
"Bagaimana keadaan Kyara?" Nafas Rania tersengal-sengal menghampiri Gerry yang baru saja keluar dari dalam ruangan pemeriksaan Kyara.
"Kyara mengalami keram perut yang biasa terjadi pada ibu hamil dan sekarang keadaannya sekarang sudah baik-baik saja."
"Ah syukurlah..." Rania nampak menghela nafas lega.
"Rania..." Gerry nampak menarik nafas dengan berat. "Apa yang Kyara fikirkan hingga membuatnya terlalu banyak pikiran sehingga mengakibatkan keram di perutnya." Tanya Gerry menatap pada Rania dengan tajam.
"Astaga..." Rania menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Akhir-akhir ini kyara memang sering termenung di kamarnya. Saya tidak terlalu bisa memastikan apa yang ia pikirkan. Namun Kyara sempat bercerita tentang bagaimana kehidupan anaknya kelak jika tidak memiliki keluarga yang lengkap. Kyara sepertinya habis membaca novel yang baru saja saya beli beberapa hari yang lalu yang menceritakan nasib seorang anak yang terlahir tanpa ayahnya." Jelas Rania.
"Saya rasa Bapak sudah paham maksud ucapan saya tadi." Lanjutnya kemudian.
Nafas Gerry terbuang begitu saja di udara. "Jika saya masih memiliki kesempatan, saya juga tidak ingin mengakhiri pernikahan kami. Tapi saya sadar, jika saya sudah tidak berhak meminta sedikit apa pun kesempatan itu. Saya sadar sebesar apa kesalahan saya selama ini. Dan sangat mendramakan jika saat ini saya bilang jika saya benar-benar menyesal melakukannya." Ucap Gerry memandang lurus pada lorong kosong di depannya.
"Kenapa Bapak tidak memilih berusaha untuk mendapatkan kesempatan itu? Kenapa Bapak lebih memilih berada di titik menyerah sebelum berjuang?" Tekan Rania.
"Seperti yang saya katakan. Sedikit pun saya sudah tidak pantas untuk mengharapkannya. Sudahlah... Masuklah ke dalam. Mungkin sekarang Kyara sudah sadar dan ingin bertemu denganmu. Saya harap kau bisa menjaganya dengan baik. Jangan sampai ia kembali memikirkan hal-hal yang dapat membahayakan kandungannya. Karna sampai itu terjadi dan menyebabkan Kyara mengalami kontraksi, bayi kami bisa lahir sebelum waktunya." Terang Gerry.
Dua orang manusia yang memiliki tubuh tinggi dan tegap itu nampak berjalan berselisihan di depan pintu rumah sakit. Gerry yang hendak melanjutkan langkahnya seketika berhenti dan mencekal lengan William.
"Bisakah kita bicara sebentar?" Tanya Gerry dengan formal. Tidak ada nada emosi saat ia mengatakannya. "Keadaan Kyara sudah baik-baik saja. Dan saat ini ia sedang istirahat ditemani Rania." Jelas Gerry yang mengetahui jika William ingin segera mengetahui keadaan Kyara.
William sejenak menatap pada dua bola mata Gerry sebelum menyetujui permintaan sahabatnya. Mereka pun mulai berjalan menuju kursi tunggu yang tidak terlalu jauh dari depan rumah sakit.
"Apa saat ini kau masih menyimpan rasa pada istriku?" Tanya Gerry menatap langit yang nampak gelap tanpa bintang.
"Tidak mudah bagiku untuk melupakan seseorang begitu saja. Jelas aku masih menyimpan rasa pada istrimu. Walau aku tahu itu salah. Tapi aku tidak pernah menyesal karna mencintainya." Balas William menyunggingkan senyumnya.
Tangan Gerry nampak terkepal. Wajahnya pun menegang. Namun dengan cepat pria itu menormalkan ekspresinya.
"Aku sedang tidak ingin memintamu untuk berhenti mencintai wanita yang masih menjadi istriku. Kau juga tidak salah ketika mencintainya. Setiap manusia bebas memilih pada siapa ia menjatuhkan hatinya." Ucap Gerry dengan pandangan yang masih setiap menatap pada langit.