
"Tuan Sean... Anda sudah kembali bekerja?" Tanya Deby merasa terkejut dengan kedatangan Sean pagi itu.
"Ya." Balas Sean dengan datar lalu melewati meja Deby menuju ruangannya.
"Aneh sekali... Bukannya Tuan Sean baru saja menikah? Tapi kenapa cepat sekali kembali bekerja." Gumam Deby merasa bingung.
"Deby..." Sapa Rania yang baru saja kembali dari pantry sambil membawa dua gelas teh hangat di tangannya.
"Eh iya, Rania." Deby berdiri. Mengambil alih gelas dari tangan Rania.
"Kenapa kau terlihat melamun?" Tanya Rania sambil mendaratkan bokongnya di kursi kerjanya.
"Tuan Sean itu aneh sekali... Dia baru saja melangsungkan pernikahan namun sekarang dia sudah kembali bekerja." Ucap Deby.
Rania mengangguk menyetujui. "Mungkin saja Tuan Sean sedang banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan sendiri." Balas Rania berpikir jernih.
"Rasanya tidak mungkin. Karena Seluruh pekerjaan Tuan Sean sudah dikerjakan oleh Tuan Felix." Balas Deby tak menyetujui pendapat Naina.
"Sudahlah... Lebih baik kita segera menghabiskan minuman ini kemudian kembali bekerja." Ucap Rania yang diangguki oleh Deby.
Di dalam ruangan Presdir. Sean nampak mengetuk-ngetuk bolpoin di tangannya ke atas meja sambil mengingat kembali tubuh seksi Keyla yang selalu menggodanya baik pagi atau pun malam hari.
"Aku rasa di benar-benar sengaja menggodaku agar aku tergoda dan tidak bisa melepaskannya begitu saja." Rutuk Sean yang sudah kembali merasakan hawa panas dalam tubuhnya.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka dan menampilkan wajah Rania di sana.
"Rania..." Senyum di wajah Sean terbit saat melihat wanita pujaan hatinya masuk ke dalam ruangan.
"Maaf, aku sudah mengetuk pintu beberapa kali tapi kau tidak kunjung memberikan respon. Sehingga aku memutuskan untuk masuk karena sudah saatnya kau bertemu dengan Tuan Iskandar di ruangan rapat." Ucap Rania menyampaikan pesan dari Felix di sambungan telefon tadi.
"Apa Tuan Iskandar sudah lama sampai?" Tanya Sean yang diangguki oleh Rania.
"Baiklah. Ayo ikut aku ke ruangan rapat." Ajak Sean lalu berdiri dari duduknya.
Saat sudah berada di ruangan rapat, lagi-lagi pemikiran Sean tidak fokus atas apa yang dijelaskan oleh Tuan Iskandar. Pemikiran Sean terus berputar pada setiap kejadian yang terjadi antara ia dan Rania selama dua hari belakangan setelah menikah.
"Bagaimana Tuan Sean? Apa anda setuju dengan rancangan yang kami buat?" Tanya Tuan Iskandar namun tak mendapatkan respon dari Sean.
"Tuan Sean..." Ucap Rania sambil menyenggol kaki Sean agar pria itu tersadar dari lamunannya.
"Ya. Ada apa, Rania?" Tanya Sean gelagapan.
"Tuan Iskandar bertanya bagaimana tanggapan anda dengan desain yang mereka buat." Ucap Rania.
Sean nampak gelagapan. Jujur saja ia tidak terlalu mendengar ucapan Tuan Iskandar karena terlalu sibuk memikirkan istrinya.
"Saya setuju. Saya sudah percaya akan hasil kinerja perusahaan anda. Untuk masalah proposal yang anda ajukan, silahkan berikan saja pada asisten saya dan saya akan memeriksanya kembali nanti di ruangan saya."
Felix yang duduk tidak terlalu jauh dari Sean nampak mengkerutkan keningnya. Karena tidak biasanya Sean semudah itu menerima proposal pengajuan kerja sama begitu saja.
Setelah Felix menutup rapat pagi itu bersama Tuan Iskandar, Sean pun segera bangkit lalu keluar dari dalam ruangan dengan tergesa-gesa.
"Ada apa dengan Tuanmu? Apa dia ada masalah?" Tanya Rania merasa aneh dengan sikap Sean.
***
Lanjut lagi ya kalau vote, komen dan likenya banyak☺
Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)