduli jika ceritanya ini akan berujung permasalah antara Gerry dan William. Rania sudah sungguh muak dengan sikap Gerry yang selalu saja berprilaku tidak baik pada Kyara.
Tangan William terkepal erat. Bahkan urat-uratnya nampak menyembul. Dadanya sudah bergemuruh mendengar dengan rinci apa yang diucapkan Rania. Ia tidak menyangka, jika Gerry yang ia kenal selama ini berprilaku begitu buruk pada istrinya. Walau pun di cerita Rania Gerry tidak bermain kekerasan fisik pada Kyara. Tetap saja ia merasa marah. Karena luka batinlah yang lebih menyakitkan dari luka fisik. Dan Kyaranya mengalami luka batin itu.
"Sialan!!" Umpatan berhasil lolos dari bibir tebal pria itu.
"Agrhhh..." William menjambak rambutnya frustasi. Kali ini ia tidak lagi membenarkan perlakuan Gerry. Walau pun Gerry adalah sahabatnya, tetap saja tindakan Gerry kali ini sudah di luar batas.
Salah satu perawat nampak berjalan tergopoh-gopoh ke arah Rania dan William yang masih terdiam di posisi masing-masing.
"Pak William... Nona Rania..." Ucap perawat itu setelah sampai di depan William dan Rania.
"Ada apa suster? Apa Kyara baik-baik saja?" Tanya Rania yang mengetahui jika perawat di depannya saat ini adalah perawat yang membantu menangani Kyara tadi.
"Nona Kyara baik-baik saja. Dan saat ini Nona Kyara sudah sadar dan ingin bertemu dengan anda." Jawab perawat itu.
"Agh... Syukurlah... Baiklah saya akan segera ke sana." Rania pun bangkit dari kursi diikuti William. "Terimakasih atas informasinya, Suster." Ucap Rania yang diangguki perawat itu dengan senyuman.
*
"Kyara..." Lirih Rania melihat Kyara yang kini memejamkan matanya. Bukannya kata perawat tadi jika Kyara sudah sadar. Tetapi kenapa saat ini Kyara masih nampak menutup kedua matanya dengan rapat.
"Rania... Apa bayiku baik-baik saja?? Kata Dokter tadi bayiku masih berada di dalam perutku. Apa Dokter itu tidak bercanda, Rania?" Cecar Kyara yang kini sudah menangis. Ia teringat jika beberapa jam yang lalu ia melihat darah mengalir dari sela-sela pahanya. " Anakku masih berada di tubuhku kan Rania?" Kyara sungguh tidak sabar menanti jawaban Rania.
"Kya... Hei... Tenanglah..." Rania membawa tubuh Kyara yang sudah duduk itu ke dalam pelukannya.
"Jawab aku, Rania... Hiks..." Kyara terisak.
"Dia masih ada di dalam sini. Apa kau tidak bisa merasakannya, hem?" Rania membawa tangan Kyara ke perutnya.
Kyara dapat merasakan jika sosok mungil itu masih berada di dalam tubuhnya.
"Syukurlah..." Kyara kembali masuk ke dalam pelukan Rania.
"Sebaiknya kau jangan terlalu banyak pikiran. Sekarang istirahatlah!" Titah Rania membantu Kyara berbaring kembali.
Kyara menurutinya.
"Rania..." Panggil Kyara dengan lirih. Air mata nampak kembali mengalir di sudut matanya.
"Ada apa, Kya??" Tanya Rania yang kini menggenggam erat tangan Kyara.
"Aku sudah memutuskan jika saat ini sudah saatnya aku untuk pergi dari kehidupan Gerry." Ucap Kyara menahan isakannya. Bahkan Kyara tak lagi menyebutkan kata Pak pada nama Gerry.
***