
Rania pun membuka profil wanita itu yang untung saja tidak dikunci. "Gadis ini kenapa mirip sekali dengan William?" Ucap Rania memperbesar gambar gadis kecil itu di layar ponselnya. "Mereka memang benar-benar mirip. Tapi... Apa mungkin hanya kebetulan saja?" Ucapnya lagi.
Tak puas melihat satu foto saja, Rania pun membuka semua foto yang ada wajah gadis kecil itu. Dari empat foto yang ada di profil itu, Rania dapat melihat dengan jelas jika wajah gadis kecil itu benar-benar mirip dengan William.
"Kenapa bisa mirip sekali?" Rania meragu.
Tak ingin larut dalam pemikirannya yang mulai kacau, Rania pun memutuskan untuk mematikan layar ponselnya dan masuk ke dalam kamar karena hujan mulai cukup deras.
"Kenapa William belum sampai juga?" Rania tak hentinya berputar mengelilingi ruang tamu untuk menunggu kedatangan suaminya. Setelah merasa lelah berdiri, Rania pun menjatuhkan tubuhnya di atas sofa sambil menghembuskan nafas kasar di udara.
Rania semakin dibuat cemas karena jam sudah semakin naik sedangkan William belum sampai juga di apartemennya. Padahal suaminya itu sudah mengabarinya jika sedang dalam perjalanan pulang sejak satu jam lalu. Rania pun kembali mencoba menghubungi nomor William. Namun sialnya nomor itu sudah tidak aktif.
Perasaannya pun semakin dibuat cemas kala hujan terus bertambah deras diikuti suara petir. "William..." Rania memeluk tubuhnya yang terasa dingin. "Kau membuatku cemas..." Lirih Rania.
Setengah jam kembali menunggu, akhirnya sosok yang dinantikannya datang juga. Rania segera beranjak. Berjalan cepat ke arah suaminya.
"William..." Suara Rania terdengar cemas. "Astaga... Kenapa kau basah kuyup begini?" Ucap Rania memperhatikan air yang terjatuh dari jas yang William kenakan.
"Saat di jalan pulang tadi, ban mobil tiba-tiba bocor. Karena tidak tega melihat Steve mengganti ban seorang diri, aku turun untuk membantunya." Jelas William.
"Tunggulah di sini sebentar. Aku akan mengambilkan handuk untukmu." Ucapnya. Kemudian berjalan dengan terburu-buru menuju kamar yang ada di lantai bawah.
"Pakai ini..." Menyerahkan handuk yang masih terlihat baru kepada William.
William menerimanya. "Terimakasih." Ucapnya sambil mengelus rambut istrinya.
Senyuman terkembang di bibir William, William pun menurut bagaikan kerbau yang dicocok hidungnya. Kau semakin manis jika seperti ini. Pantas saja kau terlihat lebih protektif pada Kyara dibandingkan suaminya. Ternyata kau begitu menyayangi orang-orang di sekitarmu. William merasa begitu bangga bisa memiliki istri seperti Rania.
"Tunggulah sebentar. Aku akan menyiapkan air panas untukmu." Ucap Rania buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.
William tak berdiam diri. Dirinya justru ikut melangkahkan kaki mengikuti Rania masuk ke dalam kamar mandi.
"Hei... Kenapa kau ikut masuk?!" Ucap Rania dengan terpekik.
"Aku tidak suka menunggu. Lebih baik aku memperhatikanmu menyiapkan air hangat untukku."
Apa dia menggodaku? Batin Rania merasa bingung.
"Sudahlah. Lebih baik kau segera mandi. Air hangatnya sudah siap." Ucap Rania.
William memperhatikan wajah Rania yang terlihat polos tanpa polesan bedak. Wanita itu masih terlihat cantik dengan penampilannya yang sederhana sekali pun.
"William... Apa kau tidak mendengarkanku?" Amuk Rania yang merasa diabaikan. Merasa tidak mendapatkan jawaban dari William, Rania berjalan hendak keluar dari dalam kamar mandi.
"William... Apa yang kau lakukan?" Ucap Rania saat lengannya dicekal oleh pria itu.
****
Buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update:)