Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Menyusulnya


Akhirnya Rania pun berangkat menuju perusahaan pagi itu dengan batin yang terus menggerutu. Untung saja pagi itu William tidak ikut mengantarkannya untuk bekerja karena suaminya itu sudah berangkat lebih dulu. Jika tidak, Rania pasti akan melampiaskan kekesalannya dengan menimpuk habis-habisan tubuh suaminya itu.


"Ada apa dengan wajahmu Rania?" Tanya Deby yang kebetulan bertemu dengan Rania di lobby.


"Aku sedang sebal pagi ini, Deby." Cetus Rania sambil berjalan beriringan dengan Deby.


"Kau sebal kenapa?" Tanya Deby merasa heran.


Setelah sampai di depan lift, mereka berdua pun ikut mengantri di depan lift khusus karyawan bersama karyawan lainnya.


"Sudahlah. Aku akan semakin sebal jika mengingatnya." Ungkap Rania. Lagi pula Rania tidak mungkin mengungkapkan apa yang menjadi kekesalannya karena saat ini banyak telinga yang akan mendengarkannya.


"Oh iya Rania. Kau jadi berangkat bukan dengan Tuan Sean besok pagi menuju kota B?" Tanya Deby setelah ia dan Rania mendaratkan tubuh mereka di kursi kerja.


Rania mengangguk. "Ya. Aku akan ikut."


"Apa Tuan William sudah mengizinkanmu?" Tanya Deby sedikit berbisik.


Rania kembali mengangguk. "Dia sudah mengizinkanku untuk pergi." Ucap Rania dengan senyum paksa di bibirnya.


"Agh, syukurlah... Aku pikir Tuan bule itu tidak akan mengizinkanmu." Ucapnya lagi sedikit berbisik.


Jika saja kau tahu hal apa yang harus aku lakukan agar mendapatkan izin darinya. Batin Rania menggerutu.


*


Di perusahaanya, William nampak menghembuskan nafas kasar beberapa kali sambil memijit pelipisnya yang terasa sakit. Informasi dari Steve yang mengatakan jika Bianca sudah tidak ada lagi di negara ini membuatnya tidak bisa melakukan niatnya untuk melakukan tes DNA pada gadis yang diperkirakan adalah putrinya.


"Apa maksud wanita itu? Kenapa dia pergi tanpa menemuiku? Apa dia ingin membuat aku semakin lama menyelesaikan masalah ini." Decak William merasa dipermainkan.


Steve pun kembali masuk ke dalam ruangan William setelah menerima panggilan telefon dari anak buahnya.


"Bagaimana Steve?" Tanya William dengan frustasi.


"Dari informasi yang saya dapatkan. Nona Bianca bersama putrinya sudah kembali ke negara A malam tadi, Tuan." Ucap Steve.


"Menurutmu apa yang harus saya lakukan saat ini? Saya begitu khawatir jika Rania sudah lebih dulu mengetahui tentang keberadaan anak itu dan memilih meninggalkan saya."


"Hanya ada satu cara yang bisa anda lakukan untuk cepat melakukan tes DNA itu, Tuan." Ucap Steve.


"Anda harus kembali ke negara A dan menemui Nona Bianca."


"Kau jangan gila, Steve!" Amuk William.


"Jika anda tidak turun tangan langsung menyelesaikan masalah ini, saya takut Nona Bianca akan melakukan hal yang ada di luar dugaan kita, Tuan.


"Maksudmu?" William merasa bingung.


"Bisa saja Nona Bianca kembali membawa putrinya untuk menghilang dari jangkauan kita. Jika anda menemuinya, anda bisa melakukan pertemuan secara tiba-tiba dengannya. Dan anda juga bisa menanyakan siapakah ayah dari anak itu."


"Aku sungguh belum siapa bertemu dengannya." Tolak William.


"Saya rasa anda cukup tahu bagaimana Nona Bianca, Tuan. Nona Bianca bukanlah wanita licik seperti mantan anda sebelumnya."


"Ya. Karena itulah aku sungguh merasa bersalah padanya jika anak itu benar-benar anakku, Steve." Helaan nafas William kian melambat. Wajah tampan bulenya sudah nampak kusut. "Hingga saat ini saya masih bingung bagaimana kejadian itu bisa terjadi."


***


Buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update:)


^^^Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!^^^


^^^Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.^^^


^^^- Serpihan Cinta Nauvara (End)^^^


^^^- Oh My Introvert Husband (On Going)^^^


^^^Jangan lupa beri dukungan dengan cara^^^


^^^Like^^^


^^^Komen^^^


^^^Vote^^^


^^^Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya... ^^^