
Dokter pun mengangguk membenarkan.
"Rania... Kau..." William tak lagi melanjutkan ucapannya karena pria itu buru-buru menghambur memeluk tubuh istrinya yang masih telentang dan mengecupi seluruh wajah istrinya tanpa memperdulikan keberadaan dokter dan perawat di sana.
"Will..." Rania yang sudah merasa sangat malu itu pun mendorong wajah William yang masih saja menciumi wajahnya.
"Aku akan menjadi seorang ayah?" William tak dapat lagi menggambarkan ekspresi kebahagiaannya. Pria itu masih saja tak menyangka dan mengucapkan rasa syukur sebanyak-banyaknya atas nikmat yang telah diberikan kepadanya. Keinginannya yang ingin memiliki seorang keturunan dengan Rania akhirnya terkabulkan sudah. William sungguh merasa senang. Akhirnya penantiannya membuahkan hasil yang maksimal!!
"Aku benar-benar hebat!" Pujinya pada dirinya sendiri.
"Apa maksudmu?" Tanya Rania dengan kening mengkerut.
"Tentu saja aku benar-benar hebat karena telah membuatmu mengandung benihku kurang dari satu bulan!" Serunya tanpa tahu malu.
"Astaga, Will..." Rania semakin malu. Calon ibu itu pun menutup wajahnya untuk menutupi rasa malunya.
Sedangkan dokter dan perawat di ruangan itu nampak menahan tawa melihat tingkah William yang apa adanya.
Akhirnya William dan Rania pun keluar dari ruangan pemeriksaan dengan senyuman terkembang di bibir mereka.
"Terimakasih telah mau mengandung anakku..." Ucap William begitu tulus di telinga Rania. William pun mengelus kepala Rania lalu mengecup singkat kening istrinya.
Rania berkaca-kaca. Ia masih sungguh tidak menyangka akan menjadi seorang Ibu sebentar lagi. "Kita akan menjadi orang tua..." Balas Rania memeluk erat pinggang suaminya.
William tersenyum. Pria itu masih tak menyurutkan senyumannya.
"Ehem." Deheman seorang pria yang sudah berdiri di hadapan mereka membuat senyuman William perlahan menyurut.
"Kau mengganggu kesenanganku saja!" Cecar William karena saat ini Rania telah melepaskan pelukannya di pinggang suaminya.
"Apa kau begitu senangnya karena akan menjadi seorang ayah sebentar lagi, hem?" Goda Dika melihat ekspresi menggelikan William.
"Ya. Tentu saja aku sangat senang! Karena bibitku akhirnya tumbuh di rahim istriku." Balasnya dengan bangga.
Rania yang mendengarkan ucapan kotor suaminya pun refkek mencubit pinggang William.
"Selamat untuk kalian..." Ucap Dika begitu tulus.
William dan Rania sontak tersenyum.
"Terimakasih..." Balas mereka hampir bersamaan.
"Aku doakan semoga kau cepat menyusul..." Seloroh William membuat Dika mendengus.
"Tapi kau jangan membuatnya sendirian. Karena berdua lebih baik dan menghasilkan!" Cibir William kemudian.
"Kau..." Dika merasa geram dengan sahabat baiknya itu. Namun dalam hatinya Dika merasa senang karena sikap William sudah kembali seperti semula. Yang selalu humoris dan hangat.
"Will... Jangan menggodanya..." Ucap Rania merasa tidak enak dengan Dokter Dika.
"Aku tidak menggodanya. Aku hanya mengingatkannya agar cepat menikah!" Seru William mengungkapkan isi hatinya.
"Diamlah!" Ucap Dika merasa jengah.
"Kau itu..." William menggeleng melihat Dika yang selalu tidak suka jika membahas pernikahan.
Kedatangan seseorang yang sudah berada di belakang Dokter Dika membuat Rania mengembangkan senyumannya.
"Dokter Hana!" Sapa Rania pada Dokter Hana.
Mendengar ucapan Rania, Dika pun sontak membalikkan tubuhnya. Matanya pun menatap nyalang pada Dokter Hana yang berada tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.
"Rania..." Ucap Dokter Hana lalu melewati Dika begitu saja. "Kau..." Ucapnya terhenti saat menyadari Rania baru saja keluar dari dalam ruangan dokter Obgyn. "Jangan bilang jika kau sakit karena sedang mengandung?" Tebak Dokter Hana yang diangguki Rania dengan senyuman.
"Oh astaga... Rania..." Dokter Hana buru-buru memeluk Rania. "Selamat..." Lanjutnya kemudian di dalam pelukan Rania.
***
Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya teman-temanâș